ꦧꦸꦢꦪ

Tradisi Yaa Qowiyyu Kembali Hidupkan Spirit Bulan Safar

×

Tradisi Yaa Qowiyyu Kembali Hidupkan Spirit Bulan Safar

Sebarkan artikel ini
Keriuhan massa mengikuti tradisi Ya Qowiyu di Klaten, Jawa Tengah.
Example 468x60

Klaten, Jatimmandiri.id – Ribuan warga dari berbagai daerah memadati Kompleks Sendang Klampeyan, Lapangan Klampeyan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, untuk mengikuti Tradisi Yaa Qowiyyu yang kembali digelar pada Bulan Safar, bulan kedua dalam penanggalan Jawa. Acara yang digelar pada Jumat ( 31/07) itu sudah menyedot perhatian masyarakat sejak pagi meski pembagian apem akan dimulai pukul 13.00.

Perhelatan budaya yang telah berlangsung selama lebih dari empat abad ini kembali menghadirkan prosesi penyebaran puluhan ribu apem, tradisi yang menjadi simbol doa, rasa syukur, sedekah, sekaligus harapan akan keberkahan bagi masyarakat.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Setiap tahun, tradisi Yaa Qowiyyu selalu menjadi magnet bagi masyarakat maupun wisatawan. Sejak pagi, ribuan orang telah memadati kawasan penyelenggaraan untuk menyaksikan prosesi adat hingga mengikuti momen yang paling dinantikan, yakni sebar apem. Antusiasme masyarakat tidak pernah surut karena tradisi ini diyakini membawa nilai spiritual sekaligus memperkuat ikatan kebersamaan antarsesama.

Yaa Qowiyyu merupakan warisan budaya yang pertama kali diperkenalkan oleh Ki Ageng Gribig, ulama sekaligus tokoh penyebar agama Islam di Jawa pada masa awal Kesultanan Mataram Islam. Hingga kini, tradisi tersebut terus dilestarikan sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan beliau dalam menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Puncak acara ditandai dengan penyebaran apem, kue tradisional berbentuk bulat pipih yang dibuat dari tepung beras, santan, dan gula. Dalam kepercayaan masyarakat, apem bukan sekadar makanan, tetapi memiliki makna simbolis sebagai lambang sedekah, permohonan ampun, dan doa agar memperoleh rezeki serta keberkahan hidup. Karena itu, ribuan orang rela berdesakan demi mendapatkan sepotong apem yang dibagikan panitia.

Ketua Dewan Pembina Pengelola Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig (P3KAG), Muhammad Daryanto, menjelaskan bahwa istilah Yaa Qowiyyu berasal dari penggalan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT untuk memohon kekuatan dan rezeki.

Baca Juga  Menelusuri Jejak Peradaban Kuno, Ketika Laut Jawa Masih Menjadi Daratan

“Yaa Qowiyyu, Yaa Aziz, Qowwina wal Muslimin, Yaa Qowiyyu warzuqna wal Muslimin. Ini merupakan doa yang sudah tak asing bagi umat Islam,” ujarnya.

Menurut Daryanto, doa tersebut menjadi ruh dari seluruh rangkaian tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Nilai religius yang terkandung di dalamnya berpadu dengan semangat gotong royong karena seluruh apem yang dibagikan merupakan hasil sedekah masyarakat sekitar.

Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia berhasil menghimpun sekitar 65 ribu keping apem atau sekitar 6,5 ton dari partisipasi warga. Seluruh apem kemudian dibagikan kepada masyarakat melalui prosesi sebar apem yang berlangsung meriah dan penuh antusiasme.
“Diyakini, siapapun yang bisa menangkap kue apem, akan mendapatkan keberkahan hidup,” lanjutnya.

Lebih dari sekadar festival budaya, Tradisi Yaa Qowiyyu menjadi bukti bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern. Perayaan ini tidak hanya menjaga nilai sejarah dan spiritualitas, tetapi juga memperkuat identitas budaya. Dari sisi kebudayaan, tradisi ini merupakan symbol kebersamaan dan kerunkunan.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Benarkah Atlantis berbentuk kota melingkar seperti yang ditulis filsuf Yunani Plato? Pertanyaan itu kembali mengemuka ketika…