Surabaya, Jatimmandiri.id – Dewan Kesenian Surabaya (DKS) memasuki usia ke-55. Peringatan ulang tahun digelar sederhana di Sekretariat DKS, Kompleks Balai Pemuda, Surabaya, Kamis (1/10/2026).
Ketua DKS Chrisman Hadi mengatakan, peringatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk merawat ingatan publik terhadap perjalanan panjang kesenian Surabaya. DKS berdiri sejak 1971 dan telah menjadi bagian dari perkembangan ekosistem seni di kota tersebut.
“Ini kan acara peringatan sederhana, supaya publik di Surabaya tahu bahwa Dewan Kesenian Surabaya ini sudah 55 tahun. Momen penting ini agar teman-teman menyadari bahwa kesejarahan itu tidak boleh dilupakan,” ujar Chrisman.
Menurut Chrisman, perjalanan DKS tidak dapat dilepaskan dari sejumlah seniman yang kemudian memiliki pengaruh besar dalam perkembangan musik dan kebudayaan Indonesia. Nama seperti Franky Sahilatua, Gombloh, dan Leo Kristi menjadi bagian dari sejarah panjang yang pernah tumbuh dalam lingkungan kesenian Surabaya.
Namun, menurut dia, perkembangan seni saat ini menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Generasi muda dinilai memiliki kapasitas dan kualitas karya yang semakin beragam, didukung akses informasi serta teknologi digital.
Kondisi itu terlihat di berbagai bidang, mulai seni rupa, musik hingga tari. Karya-karya berkualitas juga muncul dari kalangan mahasiswa maupun pelajar, termasuk mereka yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi seperti Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan sekolah kejuruan.
“Sekarang jauh lebih cerdas, baik dari sisi karya maupun mutu. Kalau dulu karya berkualitas masih jarang sehingga sosok tertentu sangat menonjol. Sekarang karya berkualitas sangat banyak,” lanjutnya.
Di tengah perkembangan tersebut, Chrisman menyoroti satu hal yang dinilainya penting, yakni kemandirian seniman. Menurutnya, para pelaku seni di Surabaya tetap mampu menjaga aktivitas kreatif dan menghasilkan karya meski dukungan anggaran pemerintah kota belum menjadi sumber pembiayaan yang rutin.
Kemandirian tersebut, lanjut dia, menjadi salah satu kekuatan yang perlu terus dirawat. Ekosistem seni tidak hanya bertumpu pada lembaga atau anggaran, tetapi juga pada kemampuan seniman untuk terus menciptakan karya dan membangun jejaring.
Memasuki usia 55 tahun, DKS berharap perkembangan kesenian Surabaya berlangsung secara alamiah. Para seniman diharapkan semakin matang, dewasa, solid, serta mampu menjaga keberlanjutan karya di tengah perubahan zaman.












