Beritaꦧꦸꦢꦪ

Membaca Sejarah Sundaland Melalui DNA

×

Membaca Sejarah Sundaland Melalui DNA

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi jejak peradaban kuno Sundaland; migrasi manusia, DNA, dan bentang alam yang kini berada di bawah laut.
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

DNA kuno dan genom masyarakat modern dapat membantu menelusuri perpindahan manusia di kawasan Sundaland. Namun, bukti genetika tidak cukup untuk membuktikan keberadaan kota, peradaban tertentu, atau legenda Atlantis.

—————-

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

PERTANYAAN itu menjadi bagian seminar nasional Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bertajuk Rekonstruksi Multidisiplin Peradaban Sundaland, Agustus 2024 lalu. Forum tersebut menggabungkan kajian geologi, paleogeografi, arkeologi, dan arkeogenetika.

DNA menawarkan cara berbeda membaca masa lalu. Jika batuan dan sedimen membantu merekonstruksi perubahan bentang alam, data genetika dapat menelusuri hubungan antarpopulasi dan perpindahan manusia.

AIPI memasukkan arkeogenetika dalam pembahasan tersebut. Prof. Dr. Herawati Sudoyo menjadi salah satu narasumber dengan materi mengenai studi arkeogenetik DNA Indonesia dan kaitannya dengan sejarah leluhur Nusantara.

Kajian genom Asia Tenggara menunjukkan sejarah penduduk kawasan ini sangat kompleks. Analisis genom modern dan DNA kuno menemukan jejak perpindahan serta percampuran populasi dalam rentang waktu panjang.

Salah satu penelitian yang diterbitkan Communications Biology pada 2023 menganalisis 763 genom dari 59 kelompok etnis. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan rekonstruksi perubahan muka laut di kawasan Sundaland.

Studi itu menunjukkan kenaikan muka laut mengurangi luas daratan Sundaland lebih dari 50 persen sejak Zaman Es hingga pertengahan Holosen. Perubahan tersebut beriringan dengan terputusnya sejumlah jembatan darat dan pemisahan populasi manusia.

Temuan itu menunjukkan Sundaland bukan sekadar daratan purba yang kemudian tergenang. Kawasan tersebut juga menjadi ruang yang pernah dilalui, dihuni, dan ditinggalkan berbagai kelompok manusia.

Jejak genetika tidak berarti satu kelompok manusia menetap secara utuh tanpa perubahan. Populasi dapat berpindah, bercampur, menyusut, atau kehilangan sebagian garis keturunannya.

Herawati Sudoyo sebelumnya menjelaskan keragaman genetik masyarakat Indonesia terbentuk melalui pertemuan berbagai kelompok dan proses migrasi. Penelitian terhadap puluhan komunitas menunjukkan latar belakang genetik penduduk Indonesia beragam dan membentuk gradasi dari barat ke timur.

Baca Juga  Sundaland Tenggelam, Atlantis Dicari

Bukti dari Sulawesi

Bukti DNA kuno turut memperlihatkan kompleksitas sejarah manusia di kawasan ini. Di Sulawesi Selatan, genom perempuan pemburu-peramu berusia sekitar 7.200 tahun menunjukkan garis keturunan yang sebelumnya belum diketahui.

Perempuan yang dijuluki Bessé ditemukan di Gua Leang Panninge. Ia diperkirakan berusia 17–18 tahun ketika meninggal dan dikaitkan dengan kelompok Toalean, salah satu budaya pemburu-peramu awal Sulawesi Selatan.

Analisis genom menunjukkan Bessé memiliki hubungan kekerabatan jauh dengan penduduk asli Australia dan masyarakat Papua. Ia juga membawa jejak leluhur yang berbeda dari sejumlah populasi manusia purba yang telah diketahui.

Penemuan itu menjadi laporan pertama DNA manusia purba dari Wallacea, kawasan kepulauan antara Borneo dan Papua. DNA diperoleh dari tulang bagian dalam telinga yang relatif terlindungi.

Namun, hasil tersebut tidak menunjukkan bahwa Bessé merupakan penduduk Sundaland. Temuan itu justru memperlihatkan pentingnya menggabungkan genetika, arkeologi, kronologi, dan lingkungan dalam menelusuri sejarah manusia Asia Tenggara.

DNA Memiliki Batas

DNA sendiri tidak memiliki label yang menyebut seseorang berasal dari “Sundaland” atau pernah menjadi bagian dari suatu peradaban. Genetika dapat membantu menunjukkan hubungan kekerabatan, percampuran populasi, perubahan ukuran populasi, dan kemungkinan jalur migrasi.         Untuk menghubungkannya dengan lokasi tertentu, data tersebut tetap membutuhkan konteks arkeologi, penanggalan, lingkungan, dan bukti material.

Kondisi tropis juga menjadi tantangan. DNA manusia purba lebih sulit bertahan di lingkungan panas dan lembap sehingga jumlah genom kuno dari Asia Tenggara masih terbatas. Pencarian DNA dari wilayah Sundaland yang kini berada di bawah laut pun bukan pekerjaan sederhana.

Peneliti harus terlebih dahulu menemukan konteks arkeologi yang memungkinkan, seperti tulang manusia atau material biologis yang terlindungi dalam sedimen. Jika DNA kuno berhasil ditemukan, hasilnya tidak otomatis menjawab pertanyaan tentang Atlantis.

Baca Juga  Membaca Dasar Laut Jawa

Genetika mungkin menunjukkan manusia pernah hidup atau berpindah melalui kawasan tertentu, tetapi keberadaan kota atau peradaban membutuhkan bukti lain.

Danny Hilman Natawidjaja sebelumnya menekankan perlunya kehati-hatian dalam membahas Atlantis. Dugaan tersebut, menurut dia, harus berhadapan dengan fakta dan argumen ilmiah yang kuat.

Kehati-hatian diperlukan karena klaim mengenai situs purba atau Atlantis tidak dapat hanya didasarkan pada kemiripan bentang alam, penafsiran legenda, atau penanggalan material yang belum terbukti berkaitan dengan aktivitas manusia.

Perdebatan mengenai klaim Gunung Padang, menunjukkan pentingnya hubungan yang jelas antara sampel, artefak, dan fitur yang dapat dikaitkan dengan aktivitas manusia. Di sinilah arkeogenetika memiliki peran penting. Ilmu ini tidak harus membuktikan sebuah legenda untuk memberikan sumbangan bagi sejarah.

Arkeogenetika dapat membantu menjawab pertanyaan lebih mendasar: siapa yang pernah hidup di Asia Tenggara, dari mana mereka datang, bagaimana mereka berpindah, serta bagaimana perubahan lingkungan memengaruhi perjalanan mereka.

Jika suatu hari jejak genetika manusia ditemukan dalam konteks arkeologi Sundaland, temuan itu dapat membuka bab baru sejarah Nusantara. Bukan sebagai jawaban otomatis tentang Atlantis, melainkan sebagai satu potongan bukti untuk memahami manusia yang pernah hidup di dunia yang kini sebagian telah menjadi dasar laut. (*/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Kediri, Jatim Mandiri Bea Cukai Kediri bersama Satpol PP Jombang menemukan modus penjualan rokok ilegal menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi…

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Sundaland pernah menjadi bentang daratan luas dengan air, tanah subur, mineral, gunung, dan laut yang mendukung…