Bagi banyak orang, Laut Jawa dikenal sebagai hamparan laut yang memisahkan Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatra. Namun, ribuan tahun lalu kawasan itu diduga merupakan daratan luas yang menjadi bagian dari Paparan Sunda atau Sundaland.
Pada masa akhir Zaman Es, sekitar 20.000 hingga 8.000 tahun lalu, permukaan laut dunia berada jauh lebih rendah dibandingkan saat ini. Sebagian besar air masih tersimpan dalam lapisan es raksasa di kutub.
Kondisi tersebut membuat wilayah yang kini menjadi Laut Jawa, Selat Karimata, dan Selat Malaka masih berupa daratan. Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, serta Semenanjung Malaya saat itu masih saling terhubung.
Daratan luas itu dikenal sebagai Paparan Sunda. Kawasan tersebut diperkirakan memiliki sungai-sungai besar, hutan tropis, padang rumput, dan menjadi habitat berbagai satwa purba.
Bagi manusia prasejarah, Paparan Sunda diduga menjadi kawasan yang mendukung kehidupan. Ketersediaan air, sumber pangan, dan jalur darat memudahkan aktivitas berburu, meramu, hingga perpindahan antarkawasan.
Dampak Akhir Zaman Es
Perubahan besar mulai terjadi ketika iklim Bumi menghangat pada akhir Zaman Es. Mencairnya lapisan es di kutub menyebabkan permukaan laut naik secara bertahap selama ribuan tahun.
Kajian geologi menunjukkan kenaikan muka laut mencapai lebih dari 100 meter. Proses tersebut menenggelamkan dataran rendah di berbagai belahan dunia, termasuk sebagian besar Paparan Sunda.
Daratan yang sebelumnya menghubungkan pulau-pulau di Nusantara perlahan berubah menjadi laut. Sungai-sungai besar ikut tenggelam dan membentuk dasar Laut Jawa yang dikenal saat ini.
Perubahan bentang alam tersebut diperkirakan berlangsung bertahap. Namun, bagi masyarakat yang hidup pada masa itu, dampaknya kemungkinan sangat besar.
Permukiman yang berada di dataran rendah diduga harus ditinggalkan. Masyarakat diperkirakan berpindah menuju wilayah yang lebih tinggi seiring naiknya permukaan laut.
Jalur Migrasi Manusia
Sejumlah penelitian arkeologi dan genetika menunjukkan kawasan Paparan Sunda menjadi salah satu jalur penting migrasi manusia pada masa prasejarah.
Saat daratan masih menyatu, manusia dapat berpindah dari Asia menuju berbagai wilayah di Nusantara tanpa harus menyeberangi laut yang luas.
Ketika permukaan laut terus naik, jalur darat tersebut terputus. Kondisi itu diduga memengaruhi pola migrasi, persebaran penduduk, hingga perkembangan kebudayaan di kepulauan Indonesia.
Perubahan lingkungan juga mendorong manusia beradaptasi dengan kondisi baru. Mereka mulai memanfaatkan wilayah pesisir dan mengembangkan kemampuan berlayar untuk menjangkau pulau-pulau yang telah terpisah.
Sundaland dan Hipotesis Atlantis
Perubahan besar di Paparan Sunda menjadi salah satu dasar hipotesis yang dikemukakan peneliti independen Indonesia, Dhani Irwanto.
Melalui bukunya Atlantis: The Lost City is in the Java Sea, Dhani Irwanto berpendapat bahwa sejumlah gambaran Atlantis dalam dialog Timaeus dan Critias karya Plato memiliki kemiripan dengan kondisi geografis Paparan Sunda sebelum terendam laut.
Menurut hipotesis tersebut, daratan luas yang kemudian tenggelam akibat kenaikan muka laut dapat menjadi salah satu inspirasi lahirnya kisah Atlantis.
Dhani Irwanto juga menilai beberapa karakteristik yang disebut Plato, seperti wilayah yang luas, keberadaan sungai besar, dataran subur, dan perubahan lingkungan akibat banjir, memiliki kesamaan dengan kondisi Paparan Sunda pada masa prasejarah.
Namun, hingga kini hipotesis tersebut masih menjadi bahan kajian dan diskusi. Belum ada bukti arkeologis yang dapat memastikan bahwa Paparan Sunda merupakan Atlantis sebagaimana diceritakan Plato.
Mencari Jejak Peradaban yang Hilang
Kemajuan teknologi geologi, oseanografi, dan pemetaan dasar laut membuka peluang baru untuk memahami sejarah kawasan yang kini berada di bawah permukaan laut.
Penelitian mengenai Paparan Sunda tidak hanya penting untuk mengungkap perubahan bentang alam, tetapi juga membantu memahami bagaimana manusia beradaptasi terhadap perubahan iklim pada masa lampau.
Di sisi lain, hipotesis Dhani Irwanto turut memperkaya diskusi mengenai kemungkinan hubungan antara perubahan geologi, tradisi lisan, dan kisah Atlantis yang telah bertahan selama lebih dari dua milenium.
Apakah Paparan Sunda benar-benar memiliki kaitan dengan Atlantis masih menjadi pertanyaan terbuka. Hingga kini, jawaban atas pertanyaan tersebut masih menunggu temuan-temuan baru dari penelitian arkeologi, geologi, oseanografi, dan ilmu pengetahuan lainnya.












