BeritaDalam Negeriꦧꦸꦢꦪ

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno, Atlantis, Mitos atau Memori Sejarah?

×

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno, Atlantis, Mitos atau Memori Sejarah?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi peradaban kuno yang dihempas banjir.
Example 468x60

Selama ribuan tahun, Atlantis menjadi salah satu misteri terbesar dalam kajian peradaban manusia. Sebagian kalangan menganggap kisah itu sebagai alegori politik karya Plato. Namun, peneliti lain menilai cerita tersebut mungkin berakar pada peristiwa nyata yang kemudian berkembang menjadi legenda.

Atlantis pertama kali diceritakan filsuf Yunani, Plato, sekitar abad ke-4 SM melalui dialog Timaeus dan Critias. Dalam kisah itu, Atlantis digambarkan sebagai negeri maju yang tenggelam akibat bencana besar dalam satu malam.
Di Indonesia, peneliti independen Dhani Irwanto mengemukakan hipotesis bahwa Atlantis kemungkinan berada di kawasan Paparan Sunda atau Sundaland. Pada akhir Zaman Es, wilayah itu masih berupa daratan luas sebelum terendam kenaikan permukaan laut.
Hipotesis tersebut dipaparkan melalui sejumlah publikasi ilmiah populer dan buku Atlantis: The Lost City is in the Java Sea. Menurut Dhani Irwanto, beberapa ciri geografis yang ditulis Plato memiliki kemiripan dengan kondisi Nusantara pada masa lampau.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Jejak Banjir Besar di Berbagai Peradaban
Kisah mengenai peradaban yang musnah akibat banjir besar tidak hanya ditemukan dalam cerita Atlantis. Tema serupa juga muncul di berbagai peradaban kuno di dunia. Kesamaan pola cerita itu telah lama menjadi objek kajian para ahli mitologi, antropologi, dan sejarah peradaban.
Dalam tradisi Timur Tengah dikenal kisah Nabi Nuh atau Noah. Kisah tersebut menceritakan penyelamatan manusia dan berbagai jenis hewan menggunakan sebuah bahtera saat terjadi banjir besar.
Di India, kitab-kitab kuno mengisahkan tokoh Manu. Dia mendapat peringatan tentang datangnya banjir besar dan membangun perahu untuk menyelamatkan kehidupan.
Sedangkan dalam mitologi Yunani, ada kisah Deucalion dan istrinya, Pyrrha. Mereka dikisahkan selamat dari banjir besar dan memulai kembali kehidupan setelah air surut.
Ketiga kisah itu berasal dari kebudayaan yang berbeda. Namun, semuanya memiliki pola hampir sama. Yakni menggambarkan banjir dahsyat, kehancuran sebuah masyarakat, penyelamatan sebagian manusia, lalu munculnya kehidupan baru.
Kesamaan itu memunculkan pertanyaan di kalangan peneliti. Apakah semua kisah tersebut hanya kebetulan, atau merupakan memori kolektif tentang bencana besar pada masa prasejarah.

Baca Juga  Kendalikan Inflasi dengan Gerakan Pangan Murah

Nusantara Juga Memiliki Cerita Serupa
Tradisi lisan tentang banjir besar juga ditemukan di berbagai wilayah Nusantara. Sejumlah masyarakat adat di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua mengenal kisah naiknya air yang menenggelamkan permukiman lama. Para leluhur kemudian berpindah ke dataran yang lebih tinggi.
Di Jawa berkembang legenda mengenai terbentuknya danau akibat luapan air yang mengubah bentang alam. Di daerah lain terdapat cerita tentang gunung yang menjadi tempat penyelamatan saat air menutupi daratan.
Bentuk ceritanya memang beragam. Namun, tema utamanya relatif sama, yaitu perubahan alam akibat banjir berskala besar.
Para ahli folklor memandang kisah-kisah tersebut sebagai tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sedangkan legenda tidak dapat dijadikan bukti sejarah secara langsung.
Meski begitu, legenda dinilai dapat menyimpan ingatan kolektif masyarakat terhadap peristiwa alam yang pernah terjadi. Seiring waktu, cerita tersebut mengalami penambahan unsur simbolik.

Memori Geologi yang Menjadi Mitologi
Kajian geologi modern menunjukkan bahwa permukaan laut dunia naik lebih dari 100 meter pada akhir Zaman Es. Peristiwa itu terjadi sekitar 12.000 hingga 8.000 tahun lalu akibat mencairnya lapisan es di kutub.
Kenaikan permukaan laut menyebabkan banyak wilayah pesisir perlahan terendam. Salah satunya adalah Paparan Sunda yang dahulu menghubungkan Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.
Perubahan itu mengubah daratan menjadi lautan seperti yang dikenal saat ini. Permukiman, lahan berburu, dan jalur migrasi manusia diduga ikut terdampak.
Sejumlah peneliti berpendapat pengalaman menghadapi perubahan alam tersebut mungkin diwariskan secara lisan. Dalam perkembangannya, cerita itu kemudian menjadi berbagai legenda banjir di banyak kebudayaan.

Antara Mitos dan Sejarah
Hingga kini belum ada bukti arkeologis yang memastikan Atlantis benar-benar pernah ada seperti yang diceritakan Plato. Belum ada pula bukti yang menghubungkan seluruh legenda banjir dengan satu peristiwa yang sama.
Meski demikian, kesamaan tema banjir besar di berbagai peradaban tetap menjadi bahan kajian yang menarik. Para peneliti terus menelaah hubungan antara mitologi, sejarah, dan perubahan lingkungan pada masa lampau.
Sebagian ahli memandang mitos bukan sekadar cerita khayalan. Mitos juga dapat dipahami sebagai memori budaya yang merekam pengalaman kolektif suatu masyarakat.
Karena itu, pertanyaan tentang Atlantis masih terbuka untuk dikaji. Apakah Atlantis hanya mitos, atau bagian dari memori sejarah yang berkembang menjadi legenda? Hal ini masih menjadi pembahasan dalam berbagai disiplin ilmu.
Kajian arkeologi, geologi, oseanografi, antropologi, dan mitologi terus dilakukan. Penelitian tersebut diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai salah satu misteri paling menarik dalam sejarah peradaban manusia. (*/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Selebgram cantik Awkarin mengungkapkan rasa bangganya setelah sang ayah, Mohamad Sulaiman Abidin, resmi memperoleh kenaikan pangkat menjadi perwira tinggi bintang…