Sleman, Jatimmandiri.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman meningkatkan skrining kesehatan mental di sekolah menyusul masih ditemukannya indikasi gangguan kesehatan jiwa pada anak usia sekolah di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman Seruni Angreni Susila mengatakan skrining yang dilakukan terhadap 18.845 anak menunjukkan adanya sejumlah gejala gangguan mental yang perlu mendapat perhatian dan tindak lanjut.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 5,6 persen anak terdeteksi mengalami gejala depresi ringan. Sementara 2,38 persen lainnya menunjukkan indikasi gejala depresi berat.
Selain depresi, hasil skrining juga mencatat 5,25 persen anak mengalami gejala kecemasan ringan dan 2,06 persen menunjukkan gejala kecemasan berat.
“Data ini muncul bukan karena kasus kesehatan mental tiba-tiba melonjak drastis, melainkan karena kebiasaan dan kemampuan kita mencari serta menemukan kasus secara lebih aktif dibanding dulu,” kata Seruni di Sleman, Selasa (18/8).
Menurutnya, deteksi dini dilakukan menggunakan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ), instrumen standar Kementerian Kesehatan yang terdiri dari 15 pertanyaan. Hasil skrining kemudian ditindaklanjuti oleh tim kesehatan jiwa puskesmas, dokter terlatih, hingga psikolog.
Dinkes Sleman juga melengkapi proses deteksi dengan teknologi Heart Rate Variability (HRV) untuk membantu memantau kondisi anak.
Selain kesehatan mental, petugas turut memetakan risiko gaya hidup pada anak. Salah satunya terkait kebiasaan merokok. Hasil pemantauan menunjukkan sekitar 4,14 persen anak usia pemula sudah terdeteksi mulai aktif merokok.
Seruni menilai tingginya paparan informasi melalui media sosial turut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kondisi emosional anak dan remaja.
“Fenomena gangguan emosional pada remaja disinyalir terpengaruh oleh tingginya paparan informasi di media sosial yang memicu distraksi mental,” ujarnya.
Di sisi lain, hingga pertengahan Agustus 2026 tercatat 15 kasus bunuh diri di wilayah hukum Sleman. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sepanjang 2025 yang tercatat tujuh kasus.
Kasus tersebut melibatkan warga lokal maupun penduduk sementara dengan berbagai latar belakang persoalan, mulai dari masalah keluarga hingga tekanan ekonomi. Namun, Dinkes Sleman menegaskan kondisi tersebut belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).
Pemkab Sleman merespons kondisi tersebut dengan memperkuat deteksi dini serta menyediakan layanan kesehatan jiwa yang terhubung di seluruh puskesmas dan dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis.
Penguatan ketahanan keluarga juga terus didorong. Orang tua diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, termasuk mengawasi penggunaan media digital dan aktivitas anak di luar rumah.
Selain itu, Pemkab Sleman melalui DP3AP2KB menjalankan Gerakan Ayah Sayang Anak (GASA). Program tersebut mendorong peran ayah agar lebih aktif berkomunikasi dengan anak sehingga mereka terbiasa menyampaikan persoalan kepada keluarga.
Dinkes Sleman mengimbau masyarakat tidak ragu memanfaatkan layanan kesehatan mental di puskesmas terdekat apabila menemukan gejala gangguan psikologis pada anggota keluarga.












