Yogyakarta, Jatimmandiri.id — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah terus mendorong penguatan sektor pertanian dengan mengoptimalkan peran Jamaah Tani Muhammadiyah (JTM) di berbagai daerah.
Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah M Nurul Yamin mengatakan, saat ini lebih dari 5.000 petani telah terkonsolidasi dalam JTM dengan beragam komoditas dan produk pertanian.
“Kita mengembangkan beberapa varietas unggulan di varietas padi ini, juga di bidang sayur maupun di bidang perkebunan serta peternakan,” katanya di Yogyakarta, Kamis (24/9).
Selain peningkatan produktivitas, Muhammadiyah juga memberi perhatian pada regenerasi petani. Kaderisasi diarahkan kepada generasi Z dan milenial, termasuk melibatkan mahasiswa pertanian dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
Menurut Yamin, regenerasi menjadi penting karena mayoritas anggota JTM saat ini merupakan petani berusia lanjut.
“Menjadi tantangan untuk masa depan pertanian kita. Bagaimana pelaku pertanian ini bisa mewariskan kepada generasi yang akan datang,” katanya.
Muhammadiyah juga melihat tantangan sektor pertanian tidak hanya berasal dari sumber daya manusia, tetapi juga kondisi cuaca. Kekeringan yang terjadi di sejumlah daerah dinilai membutuhkan pendekatan pertanian yang lebih adaptif.
“Pendekatan ilmu pengetahuan untuk pertanian lahan kering menjadi sangat penting dalam konteks ini,” ujarnya.
Salah satu upaya yang dikembangkan adalah pertanian perkotaan atau urban farming dengan memanfaatkan lahan yang tersedia di wilayah perkotaan.
“Paling tidak untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga,” katanya.
Sementara itu, petani muda asal Temanggung, Jawa Tengah, Muhammad Fadilah Al-Amin menyoroti masih minimnya minat generasi Z untuk terjun ke sektor pertanian.
“Banyak Gen Z itu berpikir bahwa petani itu kotor,” katanya.
Ia berharap berbagai forum pertanian yang digelar Muhammadiyah dapat mengubah pandangan tersebut dan mendorong anak muda melihat pertanian sebagai sektor yang bisa dikembangkan.
“Dari sini mungkin bisa membuka wawasan kepada Gen Z bahwa pertanian itu bisa dimajukan oleh Gen Z itu sendiri,” ujarnya.
Menurut Fadilah, ketersediaan lahan pertanian di daerahnya masih cukup luas. Namun, banyak anak muda lebih memilih bekerja di perusahaan, menjadi pegawai, maupun merantau.
“Anak-anak muda sekarang malah pada perginya kerja ke perusahaan, jadi pegawai dan merantau,” katanya.












