HeadlineMetropolitan

Cita-cita Kuliah Kandas, Tangis Keluarga Pecah saat Legislator PDIP Melayat Pelajar Korban Penganiayaan

×

Cita-cita Kuliah Kandas, Tangis Keluarga Pecah saat Legislator PDIP Melayat Pelajar Korban Penganiayaan

Sebarkan artikel ini
Di hadapan Anas Karno, keluarga mendiang Thomas terisak usai menceritakan semasa hidup pelajar SMAN 11 Surabaya itu.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id – Suasana duka masih menyelimuti kediaman keluarga Thomas Julius Kristianto (19) di kawasan Kelurahan Manukan Kulon, Kecamatan Tandes, Surabaya.

Rumah yang biasanya tenang kini dipenuhi isak tangis keluarga yang masih sulit menerima kepergian remaja kelas XII SMAN 11 Surabaya tersebut.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Thomas meninggal dunia akibat luka berat usai dianiaya sekelompok pelajar.

Di tengah suasana yang memilukan itu, Sekretaris Komisi A DPRD Surabaya, Anas Karno, hadir langsung untuk menyampaikan belasungkawa.

Kedatangan sang legislator dari Fraksi PDIP ini disambut tangis pilu keluarga yang kembali menuturkan detik-detik terakhir sebelum Thomas ditemukan dalam kondisi kritis.

Tante korban, dengan suara terbata-bata, menceritakan bahwa Thomas berpamitan keluar rumah pada Sabtu malam, 30 Mei 2026 hanya untuk membeli paket data dan mencari makan.

Tak ada firasat buruk, namun malam itu justru menjadi pertemuan terakhir mereka.

“Bilangnya cuma pamit cari makan sebentar. Kalau saya tahu akan terjadi seperti ini, pasti saya cegah atau saya antar sendiri,” ujarnya sembari terisak.

Thomas sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Dr Soetomo.

Namun, luka serius yang diderita akibat aksi kekerasan tersebut tak tertolong.

“Operasinya gagal karena otaknya bengkak. Kata dokter banyak pukulan benda tumpul yang menyebabkan kondisinya semakin parah,” lanjutnya.

Di hadapan Anas Karno, keluarga dengan tegas meminta aparat penegak hukum untuk mengusut kasus ini hingga tuntas.

Mereka berharap pelaku yang merenggut nyawa Thomas mendapatkan hukuman setimpal.

“Saya minta keadilan untuk Thomas. Saya mohon kasus ini diusut sampai tuntas. Anak yang saya asuh dari kecil harus pergi dengan keadaan seperti ini,” ucapnya dengan suara bergetar.

Baca Juga  BBWS Brantas Percepat Normalisasi Sungai Kalianak, Muhammad Noor: Demi Kurangi Risiko Banjir Surabaya

Thomas dikenal sebagai sosok yang pendiam dan membanggakan. Sebagai penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP), ia memiliki tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah setelah lulus SMA.

“Dia anak yang baik, tidak pernah membuat masalah. Bahkan sudah punya rencana kuliah. Kami tidak pernah mendengar dia punya musuh,” tambahnya.

Anas Karno yang mendengar langsung kesaksian tersebut menyampaikan keprihatinan mendalam.

Ia mendesak pihak kepolisian untuk mengawal proses hukum hingga tuntas agar keluarga mendapatkan kepastian hukum dan rasa keadilan.

“Ini bukan sekadar kasus kriminal biasa. Ada seorang remaja yang memiliki masa depan, penerima beasiswa, yang bercita-cita melanjutkan pendidikan, tetapi harus kehilangan nyawa secara tragis. Negara harus hadir memberikan keadilan bagi keluarga,” tegas Anas.

Wakil Ketua Bidang Advokasi dan Hukum DPC PDIP Surabaya ini juga menyoroti rentetan aksi kriminal yang belakangan terjadi di Surabaya.

Mulai dari penganiayaan pelajar hingga kasus penjambretan yang merenggut nyawa seorang ASN.

Menurut Anas, serangkaian kejadian ini harus menjadi alarm serius bagi pemerintah kota dan aparat keamanan.

“Jangan sampai warga Surabaya merasa takut ketika keluar rumah. Keamanan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Kejadian yang merenggut nyawa seperti ini tidak boleh dianggap biasa,” ujarnya.

Sebagai Sekretaris Komisi A, Anas mendorong sinergi yang lebih solid antara kepolisian, Satpol PP, perangkat wilayah, hingga Command Center 112.

Ia mendesak kepolisian untuk meningkatkan patroli pemberantasan pelaku kejahatan, sementara Pemkot Surabaya diminta mengoptimalkan fungsi CCTV dan mempercepat respons layanan darurat 112.

Terkait penanganan kasus ini, Anas mengapresiasi gerak cepat Polrestabes Surabaya yang telah menetapkan empat remaja berinisial CJF, AAY, KVRL, dan RU sebagai tersangka.

“Tindakan cepat ini setidaknya bisa memberikan rasa tenang terhadap keluarga korban yang menuntut keadilan,” tutup Anas.

Baca Juga  Anak Buruh Tani Jadi Lulusan Terbaik Predikat Cendekia Bintara Kemampuan Brimob di SPN Polda Jatim

Hingga saat ini, pihak kepolisian masih terus mendalami kasus untuk memastikan proses hukum berjalan transparan dan tuntas.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *