Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Atlantis telah lama hidup di antara karya filsafat, pencarian sejarah, kebanggaan kebangsaan, dan imajinasi masyarakat. Namun, ketika memasuki ruang ilmu pengetahuan, kisah itu harus tunduk pada data dan pengujian.
——————————————
Sebagian orang meyakini Atlantis sebagai peradaban yang hanya menunggu ditemukan. Sebagian lainnya menganggapnya dongeng yang tidak layak lagi memperoleh perhatian akademis.
Geolog Danny Hilman Natawidjaja memilih berada di antara dua pandangan tersebut. Ia membuka ruang penelitian, tetapi menempatkan pembuktian sebagai syarat utama sebelum sebuah dugaan dapat diterima sebagai fakta.
“Saya dari sisi akademisi. Dalam lingkungan akademisi, cara memandang Atlantis, sebagian masih menganggap dongeng,” kata Danny kepada Jatim Mandiri, pekan lalu.
Pernyataan itu menggambarkan tantangan ketika tema populer dibawa ke ruang akademis. Ilmuwan harus menjaga rasa ingin tahu tanpa menjanjikan kesimpulan yang belum ditopang bukti.
Membicarakan Atlantis dalam forum ilmiah tidak berarti meminta peneliti mempercayai legenda. Tapi kisah tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk merumuskan pertanyaan mengenai peradaban, bencana purba, dan perubahan lingkungan.
Sebuah tema juga dapat menjadi objek penelitian tanpa lebih dahulu diterima sebagai fakta. Hipotesis memperoleh kesempatan untuk diuji, tetapi tidak memiliki hak istimewa untuk langsung dipercaya.
Dalam proses itu, skeptisisme berfungsi memeriksa sumber, metode, data, penafsiran, dan kemungkinan penjelasan lain. Hasil penelitian bahkan dapat menggugurkan dugaan awal.
Danny sebelumnya mengingatkan perlunya kehati-hatian ketika klaim Atlantis dibawa ke forum ilmiah. Naskah Timaeus dan Critias karya Plato umumnya belum diterima sebagai bukti sejarah yang terverifikasi.
Klaim yang menempatkan Atlantis di Laut Jawa juga berhadapan dengan pengetahuan arkeologi dan sejarah yang telah tersedia. Karena itu, kemiripan antara deskripsi Plato dan suatu bentang alam belum cukup menjadi pembuktian. “Artinya tidak bisa dikemukakan dengan ‘ringan’, tapi harus ada fakta keras dan argumen ilmiah yang ‘extraordinary’,” ujar Danny, seperti diberitakan Mongabay Indonesia.
Pernyataan itu memperjelas perbedaan antara kemungkinan, petunjuk, dan kesimpulan. Semakin besar suatu klaim, semakin kuat pula bukti yang harus diajukan dan dibuka untuk pemeriksaan peneliti lain.
Tantangan semakin besar ketika Atlantis dikaitkan dengan Nusantara. Pembahasan ilmiah dapat bergeser menjadi kebanggaan terhadap kejayaan masa silam, atau keyakinan yang mendahului pembuktian.
Kebanggaan dapat menumbuhkan minat terhadap sejarah dan penelitian. Namun, harapan berlebihan berisiko mengaburkan batas antara kondisi geografis yang telah diketahui dan klaim peradaban yang belum terbukti.
Sundaland merupakan istilah ilmiah untuk daratan luas yang pernah mencakup Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan sebagian Asia Tenggara. Kawasan itu terbentuk ketika permukaan laut lebih rendah pada masa glasial.
Keberadaan Sundaland sebagai bentang geografis purba tidak otomatis membuktikan bahwa kawasan tersebut merupakan Atlantis. Keduanya memiliki kedudukan ilmiah berbeda.
Perubahan muka laut, lingkungan purba, dan perjalanan manusia di Sundaland dapat diteliti melalui geologi, paleogeografi, arkeologi, dan genetika. Identifikasi kawasan itu sebagai Atlantis masih memerlukan bukti tersendiri.
Ruang akademis untuk mempelajari Sundaland pernah dibuka Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bersama Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia melalui seminar nasional pada Agustus 2024.
Danny menjadi pembicara kunci dari bidang geologi. Forum tersebut juga menghadirkan kajian paleogeografi, arkeogenetika, arkeologi, dan pelindungan warisan budaya.
AIPI menyatakan pendekatan multidisiplin diperlukan untuk merekonstruksi sejarah dan prasejarah Nusantara. Pendekatan itu memungkinkan satu dugaan diperiksa menggunakan data dari berbagai bidang.
Forum akademis itu menunjukkan bahwa masa lalu Sundaland layak diteliti. Namun, pembahasan oleh lembaga keilmuan tidak dengan sendirinya mengesahkan seluruh klaim mengenai Atlantis.
Geolog Andang Bachtiar turut menilai penelitian harus dimulai dengan penghimpunan data lintas lembaga dan perguruan tinggi. “Satukan basis data yang ada, sebagai kajian awal,” ujarnya dalam laporan Mongabay Indonesia.
Penyatuan data dapat membantu peneliti membandingkan temuan geologi, oseanografi, arkeologi, paleoklimatologi, dan antropologi. Setiap bidang dapat menguji bagian berbeda dari suatu hipotesis.
Penelitian lanjutan juga memerlukan pemetaan dasar laut beresolusi tinggi, analisis sedimen, penentuan usia, serta temuan arkeologis dengan konteks yang jelas. Hasilnya harus dapat diperiksa dan diuji ulang.
Tanpa artefak, struktur buatan manusia, atau bukti lain yang dapat diverifikasi, klaim mengenai letak Atlantis belum dapat bergerak dari hipotesis menuju kesimpulan ilmiah.
Namun, ketiadaan bukti saat ini bukan alasan untuk mengejek suatu gagasan. Di sisi lain, keadaan tersebut juga tidak boleh diubah menjadi pembenaran bahwa bukti pasti akan ditemukan kemudian.
Kehati-hatian diperlukan karena masyarakat sering menerima kesimpulan tanpa mengikuti proses penelitian. Temuan sementara dapat berubah menjadi kepastian setelah dipendekkan dalam judul atau unggahan media sosial.
Istilah “diduga”, “diperkirakan”, dan “belum terverifikasi” terkadang dianggap melemahkan sebuah temuan. Padahal, istilah itu membantu pembaca memahami batas pengetahuan yang tersedia.
Ilmuwan perlu menjelaskan bagian yang telah diketahui, bagian yang masih diperdebatkan, dan bukti yang belum ditemukan. Keterbukaan itu menjaga kepercayaan ketika kesimpulan berubah karena munculnya data baru.
National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine menyebut ilmu pengetahuan selalu memiliki tingkat ketidakpastian. Komunikasi sains perlu menjelaskan ketidakpastian itu secara tepat serta mempertimbangkan nilai dan keyakinan masyarakat.
Pendekatan tersebut relevan dalam pembahasan Atlantis. Peneliti tidak perlu menyerang orang yang mempercayainya. Tapi juga tidak boleh mengubah dugaan menjadi fakta demi memenuhi harapan publik.
Sementara itu, media memikul tanggung jawab serupa. Peliputan tidak harus memilih antara mengumumkan “Atlantis ditemukan” atau menutup seluruh pembahasannya sebagai cerita tanpa nilai penelitian.
Pernyataan peneliti, hasil pengamatan, tafsir, kritik, dan kesimpulan harus ditempatkan sebagai kategori berbeda.
Atlantis hingga kini masih berada dalam wilayah hipotesis. Namun, penelitian yang disiplin tetap dapat memperluas pengetahuan mengenai Sundaland, perubahan muka laut, bencana purba, dan perjalanan manusia di Nusantara. (*/ibn)












