Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Laut Jawa menyimpan jejak Sundaland yang terus diteliti BRIN, sementara hipotesis Dhani Irwanto menunjuk perairan dekat Bawean sebagai kemungkinan lokasi ibu kota Atlantis.
——————————-
Pertemuan data geologi, oseanografi, dan paleoklimat membuka peluang penelitian peradaban kuno. Meski demikian, keberadaan kota legendaris tersebut masih membutuhkan bukti ilmiah yang lebih kuat.
Misteri Atlantis kembali mengemuka seiring penelitian tentang Sundaland, daratan purba yang dahulu menghubungkan Sumatera, Jawa, dan Kalimantan ketika permukaan laut masih lebih rendah.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempelajari kawasan tersebut untuk memahami sejarah geologi dan mengantisipasi kebencanaan.
Dari penelitian itu, data yang terkumpul juga membuka peluang penelitian mengenai perubahan lanskap dan sejarah manusia. Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menilai penelitian lintas disiplin penting untuk memperluas pemahaman tentang Sundaland.
“Kolaborasi multidisipliner diharapkan dapat memberikan sumbangan berharga dalam mencapai tujuan tersebut, serta berkontribusi positif bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat,” tutur Adrin.
Pertengahan 2024 lalu, penelitian BRIN di Teluk Jakarta menggunakan data seismik dua dimensi sepanjang sekitar 5.000 kilometer serta 10 titik pemboran laut hingga kedalaman 150 meter.
Kajian itu mengungkap rekaman perubahan muka laut dan lapisan sedimen yang membentuk wilayah utara Jawa. Namun, publikasi data geofisika dan sedimentologi Laut Jawa masih terbatas.
Di tengah upaya mengungkap sejarah Sundaland, ahli teknik hidrologi Dhani Irwanto mengajukan hipotesis bahwa ibu kota Atlantis berada di Laut Jawa, dekat Pulau Bawean, Kabupaten Gresik.
“Hasil penelitian saya, kotanya, ibu kota Atlantis itu ada di Laut Jawa,” kata Dhani dalam diskusi daring yang diselenggarakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada 2021. Dhani meneliti dialog Timaeus dan Critias karya Plato sejak 2010.
Ia mempelajari bahasa Yunani Kuno dan membandingkan narasi tersebut dengan data dari berbagai disiplin ilmu. Menurutnya, terdapat kesesuaian antara gambaran Plato dan kondisi Sundaland, mulai iklim tropis, curah hujan, tanah subur, jaringan sungai, hingga tradisi maritim.
Dhani menunjuk Gosong Gia atau Annie Florence Reef, sekitar 150 kilometer timur laut Pulau Bawean, sebagai kemungkinan lokasi pusat Atlantis. Terumbu berbentuk lingkaran itu, menurut Dhani, memiliki kemiripan dengan gambaran kota bercincin konsentris dalam tulisan Plato.
“Dinding orichalcum masih kelihatan, tertutup terumbu karang, tapi masih kelihatan polanya,” ujarnya. Dhani memperkirakan kawasan tersebut mengalami kehancuran sekitar 11.600 tahun lalu akibat gempa dan tsunami, kemudian tenggelam seiring kenaikan permukaan laut.
Dia menemukan sekitar 60 kecocokan antara deskripsi Plato dan hasil penelitiannya. Namun ungkapan Dhani masih berstatus hipotesis. Dan Atlantis di Laut Jawa belum menjadi kesimpulan ilmiah final.
Peneliti Geoteknologi LIPI, yang kini menjadi bagian dari BRIN, Danny Hilman Natawidjaja mengingatkan bahwa argumen mengenai Atlantis harus didukung bukti yang kuat. “Artinya tidak bisa dikemukakan dengan ‘ringan’ tapi harus ada fakta keras dan argumen ilmiah yang ‘extraordinary’,” ujarnya.
Kemiripan antara narasi kuno dan kondisi geografis, menurut pendekatan ilmiah, belum cukup membuktikan keberadaan sebuah peradaban. Karena itu, diperlukan penyatuan data dan penelitian lintas disiplin, termasuk geologi, oseanografi, arkeologi, paleoklimat, dan antropologi.
BRIN juga membuka peluang penelitian lanjutan melalui International Ocean Discovery Program dan International Continental Scientific Drilling Program.
Survei bawah laut yang lebih terpadu, pemetaan geofisika beresolusi tinggi, serta pemboran inti dinilai dapat membantu menjawab; apakah dasar Laut Jawa menyimpan struktur buatan manusia atau semata bentukan alam.
Hingga kini, Atlantis di Laut Jawa masih berada dalam wilayah hipotesis. Namun, Sundaland tetap menjadi kawasan penting untuk diteliti karena menyimpan rekaman perubahan muka laut, dinamika lingkungan, dan perjalanan manusia selama ribuan tahun.
Di bawah gelombang Laut Jawa, misteri itu masih menunggu satu jawaban yang dapat menjembatani keyakinan dan skeptisisme; bukti ilmiah. (*/ibn)












