JATIMMANDIRI.ID – Pemerintah Kabupaten Bantul terus memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat. Salah satu langkah yang ditempuh adalah membentuk Bunda Literasi hingga tingkat kapanewon dan kalurahan untuk menggerakkan minat baca sekaligus membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantul, Dian Mutiara Sri Rahmawati, mengatakan pengurus Bunda Literasi telah resmi dikukuhkan untuk masa bakti 2026–2029. Kehadiran mereka diharapkan menjadi mitra pemerintah dalam menghidupkan budaya membaca di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
“Peran Bunda Literasi adalah menjadi penggerak budaya gemar membaca dan belajar sepanjang hayat. Harapannya masyarakat Bantul semakin haus akan ilmu pengetahuan dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Dian, Selasa (21/7).
Menurutnya, gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan literasi sejak lingkungan terkecil, yakni keluarga. Untuk mendukung program itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan juga telah menyiapkan pedoman teknis sebagai acuan bagi Bunda Literasi di tingkat kapanewon dan kalurahan.
Nantinya, para Bunda Literasi akan berkolaborasi dengan sekolah, komunitas literasi, Tim Penggerak PKK, hingga berbagai organisasi masyarakat dalam menyelenggarakan beragam kegiatan yang mendorong minat baca.
Pemkab Bantul menargetkan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) masyarakat pada 2026 mencapai angka 56, meningkat dibanding realisasi tahun sebelumnya sebesar 55,93. Peningkatan tersebut diharapkan ikut mendongkrak Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).
Salah satu program yang akan digencarkan adalah mengajak setiap keluarga memiliki pojok baca atau perpustakaan mini di rumah. Menurut Dian, tidak diperlukan ruang khusus ataupun koleksi buku dalam jumlah besar. Cukup menyediakan satu rak buku agar kebiasaan membaca bisa dimulai dari rumah.
“Tidak harus seperti perpustakaan yang ideal. Yang penting setiap keluarga punya tempat untuk menyimpan buku dan membiasakan membaca, meski hanya beberapa halaman setiap hari,” katanya.
Ia menilai kebiasaan membaca menjadi tantangan tersendiri di era digital ketika anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu menggunakan gawai. Karena itu, peran orang tua, khususnya ibu, dinilai sangat penting dalam menumbuhkan budaya literasi sejak usia dini.
Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Bantul Emi Masruroh Halim mengatakan sebanyak 93 Bunda Literasi dari tingkat kabupaten, kapanewon, hingga kalurahan telah dikukuhkan. Mereka diharapkan menjadi motor penggerak literasi di wilayah masing-masing.
“Gerakan ini kami harapkan bisa menginspirasi masyarakat untuk semakin mencintai ilmu pengetahuan. Ketika masyarakat gemar belajar, mereka akan lebih siap menghadapi perubahan zaman,” ujarnya.
Dengan gerakan tersebut, Pemkab Bantul berharap budaya membaca tidak berhenti sebagai program pemerintah, tetapi menjadi kebiasaan yang tumbuh di setiap keluarga sebagai bekal membangun masyarakat yang lebih cerdas, berdaya saing, dan sejahtera.












