Jogja

UMY Kembangkan Lima AI untuk Bantu Deteksi Kanker hingga Penyakit Jantung

×

UMY Kembangkan Lima AI untuk Bantu Deteksi Kanker hingga Penyakit Jantung

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

YOGYAKARTA, Jatim Mandiri – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di dunia kesehatan terus berkembang. Tak lagi sekadar membantu pekerjaan administrasi, teknologi ini kini mulai dimanfaatkan untuk mendukung tenaga medis dalam mendeteksi berbagai penyakit secara lebih cepat dan akurat. Salah satu inovasi terbaru datang dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berhasil mengembangkan lima prototipe AI untuk membantu identifikasi sejumlah penyakit, mulai dari limfoma, tumor otak, kanker payudara, hingga penyakit jantung.

Kelima prototipe tersebut diperkenalkan dalam The 10th International Conference on Sustainable Innovation (ICoSI) 2026 yang digelar di Yogyakarta. Guru Besar UMY bidang Kecerdasan Buatan Terapan, Prof. Slamet Riyadi, mengatakan seluruh aplikasi dikembangkan sebagai alat bantu bagi tenaga kesehatan, bukan untuk menggantikan keputusan dokter dalam proses diagnosis.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“Seluruh aplikasi ini dirancang sebagai alat bantu dan bukan sebagai pengganti evaluasi profesional dari praktisi kesehatan,” kata Slamet.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah LymphoScan, aplikasi berbasis web yang mampu menganalisis citra mikroskopis guna membantu mendeteksi beberapa jenis limfoma maligna, seperti Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL), Follicular Lymphoma (FL), dan Mantle Cell Lymphoma (MCL). Teknologi tersebut bekerja dengan mengenali pola sel melalui citra digital sehingga dapat memberikan hasil analisis awal dalam waktu relatif singkat.

Selain itu, tim peneliti UMY juga mengembangkan BrainDetect, sebuah sistem yang dirancang untuk membantu mengidentifikasi jenis tumor otak melalui citra Magnetic Resonance Imaging (MRI). Aplikasi tersebut tidak hanya memberikan hasil klasifikasi, tetapi juga menyertakan tingkat keyakinan (confidence score) terhadap hasil prediksi yang ditampilkan.

Di bidang deteksi kanker payudara, UMY menghadirkan myDBT-Enhance, aplikasi yang berfungsi meningkatkan kualitas citra mamografi. Dengan kualitas gambar yang lebih baik, tenaga medis diharapkan lebih mudah melakukan proses skrining sehingga potensi kelainan dapat dikenali lebih dini.

Baca Juga  Sleman Bukukan Investasi Rp931,7 Miliar pada Triwulan II 2026, Serap 2.448 Tenaga Kerja

Tidak hanya berfokus pada penyakit kanker, para peneliti juga mengembangkan teknologi AI untuk penyakit tidak menular lainnya. Prototipe myHeartD v3 dirancang untuk memperkirakan risiko penyakit jantung koroner berdasarkan data yang diperoleh melalui kuesioner pasien. Sementara itu, myStressD memanfaatkan citra wajah pada perangkat seluler untuk membantu mendeteksi kondisi stres seseorang.

Menurut Slamet, seluruh prototipe tersebut telah memperoleh perlindungan hak cipta dan menjalani pengujian di laboratorium dengan tingkat akurasi yang tinggi. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah sistem AI tidak hanya diukur dari besarnya angka akurasi.

Menurut dia, penerapan teknologi kecerdasan buatan di bidang kesehatan harus mempertimbangkan berbagai aspek lain, seperti kecepatan proses, kebutuhan memori perangkat, hingga kesesuaian penggunaan di lingkungan layanan kesehatan. Karena itu, evaluasi sistem AI tidak cukup hanya melihat satu parameter, melainkan juga dampaknya terhadap praktik klinis.

Dalam proses pengembangannya, tim UMY memanfaatkan berbagai arsitektur deep learning seperti Convolutional Neural Network (CNN), VGG, hingga EfficientNet untuk mengolah citra medis. Sistem tersebut juga dilengkapi teknologi explainable AI seperti Grad-CAM dan LIME sehingga proses pengambilan keputusan oleh AI dapat ditelusuri oleh tenaga medis. Pendekatan ini dinilai penting agar hasil analisis tidak hanya akurat, tetapi juga transparan dan mudah dipahami.

Slamet menambahkan, riset yang menjadi dasar pengembangan lima prototipe tersebut mencakup empat bidang utama, yakni pencitraan dada dan sistem pernapasan, risiko penyakit kardiovaskular dan metabolik, pencitraan kanker, serta kesehatan mental dan biosinyal. Menurutnya, pengembangan AI di sektor kesehatan akan terus dilakukan agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Pengembangan teknologi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perguruan tinggi di Indonesia mulai berperan aktif dalam menghadirkan solusi berbasis AI untuk mendukung pelayanan kesehatan. Meski demikian, penggunaan teknologi tetap membutuhkan pendampingan tenaga medis sehingga keputusan akhir dalam diagnosis dan penanganan pasien tetap berada di tangan dokter.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *