Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Kuliner khas pesisir Sidoarjo, seperti kupang lontong dan bandeng asap, mulai dikembangkan dengan teknologi kemasan retort untuk memperpanjang daya simpan tanpa menggunakan bahan pengawet. Inovasi tersebut membuka peluang produk kuliner lokal menembus pasar luar daerah hingga jaringan ritel modern.
Teknologi retort merupakan proses sterilisasi komersial menggunakan pemanasan dan tekanan tinggi. Melalui teknologi tersebut, produk olahan hasil laut dapat dikemas secara lebih higienis dan disimpan dalam suhu ruang selama berbulan-bulan.
Penerapan teknologi tersebut menjadi bagian dari program penumbuhan wirausaha baru hasil sinergi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Pelaku UMKM di kawasan pesisir mendapatkan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas pengemasan produknya.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Sidoarjo Mochammad Hudori mengatakan, standardisasi kemasan menjadi salah satu fokus pemerintah daerah untuk mendorong produk kuliner lokal naik kelas.
“Sidoarjo ini kaya akan potensi kuliner pesisir, namun kelemahannya selama ini ada pada daya tahan produk. Melalui program kolaborasi ini, kami memfasilitasi dan mengedukasi para pelaku usaha untuk menerapkan teknologi retort. Target Pemkab Sidoarjo jelas, kami ingin melakukan standardisasi pengemasan modern agar Kupang Lontong maupun Bandeng Asap memiliki nilai jual lebih tinggi, memenuhi standar klinis retail modern, dan siap naik kelas bersaing di kancah nasional,” ujar Mochammad Hudori, Senin (28/9).
Selama ini, daya tahan menjadi salah satu kendala produk makanan laut untuk dipasarkan ke luar daerah. Dengan kemasan retort, produk dapat memiliki masa simpan lebih panjang sehingga distribusi dapat dilakukan dalam jangkauan yang lebih luas.
Dampak penerapan teknologi tersebut dirasakan Siti Mutmainah (41), pelaku UMKM kuliner asal Sedati. Ia mengatakan perubahan sistem pengemasan turut memperluas pasar sekaligus meningkatkan penjualan produknya.
“Dulu kalau kirim bandeng asap atau kupang ke luar kota selalu takut basi di jalan karena cuma bertahan 24 jam. Sekarang, setelah pakai kemasan kempa panas retort ini, makanan bisa awet sampai enam bulan dan rasa autentiknya tidak berubah. Inovasi ini benar-benar mendongkrak omzet penjualan kami hingga dua kali lipat karena jangkauan pasar meluas sampai ke Jakarta, Bandung, bahkan luar Pulau Jawa. Konsumen luar kota kini bisa makan kupang khas Sidoarjo kapan saja dengan praktis,” ungkap Siti Mutmainah penuh syukur.
Penggunaan teknologi retort membuat produk khas Sidoarjo tidak lagi bergantung pada penjualan secara langsung di kawasan asalnya. Produk dapat dikemas, disimpan, dan didistribusikan lebih jauh dengan tetap mempertahankan cita rasa yang menjadi ciri khas kuliner pesisir Sidoarjo.
Pengembangan kemasan tersebut juga diharapkan memperkuat daya saing UMKM sekaligus membuka akses produk lokal ke pasar ritel modern dan pasar oleh-oleh di berbagai daerah.












