Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Sentra industri kulit Tanggulangin, Sidoarjo, terus beradaptasi menghadapi perubahan tren pasar dan persaingan produk impor. Para perajin kini mengembangkan lini tas berbahan eco-leather, perpaduan kulit premium dan serat alam ramah lingkungan, sekaligus memperkuat pemasaran melalui platform digital.
Inovasi tersebut dilakukan untuk menjawab perubahan selera konsumen, terutama generasi muda yang semakin memperhatikan desain dan isu lingkungan. Produk baru itu juga dipasarkan melalui ekosistem e-commerce untuk memperluas jangkauan konsumen di luar Sidoarjo.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali sentra kerajinan kulit Tanggulangin yang menghadapi tantangan akibat perubahan gaya hidup konsumen dan masuknya produk dari luar negeri. Perajin mencoba memadukan desain modern dengan karakter produk lokal agar tetap memiliki daya saing di pasar nasional maupun internasional.
Ketua Koperasi Industri Tas dan Koper (INTAKO) Tanggulangin, H. Ainur Rofiq, mengatakan transaksi di sentra Tanggulangin mulai menunjukkan tren positif. Menurut dia, perubahan desain dan pemanfaatan teknologi digital menjadi faktor penting dalam menarik kembali konsumen.
“Kami menyadari perajin tidak boleh hanya bertahan pada model konvensional. Melalui inovasi tas eco-leather ini, antusiasme pembeli muda mulai meningkat pesat. Dukungan digitalisasi pemasaran juga membuat produk INTAKO kini bisa diakses konsumen dari berbagai kota tanpa harus datang langsung ke gerai,” ungkap Ainur Rofiq, Selasa (29/09/2026).
Dari sisi akademisi, Pakar Ekonomi Kreatif dan Dosen Perguruan Tinggi Sidoarjo, Dr. Retno Wulandari, S.E., M.M., menilai diversifikasi produk menjadi langkah penting bagi sentra kerajinan lokal untuk mempertahankan daya saing.
“Div
ersifikasi seperti penggunaan eco-leather ini adalah strategi jitu yang wajib ditempuh sentra Tanggulangin. Di tengah gempuran barang impor murah yang masif, keunggulan produk lokal terletak pada keunikan material, kualitas pengerjaan, dan cerita di balik produknya. Jika perajin konsisten menjaga standar kualitas dan memperkuat branding digital, pasar kreatif domestik akan dikuasai oleh produk asli Sidoarjo,” tandas Retno Wulandari.
Menurutnya, kekuatan produk lokal tidak hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga kemampuan menghadirkan identitas dan nilai yang sulit ditiru produk massal. Karena itu, inovasi material perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas, desain, serta kemampuan perajin membangun merek melalui kanal digital.
Melalui kolaborasi perajin, penguatan koperasi, dan pemanfaatan teknologi digital, sentra kulit Tanggulangin berupaya membangun kembali posisi sebagai salah satu pusat kerajinan kulit unggulan. Pengembangan produk ramah lingkungan diharapkan membuka pasar baru sekaligus menjaga keberlangsungan industri kerajinan yang telah menjadi bagian dari identitas ekonomi kreatif Sidoarjo.












