Jakarta, Jatimmandiri.id – Indonesia dan Jepang memperkuat kerja sama pengembangan pertanian regeneratif berbasis biochar. Teknologi pengolahan limbah pertanian tersebut dinilai dapat memperbaiki kesehatan tanah, menekan emisi karbon, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani melalui kredit karbon.
Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian (Kapusluh) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro, mengatakan pertanian regeneratif diarahkan untuk meningkatkan kesehatan tanah agar mampu menopang produktivitas pertanian secara berkelanjutan.
“Biochar menjadi teknologi kunci untuk menyehatkan tanah, meningkatkan produksi pertanian, sekaligus menahan laju perubahan iklim,” kata Eko dalam Workshop on Carbon Credit Methodology to Strengthen Agricultural Extension on Applying Biochar for Land and Regenerative Agriculture di Jakarta, Selasa (29/9).
Menurut Eko, pengembangan sistem kredit karbon menjadi penting karena negara yang berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim berpeluang memperoleh manfaat ekonomi. Dalam konteks pertanian, biochar dapat menyimpan karbon organik dari residu pertanian agar tidak kembali terlepas ke atmosfer.
Ia menyebut limbah biomassa pertanian kering di Indonesia mencapai 21.944.661 ton per tahun. Jika seluruhnya diolah menjadi biochar, potensi penyerapan karbon organik diperkirakan mencapai 883.585 ton per tahun. Limbah kelapa sawit, termasuk dari tanaman tua yang diremajakan, menjadi salah satu sumber bahan baku terbesar.
“Pemerintah mengambil momentum agar sistem kredit karbon yang diterapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Eko seperti dikutip dari Antara.
Workshop tersebut diikuti sekitar 75 peserta dari Indonesia dan Jepang, terdiri atas pemerintah, penyuluh, peneliti, akademisi, pelaku industri biochar, pengembang proyek karbon, sektor swasta, dan organisasi internasional. Perwakilan negara-negara ASEAN juga mengikuti kegiatan secara daring.
Executive Director Asosiasi Biochar Internasional Indonesia (ABII) Phil Rickard mengatakan Indonesia memiliki peluang ekonomi dari perdagangan karbon melalui penerapan biochar. Menurut dia, karbon dari biochar yang berasal dari limbah pertanian dapat bertahan di dalam tanah selama puluhan tahun.
“Petani yang menerapkan teknologi biochar layak mendapat benefit ekonomi karena mencegah laju perubahan iklim,” kata Phil.
Sementara itu, Pengajar Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor, Prof. Dedi Nursyamsi, mengatakan pertanian menghadapi tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, dan penurunan kesuburan tanah.
Biochar, kata dia, dapat membantu memperbaiki kondisi tanah melalui peningkatan retensi hara dan kemampuan menahan air. Bahan kaya karbon tersebut dihasilkan melalui proses pirolisis, yakni pemanasan bahan organik dengan oksigen terbatas.
“Karakteristik tersebut yang menghubungkan program biochar dengan mekanisme kredit karbon,” jelas Dedi.
Kerja sama Indonesia-Jepang ini diharapkan memperkuat pemahaman mengenai metodologi perhitungan kredit karbon sekaligus mendorong penerapan biochar yang memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi bagi petani.












