Dari Gunung Padang, Jolotundo, hingga Sundaland
Di lereng Gunung Penanggungan, air Petirtaan Jolotundo tak pernah berhenti mengalir selama lebih dari seribu tahun. Di balik aliran itu, tersimpan kisah tentang teknologi, budaya, dan peradaban Nusantara yang hingga kini terus mengundang penelitian sekaligus memantik rasa ingin tahu.
————————————
Pengamat sejarah dan budaya, Arik, mengajak masyarakat memandang Jolotundo, Gunung Padang, dan hipotesis Sundaland sebagai ruang kajian ilmiah yang terbuka. Menurutnya, penelitian yang bertanggung jawab dapat memperkaya pemahaman terhadap akar sejarah bangsa sekaligus memperkuat jati diri Indonesia.
Bagi Arik, Petirtaan Jolotundo di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, bukan sekadar peninggalan sejarah. Situs yang dibangun pada tahun 977 Masehi pada masa Kerajaan Medang itu mencerminkan kemampuan leluhur Nusantara memadukan pengetahuan, teknologi, alam, dan nilai spiritual.
“Jolotundo bukan sekadar kolam pemandian kuno, tetapi merupakan simbol hubungan manusia dengan alam, ilmu pengetahuan, dan nilai spiritual yang diwariskan leluhur selama lebih dari seribu tahun,” ujarnya.
Menurutnya, sistem hidrolika Jolotundo yang masih berfungsi hingga kini menunjukkan kemampuan masyarakat Nusantara mengelola sumber daya air secara berkelanjutan. Mata air yang tidak pernah kering menjadi lambang keberlangsungan budaya sekaligus bukti kecanggihan teknologi pada zamannya.
Jejak sejarah itu juga menghubungkan Jawa dan Bali. Arik menyoroti hubungan Raja Udayana atau Sri Dharmmodayana Warmadewa dengan Dewi Gunapriya Dharmapatni atau Mahendradatta, putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang di Jawa Timur.
Dari pernikahan tersebut lahir Prabu Airlangga yang kemudian mendirikan Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Menurut Arik, hubungan sejarah itu memperlihatkan eratnya ikatan budaya Jawa dan Bali sejak abad ke-10 yang masih hidup melalui berbagai tradisi keagamaan dan budaya hingga sekarang.
Baginya, pembahasan mengenai Jolotundo dapat diperkaya melalui penelitian lintas disiplin. Kajian arkeologi, geologi, sejarah, hingga ilmu kebumian dapat dipadukan dengan pembahasan hipotesis Sundaland atau Atlantis Nusantara yang pernah dikemukakan Ir. Dhani Irwanto maupun Prof. Arysio Santos.
Namun, Arik menegaskan bahwa hipotesis mengenai Atlantis di wilayah Nusantara masih menjadi perdebatan akademik dan belum diterima sebagai konsensus ilmiah. Karena itu, setiap penelitian harus dilakukan secara objektif dengan membedakan secara jelas antara fakta arkeologis, interpretasi sejarah, dan hipotesis penelitian.
“Nilai terpenting bukan semata-mata membuktikan Atlantis berada di Nusantara, tetapi membangun kesadaran bahwa bangsa ini memiliki warisan budaya dan sejarah yang sangat kaya sehingga layak diteliti, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” katanya.
Sebagai langkah konkret, Arik mengusulkan program Akar Nusantara. Konsep tersebut mengintegrasikan pelestarian Situs Gunung Padang, Petirtaan Jolotundo, serta kajian Sundaland melalui penelitian ilmiah, pendidikan, pelestarian budaya, dan kolaborasi lintas lembaga.
Menurutnya, gagasan itu sejalan dengan Asta Cita, delapan misi utama Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menuju Indonesia Emas 2045. Poin kedelapan menekankan penguatan budaya, seni, dan karakter bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami akar sejarah Nusantara sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas bangsa. Bagi Arik, kebangkitan peradaban Nusantara bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan menjadikan nilai, pengetahuan, dan kearifan leluhur sebagai inspirasi membangun Indonesia yang berkarakter, berbudaya, dan berdaya saing.
“Kita harus merawat situs-situs bersejarah seperti Jolotundo, terus mendorong penelitian ilmiah, serta memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda agar jati diri bangsa tetap terjaga di tengah perkembangan zaman,” pungkasnya. (mhe/ibn)












