Intisari Berita:
-
Pameran Lomba Fotografi Jurnalis Dewan Surabaya (Judes) 2026 resmi dibuka di Gedung DPRD Surabaya dengan memajang deretan karya otokritik terhadap kinerja legislatif.
-
Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, mengapresiasi tinggi nalar kritis jurnalis dan secara spontan menambah total nominal hadiah bagi para pemenang lomba.
-
Dari total 148 karya foto jurnalistik yang masuk, panitia mengurasi menjadi 9 finalis terbaik yang pemenangnya akan diumumkan pada 20 Agustus 2026.
Surabaya, Jatimmandiri.id — Suasana Gedung DPRD Kota Surabaya pada Senin (10/8/2026) tampil berbeda dari biasanya. Deretan foto jurnalistik tampak dipajang mengelilingi panggung utama gedung dewan dalam rangka pembukaan Pameran dan Lomba Fotografi Jurnalis Dewan Surabaya (Judes) 2026.
Puluhan karya tersebut tak sekadar mengabadikan momen seremonial, tetapi menyajikan pesan otokritik tajam terhadap kinerja lembaga legislatif kota.
Lomba fotografi tahunan ini di buka secara resmi oleh Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni. Kehadiran pameran visual ini mengubah dinamika gedung dewan—aktivitas politik dan kelembagaan yang biasanya di nikmati dalam bentuk narasi berita tulis. Kini hadir secara kuat dan memikat lewat bahasa visual gambar.
Sejumlah karya jurnalis menangkap sudut-sudut ruang gedung dewan yang selama ini luput dari sorotan publik. Tidak berhenti pada aktivitas rapat rutin anggota dewan.
Para fotografer insan pers tersebut berani menyelipkan sindiran dan kritik membangun atas efektivitas kinerja dewan.
Arif Fathoni mengapresiasi tinggi konsistensi Pokja Judes Indonesia yang menggelar ajang ini sebagai rangkaian memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Teman-teman jurnalis dengan nalar kritisnya membuat salah satunya kegiatan lomba parade foto. Tentu foto yang di tampilkan adalah foto-foto yang berisi otokritik terhadap kinerja DPRD Surabaya,” ujar Arif Fathoni, Selasa (11/8/2026).
Sebut Wartawan ‘Teman Sejati’, Arif Fathoni Jadikan Foto Evaluasi Diri
Pria yang akrab disapa Toni ini menilai kritik dari pers merupakan elemen vital untuk menjaga lembaga legislatif tetap berjalan lurus pada koridor pelayanan publik. Bagi dewan, wartawan yang berani mengingatkan lewat karya adalah mitra paling nyata yang amat dibutuhkan.
“Teman yang sesungguhnya itu adalah teman yang mengingatkan. Karena hakikat manusia itu saling mengingatkan. Teman-teman jurnalis yang merupakan bagian integral dari keluarga besar DPRD Surabaya mengingatkannya dengan cara lain, dengan landasan kasih sayang,” tuturnya.
Politisi yang juga berlatar belakang jurnalis ini bahkan mengaku salah satu potret yang di pamerkan menyentuh ruang kerjanya dan langsung ia jadikan bahan perenungan serta evaluasi kepemimpinan.
“Itu otokritik buat saya. Mungkin ke depan saya akan lebih baik lagi, sehingga ketika teman-teman membutuhkan konfirmasi atas satu peristiwa di lapangan untuk kepentingan pemberitaan, saya bisa selalu ada,” tegas Toni.
Ia menekankan bahwa karya pers tidak di tuntut untuk selalu menyanjung lembaga. Kritik yang di sajikan secara proporsional justru menjadi pemacu perbaikan mutu pelayanan bagi warga kota. Karena itu, ia mendorong dewan juri agar menilai kedalaman nilai sosial dan daya kritik foto, bukan sekadar estetik kegiatan formal semata.
Sebagai bentuk dukungan moral, Toni secara spontan menambah pundi hadiah lomba, yakni Juara I menjadi Rp2,5 juta, Juara II Rp1,5 juta, dan Juara III Rp1 juta. Ia menegaskan suntikan dana ini sama sekali tidak boleh mengintervensi independensi penjurian.
Saring 148 Karya Jadi 9 Finalis, Pemenang Diumumkan 20 Agustus
Sementara itu, Ketua Pokja Judes Indonesia, Inyong Maulana, menjelaskan bahwa lomba foto perayaan kemerdekaan ini. Kini memasuki tahun kedua pelaksanaan dan akan terus ditingkatkan mutunya.
“Tahun kemarin kita sudah mengenal ini, dan tahun ini juga kita lanjutkan. Insya Allah ke depan akan lebih bagus dan lebih berkualitas foto-fotonya,” kata Inyong.
Inyong mengapresiasi respons terbuka pimpinan dewan. Menurutnya, rekam jejak Arif Fathoni yang dulunya bertugas sebagai jurnalis membuat masukan teknis mengenai seni fotografi jurnalistik menjadi sangat presisi.
“Mas Toni adalah seorang jurnalis yang dulu juga pernah manggung di sini, jadi tahu persis mana sudut-sudut yang layak untuk jadi foto dan jadi pemenang,” imbuhnya.
Ketua Panitia Lomba Fotografi Judes 2026, Yusandi, membeberkan bahwa panitia telah menerima sebanyak 148 karya foto dari para wartawan. Setelah melalui proses kurasi ketat yang melibatkan juri profesional dari lintas jurnalistik dan fotografi. Terpilih 9 karya terbaik yang berhak melaju ke babak final.
“Kami mengundang juri profesional yang akan menyeleksi karya-karya fotografi terbaik dari temen-temen, nanti di umumkan juaranya tanggal 20 Agustus 2026,” jelas Yusandi.
Pameran ini menegaskan kembali fungsi utama fotografi jurnalistik sebagai rekaman fakta, dokumen sejarah, sekaligus alat kontrol sosial. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas politik Kota Pahlawan, deretan foto yang terpajang bertindak layaknya cermin jernih bagi para pemangku kebijakan publik.












