Jateng

Kekeringan Mulai Meluas, 10 Desa di Purbalingga Butuh Pasokan Air Bersih

×

Kekeringan Mulai Meluas, 10 Desa di Purbalingga Butuh Pasokan Air Bersih

Sebarkan artikel ini
Distribusi bantuan air bersih untuk warga terdampak kekeringan di Kabupaten Purbalingga.
Petugas BPBD menyalurkan bantuan air bersih kepada warga di wilayah terdampak kekeringan di Kabupaten Purbalingga.
Example 468x60

Jatimmandiri.id – Musim kemarau mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di Kabupaten Purbalingga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 10 desa yang tersebar di enam kecamatan telah mengalami kekeringan dan sebagian warganya mulai bergantung pada bantuan distribusi air bersih.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga, Revon Haprindiat, mengatakan wilayah yang terdampak berada di Kecamatan Karangreja, Karanganyar, Pengadegan, Kejobong, Kemangkon, dan Rembang. Menurutnya, jumlah desa yang mengalami kekeringan masih berpotensi bertambah apabila musim kemarau terus berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“Sejumlah sumber mata air mulai mengalami penurunan debit sehingga pasokan air bersih di beberapa wilayah ikut berkurang,” ujarnya, Senin (20/7/2026).

Selain dipengaruhi minimnya curah hujan, distribusi air bersih di beberapa desa juga belum sepenuhnya normal akibat kerusakan jaringan yang ditimbulkan banjir bandang dan tanah longsor pada awal tahun 2026.

Kondisi tersebut masih dirasakan warga Desa Serang dan Desa Kutabawa. Hingga kini, BPBD masih rutin mengirimkan bantuan air bersih karena jaringan distribusi air di dua desa tersebut belum dapat berfungsi sepenuhnya.

“Untuk Desa Serang dan Kutabawa, bantuan air bersih masih terus kami salurkan sejak awal karena jaringan air belum pulih,” kata Revon.

Dalam penanganan kekeringan, BPBD bekerja sama dengan Perumdam Tirta Perwira Purbalingga untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Hingga saat ini, pasokan air dari perusahaan daerah tersebut masih dinilai mencukupi sehingga distribusi ke wilayah terdampak dapat terus dilakukan.

BPBD juga mengimbau masyarakat agar lebih bijak menggunakan air selama musim kemarau. Warga diminta menghemat penggunaan air bersih, memanfaatkan air sesuai kebutuhan, serta menjaga sumber-sumber mata air agar tetap dapat dimanfaatkan hingga musim hujan tiba.

Baca Juga  Blora Targetkan PAD Parkir Bahu Jalan Rp1,22 Miliar pada 2026, Digitalisasi Mulai Disiapkan

Selain persoalan kekeringan, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan yang biasanya meningkat saat musim kemarau.

Revon mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan api benar-benar padam setelah digunakan, terutama saat beraktivitas di kawasan hutan maupun jalur pendakian.

Menurutnya, kawasan pegunungan menjadi salah satu titik yang paling rawan terjadi kebakaran karena proses pemadaman terkendala akses menuju lokasi serta terbatasnya sumber air.

“Karena itu, langkah pencegahan menjadi cara paling efektif untuk mengurangi risiko kebakaran hutan selama musim kemarau,” ujarnya.

BPBD akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan menyiapkan langkah antisipasi apabila jumlah wilayah terdampak kekeringan terus bertambah dalam beberapa waktu ke depan.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *