Surabaya, Jatimmandiri.id – Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang tetap kuat belum sepenuhnya menjawab tantangan pemerataan kesejahteraan, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan daya saing industri. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menilai penguatan kualitas lapangan kerja, kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan perusahaan, serta pemanfaatan hasil riset perguruan tinggi perlu menjadi prioritas pembangunan ekonomi daerah.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto mengatakan, ekonomi Jatim tumbuh 5,33 persen pada 2025. Pertumbuhan kemudian mencapai 5,96 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan I 2026 dan 5,72 persen pada triwulan II 2026.
“Capaian tersebut perlu diikuti peningkatan kualitas lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi harus mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat daya saing perdagangan, serta menjamin ketersediaan energi yang andal untuk mendukung industri,” kata Adik di Surabaya, Selasa(27/10).
Dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Refleksi 81 Tahun dan Outlook Ekonomi Jatim 2026 yang diselenggarakan Jurnalis Ekonomi-Bisnis Surabaya (JEBS), Adik menyoroti tingkat kemiskinan Jawa Timur sebesar 9,06 persen pada Maret 2026. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka tercatat 3,42 persen pada Mei 2026.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu disertai pemerataan manfaat yang lebih luas. Salah satu persoalan yang harus diatasi ialah pengangguran terdidik akibat belum optimalnya kesesuaian kompetensi lulusan perguruan tinggi dan sekolah vokasi dengan kebutuhan industri.
Karena itu, Kadin mendorong kolaborasi dunia usaha, akademisi, dan pemerintah untuk menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja. Sinergi tersebut dinilai dapat meningkatkan daya tarik investasi sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi lulusan sarjana dan vokasi.
Adik juga menyoroti hilirisasi riset yang belum maksimal. Inovasi perguruan tinggi dinilai masih terbatas dalam penerapannya untuk menghasilkan produk dan teknologi bernilai ekonomi.
“Kolaborasi dunia usaha, perguruan tinggi, dan pemerintah perlu diperkuat agar riset dan inovasi dari perguruan tinggi di Jatim dapat dikembangkan menjadi produk yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian Jatim,” katanya.
Guru Besar Ekonomi Moneter Universitas Airlangga Rudi Purwono menambahkan, optimalisasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) penting untuk menarik investasi manufaktur, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tambah industri.
Ia menekankan, manfaat investasi harus menjangkau industri menengah, kecil, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui keterlibatan dalam rantai pasok.












