BeritaDalam NegeriHeadlineJatim

JFC 2026 Berkembang Lebih dari Karnaval

×

JFC 2026 Berkembang Lebih dari Karnaval

Sebarkan artikel ini
Sentuhan kebudayaan Nusantara menjadi salah satu poin menarik dalam penggelaran JFC 2026.
Example 468x60

HUJAN deras mengguyur lintasan Grand Carnival Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 pada Minggu sore (26/7). Langit mendung tidak membuat peserta maupun ribuan penonton beranjak meninggalkan lokasi. Mengapa mereka mau bertahan?

Di bawah guyuran hujan, model tetap melangkah dengan kostum megahnya. Relawan, panitia, dan peserta saling berbaur sambil mengabadikan momen penutupan rangkaian utama JFC 2026.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Bagi sebagian orang, hujan menjadi penutup sebuah pertunjukan. Namun itu tak berlaku di JFC. Momen itu justru menegaskan bahwa karnaval ini telah berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar parade kostum.

Selama tiga hari, mulai 24 hingga 26 Juli 2026, JFC menghadirkan beragam pertunjukan yang memadukan seni, budaya, kreativitas, dan kolaborasi. Tahun ini, penyelenggara memperkenalkan konsep baru bertajuk “Story and Parade”.

Ketua JFC, Budi Setiawan, menjelaskan konsep tersebut berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Parade diawali sebuah cerita besar sebelum memasuki delapan defile utama. “Tema ini terdiri dari beberapa defile yang merupakan sebuah perjalanan. Perjalanan bumi untuk menemukan nilai-nilai kebijaksanaan dari berbagai dinamika yang terjadi,” ujarnya.

Menurut Budi, perjalanan itu bermuara pada pesan kemanusiaan yang menjadi tema besar JFC 2026, yaitu HEAL atau “Humanity, Earth and Life”. “Pada akhirnya, perjalanan itu menyampaikan satu kesimpulan bahwa menjadi manusia tidak harus sempurna, tetapi yang terpenting adalah bagaimana manusia memiliki kepedulian terhadap sesama,” katanya.

Pesan itu dinilai sejalan dengan arah pengembangan JFC yang tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga membangun karakter dan kreativitas masyarakat.

Bupati Jember Muhammad Fawait atau Gus Fawait menyebut JFC telah berkembang menjadi sebuah gerakan yang membawa dampak lebih luas. “JFC bukan sekadar event tiga hari saja. Jember Fashion Carnaval adalah satu movement, sebuah pergerakan untuk mentransformasi sumber daya manusianya, kotanya Jember, dan juga bangsanya Indonesia,” katanya.

Baca Juga  Perkuat Akses Informasi, Jatim Mandiri Siap Terbitkan Koran Harian dan Jalin Sinergi dengan Pemkab Nganjuk

Menurut Gus Fawait, JFC menjadi ruang inklusif bagi siapa saja untuk menunjukkan kemampuan dan mengembangkan potensi diri. “Ini adalah ruang inklusif untuk siapa saja bisa berkarya, memiliki kepercayaan diri yang baik, leadership yang baik, lalu karya-karya mereka disaksikan oleh berbagai komponen masyarakat Indonesia dan dunia,” ungkap dia.

Gus Fawait berharap JFC terus berkembang dan memberi manfaat yang semakin luas bagi masyarakat. “Harapan kami JFC terus berkembang dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat. Bukan hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga penggerak pembangunan yang nyata melalui semangat kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.

Transformasi JFC juga terlihat dari semakin luasnya keterlibatan berbagai kalangan. Tahun ini, panggung JFC diisi kolaborasi budaya Nusantara melalui Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI).

Gus Fawait menilai WACI memperkuat peran JFC sebagai ruang pelestarian budaya. “WACI bukan sekadar pertunjukan, tetapi ruang untuk memperkenalkan identitas dan warisan budaya Jember kepada masyarakat luas. Melalui kolaborasi budaya tradisional dengan kreativitas seni pertunjukan, kami ingin menunjukkan bahwa Jember memiliki potensi budaya yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional,” ujarnya.

Menurutnya, WACI memperkuat daya tarik JFC sekaligus mendorong pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM. Dan salah satu yang meramaikan WACI adalah Komando Pemersatu Adat Se-Kalimantan (Kopaskal) yang menghadirkan sentuhan budaya Pulau Borneo.

Ketua Umum Kopaskal, Adi Saputra, mengapresiasi ruang yang diberikan JFC bagi budaya daerah. “Terima kasih kepada JFC dan Pemkab Jember sudah mengundang kami. Harapannya tahun depan bisa diundang lagi, karena ini sangat bagus untuk mengenalkan budaya-budaya kita,” katanya.

Perkembangan JFC juga mendapat perhatian dari kalangan industri kreatif nasional. Penyanyi Krisdayanti menyebut JFC sebagai ruang lahirnya kreativitas yang terus berkembang. “JFC 2026 menjadi satu-satunya ajang di tempat yang dijuluki kota seribu seni. Di sinilah lahir budaya dan karya-karya yang terus berkembang tanpa batas,” katanya.

Baca Juga  Bella Bonita Basah di JFC

Diva asli Jawa timur itu berharap JFC terus menjadi ruang bagi talenta muda Indonesia untuk berkarya sekaligus memperkenalkan budaya Nusantara ke dunia.

Sementara itu, penata rias kenamaan, Bubah Alfian menilai gaung JFC semakin luas hingga dikenal banyak artis nasional. “Ini inovasi baru di 2026. Dulu mungkin banyak yang belum tahu JFC, sekarang semakin banyak yang mengenalnya. Bahkan artis-artis yang sebelumnya belum tahu, sekarang sudah tahu tentang acara JFC,” ujarnya. Bubah juga berharap dukungan masyarakat terus mengiringi perjalanan JFC.

Antusiasme masyarakat dan berbagai elemen juga terlihat hingga penutupan acara. Meski hujan turun deras, banyak penonton memilih tetap bertahan. Salah seorang penonton asal Arjasa, Dian, mengaku sengaja datang bersama ibunya untuk menyaksikan malam puncak JFC. “Aku dan Ibu memang ingin sekali melihat langsung panggung acara malam puncak itu,” katanya.

Meski hanya menyaksikan melalui videotron, ia tetap menikmati suasana. “Tidak apa-apa hanya menyaksikan lewat videotron di halaman alun-alun. Enak, seperti piknik. Seru juga,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Suparno yang tetap bertahan hingga acara selesai. “Gak masalah mas, masio udan tetep tak nikmati sampe buyar, wong mek setahun pisan. (Nggak masalah mas, meski hujan tetao saya nikmati sampai akhir. Acaranya cuma setahun sekali),” ujarnya.

Saat asap warna-warni menandai berakhirnya Grand Carnival, rangkaian utama JFC 2026 resmi ditutup. Namun, semangat yang dibangun selama tiga hari seolah belum benar-benar usai.

JFC telah menunjukkan bahwa sebuah karnaval tidak hanya menghadirkan pertunjukan. Di balik setiap kostum, langkah, dan kolaborasi, tersimpan upaya membangun kreativitas, merawat budaya, serta menumbuhkan kepedulian yang menjadi ruh perjalanan JFC tahun ini. (mhe/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Bella Bonita tetap tampil di Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 meski diguyur hujan deras di lintasan parade, Jember, Minggu (26/7)….

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Pendapatan negara di Jawa Timur hingga 30 Juni 2026 mencapai Rp128,18 triliun atau mencapai 42,45 persen dari…

Berita

Jakarta, Jatim Mandiri Badan Gizi Nasional (BGN) menutup 833 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah Indonesia karena…

Berita

Polisi Olah TKP Kematian Sutrimo Jakarta, Jatim Mandiri Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan tersangka dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian…

Berita

Malang, Jatim Mandiri Pemkot Malang menyatakan peningkatan kasus HIV hingga Mei 2026 dipengaruhi optimalnya layanan Voluntary Counselling and Testing (VCT)…