Surabaya, Jatimmandiri.id – Pameran industri konstruksi, makanan dan minuman (F&B), serta perhotelan kembali digelar di Surabaya, Jawa Timur. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari tersebut ditargetkan mampu menarik sekitar 17.000 pengunjung sekaligus memberikan dampak terhadap perekonomian daerah.
Penyelenggaraan pameran di Surabaya merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa yang sebelumnya rutin digelar di Jakarta.
“Surabaya memiliki potensi yang kuat sebagai pusat bisnis dan pembangunan. Kehadiran pameran ini menjadi momentum untuk mempertemukan berbagai kebutuhan proyek dengan brand dan solusi industri secara lebih dekat,” kata General Manager PT Debindo Global Expo Alfin Irsal di Surabaya, Rabu 16/9).
Pameran yang digelar pada 17-20 September 2026 di Grand City Convex Surabaya itu mempertemukan arsitek, desainer interior, kontraktor, pengembang, distributor, pemilik proyek, hingga profesional sektor konstruksi dengan berbagai produsen material dan teknologi bangunan.
Alfin mengatakan kembalinya IndoBuildTech ke Surabaya merupakan bagian dari upaya memperkuat konektivitas antara pelaku industri dan pasar regional, khususnya Jawa Timur.

Menurut dia, perkembangan industri bangunan tidak hanya membutuhkan akses terhadap produk, tetapi juga ruang untuk bertukar pengetahuan dan membangun kolaborasi, namun juga menghadirkan ruang diskusi, presentasi produk, lokakarya, serta kegiatan bersama asosiasi dan komunitas industri.
Respons positif peserta dan pasar Jawa Timur membuat penyelenggara kembali memilih Surabaya sebagai lokasi kegiatan.
Dalam kesempatan tersebut, Wagub Jawa Timur, Emil Dardak hadir memberikan sambutan pada acara bergengsi tersebut bersama para kepala dinas terkait.
Dampak tersebut antara lain terlihat dari keterlibatan tenaga kerja lokal dalam pembangunan stan, kedatangan pengunjung dari berbagai daerah, serta meningkatnya aktivitas pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi kegiatan.
Sebanyak 17.000 pengunjung yang ditargetkan juga berasal dari berbagai latar belakang, mulai konsumen hingga pelaku dan praktisi industri. Pertemuan tersebut diharapkan membuka peluang kolaborasi dan mendorong perkembangan sektor konstruksi di Jawa Timur.
Sektor konstruksi sendiri disebut telah memberikan kontribusi mendekati 10 persen terhadap perekonomian Jawa Timur. Karena itu, pameran menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan produk industri dengan pasar sekaligus menggairahkan aktivitas usaha.
Dari sisi pemerintah, penyelenggaraan kegiatan semacam ini juga berkaitan dengan upaya menjaga keseimbangan antara perlindungan konsumen dan kemudahan bagi pelaku industri. Standar bangunan diperlukan untuk menjamin keamanan masyarakat, tetapi penerapannya diharapkan tidak menciptakan proses yang terlalu rumit bagi dunia usaha.
Selain sektor konstruksi, tahun ini pameran juga menggabungkan industri F&B dan hospitality. Jawa Timur dinilai memiliki potensi besar karena sekitar sepertiga industri manufakturnya berasal dari sektor makanan dan minuman.
Penggabungan kedua sektor tersebut diharapkan membuka titik temu baru. Pelaku restoran, kafe, dan usaha hospitality dapat memperoleh inspirasi mengenai desain interior, kenyamanan ruang, sekaligus pengembangan produk.
Konsep penggabungan ini menjadi hal baru dibanding penyelenggaraan tahun sebelumnya yang hanya menghadirkan industri konstruksi. Dengan mempertemukan sektor konstruksi, F&B, dan hospitality, kegiatan tersebut diharapkan dapat menciptakan peluang bisnis serta mendorong pertumbuhan kedua sektor secara bersamaan.












