Sidoarjo,Jatimmandiri.id – Persaingan bisnis hospitality di Sidoarjo memasuki periode akhir tahun dengan strategi yang semakin kreatif. Favehotel Sidoarjo memanfaatkan tren kuliner dan staycation untuk menggaet pasar, sekaligus membuka ruang bagi berkembangnya ekosistem usaha kuliner dan ekonomi kreatif lokal.
Strategi itu dikemas melalui dua program utama, yakni kampanye “60 Seconds to Tokyo” dan paket kuliner Nusantara “Pawon Jenggolo”. Kampanye bertema Jepang tersebut berlangsung hingga Desember 2026, menghadirkan menu khas Jepang, ornamen budaya pop Tokyo, serta paket menginap Oyasumi Stay.
Sementara Pawon Jenggolo menyasar konsumen lokal melalui konsep All You Can Eat (AYCE) seharga Rp108.000 net per orang. Program yang berlangsung setiap hari pukul 18.00–22.00 WIB itu menawarkan aneka masakan Nusantara, live music, pembuatan arum manis, hingga es krim gratis.
Manager Favehotel Sidoarjo, Eka Dewi, mengatakan inovasi menjadi bagian penting untuk menjaga daya tarik hotel di tengah persaingan industri hospitality.
“Kami ingin memberikan pengalaman (experience) baru yang tidak membosankan bagi para tamu. Melalui kampanye 60 Seconds to Tokyo dan AYCE Pawon Jenggolo, kami menggabungkan dua pasar besar, yaitu pencinta kuliner modern ala Jepang dan penikmat masakan autentik Indonesia. Selain itu, sebagai bentuk apresiasi profesi, kami juga meluncurkan Diskon Profesional berupa potongan harga kamar 10% bagi guru (kode: EDUC10) dan perawat (kode: CARE10) yang menginap di tempat kami,” terang Eka Dewi, Selasa (29/9/2026).
Pengamat ekonomi pariwisata Jawa Timur Hendra Wijaya menilai diversifikasi bisnis food and beverage dapat memperluas sumber pendapatan hotel, tidak hanya mengandalkan kamar.
“Langkah Favehotel Sidoarjo menangkap peluang pasar kuliner malam lewat paket AYCE seharga seratus ribuan dengan fasilitas lengkap seperti live music sangatlah taktis. Di era sekarang, masyarakat urban Sidoarjo tidak hanya mencari tempat makan, tapi mencari suasana rileks pasca-kerja. Penawaran harga yang rasional digabung dengan promo tematik internasional dan lokal ini terbukti menjadi stimulus kuat yang mampu menjaga pertumbuhan sektor pariwisata urban tetap stabil,” papar Hendra Wijaya.
Konsep seperti ini juga berpotensi memperpanjang rantai belanja ekonomi kreatif. Kuliner, musik, dekorasi, hingga produk fashion lokal dapat menjadi bagian dari pengalaman konsumen ketika hotel mengembangkan program tematik.
Bagi UMKM, ruang kolaborasi tersebut membuka peluang masuk ke pasar hospitality melalui produk makanan, fesyen, kerajinan, maupun produk kreatif yang mendukung tema acara. Dengan demikian, persaingan hotel tidak sekadar berebut tamu, tetapi juga menciptakan ekosistem bisnis baru di sekitarnya.












