Jakarta, Jatimmandiri.id, – Merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga terperosok ke bawah level psikologis 6.000 menjadi perhatian pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai tekanan yang terus membayangi pasar saham Indonesia lebih banyak dipicu oleh persepsi negatif terhadap kondisi ekonomi nasional dibandingkan persoalan fundamental ekonomi yang sebenarnya.
Penurunan tajam IHSG dalam beberapa waktu terakhir terjadi di tengah kondisi ekonomi yang menurut pemerintah masih menunjukkan kinerja positif. Aktivitas ekonomi di berbagai sektor dinilai tetap bergerak, sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga berada dalam kondisi yang sehat.
Menurut Purbaya, pandangan pesimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia telah memengaruhi perilaku pelaku pasar dan investor. Sentimen tersebut kemudian memberikan tekanan pada pasar keuangan, termasuk pasar saham domestik.
“Jadi kendala utamanya adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita. Yang nggak terlalu benar, karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus sampai sekarang kalau kita lihat ke mana-mana semuanya economic activity kan meningkat,” kata Purbaya di Gedung DPR RI, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Ia menilai persepsi yang menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia berada dalam situasi buruk dapat memengaruhi kepercayaan investor. Ketika sentimen negatif berkembang luas, pasar keuangan cenderung merespons dengan tekanan jual yang akhirnya berdampak pada pergerakan indeks saham.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Kementerian Keuangan berencana memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia (BI). Langkah ini diharapkan mampu mengembalikan optimisme pasar dan memperkuat kepercayaan terhadap ekonomi nasional.
“Itu yang akan kita hilangkan dengan kerja sama yang lebih erat dengan bank sentral. Sebelumnya juga sudah erat, cuma kita lebih eratin lagi,” ucapnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah pelemahan signifikan yang dialami IHSG sepanjang pekan pertama Juni 2026. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks saham acuan Indonesia mengalami koreksi sebesar 8,69 persen selama periode 2 hingga 5 Juni 2026.
Akibat penurunan tersebut, IHSG ditutup pada posisi 5.594,765, jauh lebih rendah dibandingkan level penutupan pekan sebelumnya yang berada di angka 6.127,381.
Koreksi yang terjadi juga berdampak terhadap nilai kapitalisasi pasar saham nasional. Dalam sepekan, kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia menyusut menjadi Rp9.807 triliun dari sebelumnya Rp10.729 triliun.
Dengan demikian, nilai kapitalisasi pasar tercatat turun sekitar 8,59 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan tekanan yang cukup besar terhadap pasar modal Indonesia dalam waktu relatif singkat.
Sementara itu, jika melihat pergerakan sejak awal tahun, koreksi IHSG tercatat lebih dalam lagi. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks saham Indonesia telah melemah 29,14 persen secara year to date (ytd) hingga akhir Mei 2026.
Tak hanya secara tahunan, tekanan juga terlihat dalam pergerakan bulanan. Sepanjang Mei 2026, IHSG terkoreksi sebesar 11,92 persen dibandingkan bulan sebelumnya atau secara month to month (mtm).
Pada akhir Mei 2026, IHSG ditutup di level 6.127,38 sebelum akhirnya kembali mengalami tekanan dan jatuh ke bawah level 6.000 pada pekan berikutnya.
Pemerintah berharap penguatan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter dapat membantu memperbaiki sentimen pasar. Dengan kepercayaan investor yang kembali meningkat, stabilitas pasar keuangan dan pasar saham nasional diharapkan dapat pulih secara bertahap












