Bojonegoro, Jatimmandiri.id – Program Gerakan Ayam Telur Rakyat Mandiri (GAYATRI) yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro memasuki tahun kedua. Program tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian keluarga penerima manfaat (KPM).
Di tengah manfaat yang dirasakan masyarakat, pelaksanaan GAYATRI masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan. KPM mengeluhkan kenaikan harga pakan ayam petelur yang dinilai cukup membebani biaya produksi. Selain itu, harga telur yang berfluktuasi turut memengaruhi pendapatan penerima program.
Hasil Penjualan Telur Kembali untuk Pakan
Salah satu KPM, Rotun, warga Desa Kandangan, Kecamatan Trucuk, mengungkapkan kondisi tersebut saat ditemui di kandang ayamnya, Minggu (9/8/2026).
Pada Agustus 2025, Rotun menerima bantuan sebanyak 54 ekor ayam petelur. Setelah berjalan selama satu tahun, jumlah ayam yang masih bertahan sebanyak 48 ekor. Dari jumlah tersebut, ia mampu menghasilkan sekitar 2 kilogram telur setiap hari.
“Alhamdulillah, setiap hari masih bisa mengonsumsi telur sendiri. Namun, biaya pakan naik dan harga telur juga naik-turun. Jadi, hasil penjualan telur langsung digunakan untuk membeli pakan lagi,” ujar Rotun.
Dengan harga jual telur sekitar Rp24.000 per kilogram, Rotun berharap pemerintah memberikan pendampingan yang lebih intensif agar usaha ternak ayam petelur tersebut dapat terus berjalan dan berkembang.
Produksi Ayam Petelur di Mojosari Bertahan
Kondisi serupa dialami Romli, KPM asal Desa Mojosari, Kecamatan Kalitidu. Dari bantuan ayam petelur yang diterima, sebanyak lima ekor ayam mati. Kendati demikian, sebagian ayam yang tersisa masih mampu berproduksi.
“Kami bersyukur masih bisa berproduksi. Harapannya ada pelatihan dan bantuan pakan agar usaha ini bisa terus berjalan,” kata Romli, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, pendampingan tidak hanya dibutuhkan saat penyaluran bantuan, tetapi juga selama KPM menjalankan usaha. Pengetahuan mengenai pengelolaan pakan dan pemeliharaan ayam dinilai penting untuk menjaga produktivitas ternak.
10 Kandang Sudah Direalisasikan
Program GAYATRI kembali dialokasikan untuk Desa Mojosari tahun ini. Berdasarkan data pemerintah desa, sebanyak 20 KPM telah diusulkan sebagai penerima.
Namun, dari jumlah tersebut baru 10 kandang yang direalisasikan melalui Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro. Sementara 10 paket lainnya yang bersumber dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Bank Jatim Cabang Bojonegoro belum diterima.
“Yang sudah direalisasikan baru 10 kandang dari Dinas Peternakan. Untuk 10 paket dari CSR Bank Jatim Cabang Bojonegoro belum datang,” ungkap perangkat desa.
Dengan bertambahnya jumlah penerima program, pemerintah diharapkan tidak hanya menambah bantuan, tetapi juga memperkuat pendampingan teknis. KPM juga berharap adanya fasilitasi untuk mendapatkan pakan dengan harga yang lebih terjangkau.
KPM Minta Pendampingan Diperkuat
Para KPM mengaku bersyukur dengan adanya program GAYATRI. Selain membantu memenuhi kebutuhan protein keluarga melalui konsumsi telur, program tersebut juga membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Namun, keberlanjutan program dinilai membutuhkan dukungan lebih kuat dari pemerintah daerah. KPM berharap Pemkab Bojonegoro melalui Dinas Peternakan dan Perikanan memberikan pelatihan pengelolaan ternak, manajemen pakan, serta pendampingan usaha secara berkala.
KPM juga berharap pemerintah dapat membantu membuka akses terhadap pakan yang lebih terjangkau sehingga biaya produksi tidak terlalu membebani penerima manfaat.
Dinas Belum Berikan Keterangan
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro, drh. Catur Rahayu K., M.Si., saat dikonfirmasi pada Senin (10/8/2026) belum memberikan keterangan terkait keluhan KPM mengenai harga pakan dan kebutuhan pendampingan program GAYATRI. (sdr/ono)












