Intisari Berita:
- Anggota Komisi D DPRD Surabaya dr. Zuhrotul Mar’ah mendesak penguatan perlindungan anak inklusif menyusul meninggalnya bocah difabel akibat dugaan perundungan di Rungkut.
- dr. Zuhroh meminta langkah pencegahan diperkuat sejak dini di lingkup keluarga, sekolah, dan masyarakat agar kasus serupa tak terulang.
- Sebelumnya, Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan pendampingan terus berjalan serta meminta orang tua mempererat komunikasi dan kedekatan dengan anak.
Surabaya, Jatimmandiri.id — Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya, dr. Zuhrotul Mar’ah, menyampaikan keprihatinan mendalam atas meninggalnya seorang anak penyandang disabilitas di tengah dugaan kasus perundungan di kawasan Rungkut, Surabaya. Tragedi memilukan ini dinilai harus menjadi momentum evaluasi bersama untuk memperkuat sistem perlindungan anak serta membangun ekosistem kota yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
dr. Zuhrotul menegaskan bahwa setiap anak tanpa terkecuali memiliki hak konstitusional dan kemanusiaan untuk mendapatkan kasih sayang, perlindungan utuh, serta kesempatan tumbuh kembang optimal tanpa bayang-bayang diskriminasi maupun perundungan. Hak tersebut secara mutlak melekat pada anak penyandang disabilitas yang semestinya dirangkul setara oleh lingkungan keluarga, satuan pendidikan, hingga ruang kemasyarakatan.
“Saya sangat prihatin atas meninggalnya seorang anak penyandang disabilitas di tengah dugaan kasus perundungan di Surabaya. Ini menjadi keprihatinan kita bersama sekaligus pengingat bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan perlindungan, kasih sayang, dan lingkungan yang aman,” ujar dr. Zuhrotul Mar’ah dalam keterangannya yang diterima di Surabaya, Rabu (21/10/2026).
DPRD: Pencegahan Dini Jauh Lebih Krusial Ketimbang Penanganan Pasca-Kejadian
Legislator perempuan Surabaya yang akrab disapa dr. Zuhroh ini menggarisbawahi bahwa tata kelola perlindungan anak tidak boleh sekadar bersifat reaktif setelah jatuhnya korban. Paradigma intervensi perlindungan anak harus bergeser ke arah pencegahan sejak dini lewat penguatan pendidikan karakter terarah, pengawasan ketat orang tua, serta perwujudan lingkungan permukiman dan sekolah yang ramah anak.
“Jangan sampai anak-anak yang seharusnya mendapatkan perhatian dan perlindungan justru mengalami kekerasan atau perundungan. Anak penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk dihargai, diterima, dan tumbuh dengan bahagia di tengah masyarakat,” tegasnya.
Menyikapi musibah ini, dr. Zuhroh berharap keluarga korban dianugerahi kekuatan dan ketabahan sembari menekankan pentingnya keberlanjutan pendampingan psikososial. Ia merinci tiga pilar strategis yang wajib bergerak serempak demi memutus rantai kekerasan:
- Peran Keluarga: Menjadi fondasi paling mendasar dalam membentuk karakter, menanamkan nilai empati, mengajarkan penghormatan terhadap perbedaan fisik maupun mental, serta membangun komunikasi terbuka agar potensi penyimpangan perilaku anak terdeteksi sedini mungkin.
- Lingkungan Sekolah: Satuan pendidikan wajib menjamin ruang belajar yang aman dan aktif mengedukasi seluruh siswa mengenai pentingnya menghargai rekan difabel demi mengikis potensi perundungan dan stigma sosial.
- Kepedulian Masyarakat: Warga sekitar dilarang menutup mata bila menemukan indikasi kekerasan. Keberanian melapor kepada pihak berwenang menjadi kunci pencegahan sebelum peristiwa bereskalasi fatal.
Sebagai langkah konkret di parlemen, dr. Zuhrotul Mar’ah mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program-program pencegahan kekerasan anak, menaikkan mutu layanan pendampingan, serta memperkuat koordinasi lintas sektor antara birokrasi, aparat penegak hukum, sekolah, keluarga, dan elemen masyarakat sipil.
“Kita tidak ingin ada lagi anak yang menjadi korban kekerasan atau perundungan. Mari bersama-sama membangun Surabaya yang ramah anak, inklusif, dan penuh kepedulian, agar setiap anak, termasuk anak penyandang disabilitas, dapat tumbuh dengan aman, nyaman, dan bermartabat,” pungkas dr. Zuhrotul.
Sebelumnya: Respons Wali Kota Eri Cahyadi dan Langkah Pendampingan DP3APPKB
Sebelumnya, Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) menyatakan telah diterjunkan untuk memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga almarhum serta melakukan penjangkauan terhadap keluarga anak yang diduga terlibat.
Kepala DP3APPKB Kota Surabaya, Ida Widayati, memaparkan bahwa pendampingan dijalankan dengan mengedepankan prinsip perlindungan anak. Koordinasi intensif turut dijalin bersama jajaran kepolisian guna memastikan proses hukum dan penanganan terhadap anak yang diduga terlibat berjalan proporsional serta menjunjung tinggi asas kepentingan terbaik bagi anak.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi pada Senin (19/10/2026) turut menegaskan komitmen Pemkot Surabaya dalam mengawal persoalan ini. Eri menerangkan bahwa proses pemeriksaan terhadap anak yang diduga terlibat masih terus bergulir di ranah kepolisian, dengan pendekatan yang ekstra hati-hati mengingat usianya yang masih sangat belia.
“Pendampingan tetap kami lakukan, dan kami juga sudah berkoordinasi dengan kepolisian agar proses ini bisa ditindaklanjuti sesuai hasil pemeriksaan. Karena yang bersangkutan masih berusia di bawah 12 tahun, perlu dipastikan terlebih dahulu kondisi psikologisnya melalui pemeriksaan yang sedang berjalan. Setelah hasilnya diketahui, penanganan selanjutnya akan disesuaikan,” kata Wali Kota Eri.
Di samping penegakan prosedur, Eri mengajak seluruh orang tua di Kota Surabaya menjadikan tragedi ini sebagai cermin koreksi bersama. Orang tua didorong untuk tidak sekadar mencukupi kebutuhan material harian, melainkan wajib mencurahkan perhatian, mendengarkan keluh kesah, serta membangun kedekatan emosional yang erat dengan anak di rumah.
“Kalau kita ingin membangun kota dan negara, semuanya harus dimulai dari keluarga. Orang tua harus dekat dengan anaknya, tahu bagaimana kesehariannya, mendengarkan ceritanya, dan memberikan pendidikan yang baik. Jangan sampai komunikasi dengan anak justru semakin jauh. Ini menjadi pembelajaran bagi saya pribadi dan seluruh orang tua. Mari kita lebih mendekatkan diri kepada anak-anak kita. Pendidikan pertama dimulai dari keluarga, dari bagaimana kita membangun komunikasi, memberikan contoh, dan menanamkan nilai-nilai yang baik,” tutup Eri.












