Jakarta, Jatim Mandiri
Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate 5,75 persen di tengah tekanan global yang belum mereda demi menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, Rabu (19/8). Di saat yang sama, BI juga menyiapkan insentif untuk menarik dana asing dan memperkuat likuiditas perbankan guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan suku bunga acuan dipertahankan pada level 5,75 persen selama dua bulan terakhir. “Walaupun suku bunga saat ini kami pertahankan, sudah dua bulan ini kita pertahankan di level yang sama 5,75 persen,” kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, kemarin (19/8).
Sebagaimana dilansir dari Antara, BI tetap mengeluarkan instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendorong masuknya investasi asing. Aliran investasi portofolio asing pada triwulan III-2026 hingga 14 Agustus mencatat net inflows sebesar 1,8 miliar dolar AS.
Dana tersebut ditopang oleh penerbitan global bond pemerintah serta aliran dana ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). “Karena tentunya kita tidak ingin SRBI rate kita ini mengalami peningkatan. Sehingga kalau kita lihat dalam dua minggu terakhir ini, suku bunga SRBI atau yield SRBI terus mengalami penurunan,” ujar Destry.
BI juga memberikan insentif untuk menekan biaya lindung nilai atau hedging cost bagi dana asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia. “Apa yang kami lakukan adalah memberikan insentif untuk hedging cost, untuk dana asing yang masuk ke sini sehingga bisa mempertahankan spread yang menarik dan mereka akan masuk ke instrumen keuangan kita,” kata Destry.
Dari sisi inflasi, BI bersama pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah. “Jadi kolaborasi bersama. Dan kita juga mencoba supaya rupiah bisa stabil dan bisa dengan tren mengalami penguatan,” kata Destry.
Dalam RDG 18-19 Agustus, BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility 4,75 persen dan lending facility 6,50 persen. BI menyatakan keputusan tersebut ditujukan untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah gejolak global, menjaga inflasi pada sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. (ant/ibn)












