Jakarta, Jatimmandiri.id – Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Oktober 2026. Di tengah tekanan eksternal yang meningkat, bank sentral memilih memperkuat instrumen stabilisasi rupiah dengan menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen.
Keputusan RDG yang berlangsung pada Selasa dan Rabu tersebut juga menetapkan suku bunga lending facility tetap sebesar 6,5 persen. Kombinasi kebijakan itu diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional.
Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan, upaya menjaga ketahanan ekonomi diperkuat melalui peningkatan insentif kebijakan untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), khususnya dalam transaksi lindung nilai kepada Bank Indonesia. Langkah tersebut diharapkan dapat menarik aliran masuk modal asing, menjaga stabilitas rupiah, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan valuta asing.
“Keputusan tersebut diperkuat dengan peningkatan kebijakan insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada Bank Indonesia, guna menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas,” kata Destry dalam konferensi pers hasil RDG BI di Jakarta, Rabu(21/10).
Menurut Destry, kebijakan moneter tetap berorientasi pada stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang semakin kuat. Pada saat bersamaan, BI berupaya menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.
Penetapan suku bunga acuan tersebut menunjukkan bahwa BI tetap mempertahankan arah kebijakan moneternya, sementara penyesuaian pada instrumen lain dilakukan untuk memperkuat respons terhadap dinamika pasar keuangan. Stabilitas rupiah menjadi perhatian penting karena pergerakan nilai tukar dapat memengaruhi harga barang impor dan tekanan inflasi domestik.
Ke depan, BI menyatakan akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter sesuai perkembangan ekonomi dan kondisi pasar. Penyesuaian kebijakan tetap terbuka apabila diperlukan untuk mempertahankan stabilitas perekonomian nasional.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal, termasuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan guna menjaga konsistensi dalam menjaga stabilitas perekonomian,” kata Destry.
Melalui kombinasi kebijakan suku bunga dan penguatan instrumen lindung nilai, BI berupaya menjaga kepercayaan pasar, memperkuat ketahanan eksternal, serta memastikan inflasi tetap terkendali di tengah ketidakpastian global.












