80 Saham HSC Bakal Dikeluarkan dari Indeks
Jakarta, Jatim Mandiri
Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tidak gentar menghadapi rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia. Sementara Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan reformasi perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk memperkuat transparansi pasar modal di tengah kekhawatiran investor global terhadap tata kelola dan tekanan terhadap rupiah.
“Saya hanya katakan kepada MSCI, Bangsa Indonesia tidak takut siapapun, dan tidak akan gentar,” kata Prabowo dalam pembukaan Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (21/10).
Prabowo mengatakan Indonesia menghadapi banyak tantangan dan gangguan, tetapi bangsa Indonesia memiliki kekuatan untuk menghadapinya. “Saudara-saudara kita tidak takut, kita punya kekuatan, keberanian, dan kita rela berkorban serta tidak kenal menyerah,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kemungkinan penghematan untuk menghadapi tantangan. “Kalau perlu kita adakan penghematan besar-besaran, kita lebih hemat lagi nanti,” ucapnya.
Seperti diberitakan, MSCI tengah berkonsultasi mengenai usulan perubahan status Indonesia dari emerging market atau pasar berkembang menjadi standalone market atau pasar mandiri. Usulan ini muncul setelah investor menyampaikan kekhawatiran mengenai transparansi kepemilikan saham, konsentrasi kepemilikan, dan dugaan perdagangan terkoordinasi.
“MSCI menganggap klasifikasi berkelanjutan Indonesia sebagai Emerging Market tidak lagi sesuai dan membuka konsultasi mengenai usulan untuk mereklasifikasi Indonesia sebagai Standalone Market,” kata MSCI, dikutip Reuters, Jumat (16/10).
Konsultasi berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. MSCI juga mempertahankan pembekuan sejumlah perubahan terkait indeks saham Indonesia hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Reuters melaporkan IHSG terkoreksi lebih dari 30 persen sepanjang 2026. Sebelumnya, Moody’s dan Fitch juga menurunkan outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif.
Nah, di tengah perhatian terhadap transparansi pasar, BEI berencana mengeluarkan seluruh saham kategori high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Hingga 19 Oktober 2026 lalu, terdapat 80 saham HSC dengan bobot gabungan sekitar 18 persen terhadap indeks.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan kebijakan itu bertujuan memberikan gambaran pergerakan IHSG yang lebih wajar. “Ke depannya seluruh saham dalam HSC itu juga akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG,” ujar Jeffrey, dikutip Antara, Rabu (21/10).
Meski dikeluarkan dari perhitungan indeks, saham-saham tersebut tetap dapat diperdagangkan di bursa. “Tetap bisa diperdagangkan tetapi pergerakan harganya tidak akan mempengaruhi pergerakan IHSG,” ujarnya.
Perlu diketahui, HSC merupakan kondisi ketika kepemilikan saham perusahaan terkonsentrasi pada sejumlah kecil pemegang saham. Kondisi ini dapat membatasi saham yang tersedia untuk diperdagangkan secara bebas, dan berpotensi memengaruhi likuiditas serta pergerakan harga.
Namun, status HSC tidak otomatis menunjukkan adanya pelanggaran atau membuktikan perusahaan bermasalah. BEI menggunakan sejumlah kriteria untuk mengidentifikasinya, termasuk price impact ratio bagi saham berkapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun. Pemeriksaan dilakukan setiap tiga bulan.
Bagi investor, perubahan perhitungan IHSG berarti saham HSC tidak lagi memengaruhi indeks setelah kebijakan diterapkan, tetapi tetap dapat diperdagangkan. Investor perlu mencermati keterbukaan informasi, likuiditas, kinerja keuangan, dan risiko perusahaan, bukan hanya status HSC.
Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan tekanan terhadap rupiah akibat sentimen MSCI masih dalam batas normal. Kemarin (21/10), Rupiah ditutup pada Rp18.022 per dolar AS. “Kami masih melihat bahwa tekanannya masih relatif dalam batas yang cukup normal,” ujarnya.
Dia menegaskan, BI terus memantau aliran modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar. Salah satu kebijakannya ialah insentif pengurangan biaya lindung nilai Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) hingga 45 persen. “Sepanjang Juni hingga saat ini sudah berhasil mendatangkan inflow sampai USD 9,9 miliar,” kata Destry. (*/ibn)













