Pontianak, Jatim Mandiri – Bayyaya’ Art Connection mengangkat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pertunjukan monolog yang dilanjutkan diskusi publik di Pontianak, Senin. Kegiatan ini menghadirkan pegiat seni, anggota legislatif, dan organisasi nonpemerintah untuk membahas persoalan karhutla dari sejumlah sudut pandang.
Penulis sekaligus sutradara Merah Jam Dua, Yuda Adhari, mengatakan karya tersebut berangkat dari kegelisahannya menghadapi bencana asap yang melanda Kalimantan Barat dalam beberapa bulan terakhir. Ia memilih menyampaikan keresahan itu melalui karya seni.
“Karya ini memang lahir dari kegelisahan saya selama beberapa bulan terakhir, ketika kita terperangkap oleh asap. Hal itu mendorong saya untuk berbicara melalui karya,” kata Yuda di Pontianak, Senin.
Monolog yang diputar terinspirasi dari kisah nyata korban meninggal dunia akibat karhutla di Kabupaten Ketapang. Melalui pertunjukan tersebut, Yuda ingin menggambarkan dampak kebakaran yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa dan memengaruhi kehidupan masyarakat.
Yuda mengembangkan empat karya seni melalui program Bebakaran Dari Sudut Pandang. Karya-karya tersebut menjadi sarana untuk menyampaikan kegelisahan terhadap persoalan karhutla yang terus berulang, sekaligus membuka ruang diskusi dari berbagai perspektif.
Ia berharap kegiatan itu turut meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mencegah kebakaran hutan dan lahan. “Harapannya, persoalan ini tidak terulang lagi pada tahun-tahun berikutnya. Kita tidak ingin kebakaran hutan ini terus terjadi setiap tahun,” ujarnya.
Setelah pemutaran monolog, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik. Pembahasan tidak terbatas pada aspek lingkungan, tetapi juga mencakup perspektif politik, kebudayaan, dan agama. Forum tersebut melibatkan pegiat seni, anggota legislatif, serta organisasi nonpemerintah.
Anggota DPRD Kota Pontianak Samsudin mengapresiasi keterlibatan pegiat seni dalam mengangkat persoalan karhutla melalui karya kreatif dan diskusi publik. Menurut dia, pendekatan itu dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan kritik serta keresahan masyarakat.
“Harapan saya, anak-anak muda tetap solid dan fokus pada bidang masing-masing. Jangan menyia-nyiakan kesempatan dan ilmu yang didapatkan di bangku kuliah sebagai penyambung lidah keresahan masyarakat,” katanya.
Direktur Eksekutif Link-AR Borneo Ahmad Syukri menilai seni teater dapat membantu menyampaikan persoalan karhutla kepada masyarakat luas. Medium itu, menurutnya, dapat menjangkau generasi muda, perempuan, serta masyarakat perkotaan yang tidak menyaksikan langsung kebakaran di lapangan.
Ahmad juga menekankan penggunaan seni untuk membahas persoalan lingkungan perlu didukung riset, data, dan fakta agar pesan yang disampaikan lebih kuat serta dapat dipertanggungjawabkan. Pendekatan seni dan diskusi publik diharapkan memperluas pemahaman mengenai dampak karhutla dan meningkatkan perhatian terhadap pencegahannya.
Bayyaya’ Art Connection, yang berada di bawah naungan Yayasan Garis Lurus Borneo, berharap program Bebakaran Dari Sudut Pandang dapat menjangkau lebih banyak kalangan. Karya seni dan diskusi lintas sektor diharapkan memperkuat kesadaran bersama untuk mencegah tragedi karhutla terulang setiap tahun.












