Jember, Jatimmandiri.id – Pemerintah Kabupaten Jember menyiapkan kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) dan pembelajaran daring jika antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) terus bertambah panjang hingga mengganggu aktivitas masyarakat.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan, langkah tersebut menjadi opsi darurat apabila kondisi antrean BBM semakin sulit dikendalikan.
“Kami juga telah menyiapkan skema antisipasi jika antrean terus memanjang dan mengganggu mobilitas harian warga. Kebijakan darurat, seperti imbauan kerja dari rumah (work from home/WFH) hingga pembelajaran secara daring, siap diterapkan jika situasi mendesak,” kata Bupati Jember Muhammad Fawait di Jember, Senin.
Antrean panjang masih terlihat di sejumlah SPBU. Kondisi itu tidak hanya terjadi pada BBM bersubsidi, tetapi juga Pertamax. Di tingkat pengecer, harga Pertalite yang biasanya Rp12 ribu per botol naik menjadi Rp15 ribu, sedangkan Pertamax dijual Rp18 ribu per botol.
Fawait memastikan persoalan tersebut bukan akibat isu politik global. Menurut dia, pasokan BBM secara nasional maupun untuk Jember tetap aman. Gangguan justru terjadi pada jalur distribusi dari Depo Banyuwangi menuju Jember.
“Hambatan teknis pada rantai pendistribusian pasokan BBM dari Depo Banyuwangi menuju Jember menjadi pemicu utama terjadinya antrean. Gangguan pada jalur distribusi itu tercatat telah terjadi sebanyak tiga kali dan berdampak pada beberapa daerah sekaligus,” katanya.
Pemkab Jember telah melayangkan protes resmi kepada Pertamina terkait lambannya penanganan dan mitigasi distribusi. Namun, pemerintah daerah memilih mendorong penyelesaian bersama.
Pertamina kemudian menambah pasokan BBM melebihi kuota harian normal untuk mempercepat penguraian antrean. Pemkab berharap kondisi distribusi kembali normal dalam beberapa hari.
“Pemerintah Daerah bersama DPRD Jember mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan (panic buying). Evaluasi berkala terus kami lakukan melalui rapat koordinasi untuk mengawal penanganan taktis di lapangan,” ujar Gus Fawait.
Untuk mencegah kejadian serupa, Pemkab Jember mengusulkan diversifikasi jalur pasokan. Pertamina diharapkan tidak hanya mengandalkan Depo Banyuwangi, tetapi juga mempertimbangkan titik alternatif seperti Surabaya atau Malang.
“Diversifikasi jalur distribusi dinilai sangat penting untuk mengantisipasi potensi kemacetan lalu lintas yang sering terjadi di jalur utama Banyuwangi, sehingga kelancaran pasokan BBM di masa mendatang dapat terjamin tanpa gangguan berulang,” katanya.












