Surabaya, Jatimmandiri.id – Perbedaan latar budaya dan pendekatan artistik menjadi tantangan sekaligus kekuatan dalam persiapan kolaborasi Teater Api Indonesia dengan kelompok seni pertunjukan asal Jerman, Tan.Going Performance. Kedua kelompok tengah merumuskan kompromi estetika agar perbedaan karakter teater dapat berpadu menjadi satu eksplorasi pertunjukan.
Persiapan kolaborasi internasional tersebut dibahas dalam pertemuan koordinasi di Wisma Jerman, Surabaya, Jumat (30/10/2026). Pertunjukan dijadwalkan berlangsung pada 2 November 2026 di Gedung Cak Durasim, Surabaya.
Sutradara Teater Api Indonesia, Luhur Kayungga, menjelaskan bahwa rangkaian program tidak hanya berfokus pada pementasan. Kedua kelompok juga menyiapkan workshop kolaboratif, studi budaya, serta pendalaman instrumen gamelan di Kota Batu.
Proses latihan bersama berlangsung dinamis dengan berbagai tantangan teknis. Tim produksi harus menyesuaikan jadwal dan lokasi latihan yang beberapa kali berpindah akibat benturan penggunaan tempat serta kondisi cuaca hujan.
Eksplorasi artistik bahkan melibatkan pengalaman fisik yang tidak biasa. Para aktor berlatih di tengah guyuran hujan lebat hingga melakukan aksi tidur di atas genangan air. Kondisi tersebut menjadi bagian dari penjelajahan ketubuhan untuk menemukan respons artistik terhadap realitas alam.
Meski aktivitas itu sempat menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan peserta, antusiasme para aktor tetap tinggi dalam menjalani proses kreatif.
Tantangan berikutnya adalah mempertemukan karakter kekaryaan masing-masing kelompok. Teater Api Indonesia dikenal dengan pilihan estetika yang sarat ketegangan dan ekspresi fisik kuat, sementara Tan.Going Performance membawa pendekatan artistiknya sendiri.
Luhur menegaskan, kolaborasi tidak dimaksudkan untuk menghilangkan identitas masing-masing kelompok, melainkan menemukan titik temu melalui dialog kreatif.
“Kami tidak memaksakan peleburan gagasan secara sepihak. Yang dilakukan adalah menjembatani dua pendekatan budaya seni melalui komunikasi dan kompromi estetika, sehingga tercipta keterpaduan penjelajahan ketubuhan di atas panggung,” pungkas Luhur.
Melalui proses tersebut, kolaborasi ini diharapkan menghadirkan pengalaman pertunjukan lintas budaya yang mempertemukan eksplorasi tubuh, gagasan artistik, dan kekayaan tradisi seni Indonesia dengan pendekatan teater Jerman.












