Surabaya, Jatimmandiri.id – Generasi muda memiliki peluang luas untuk berkiprah di kancah politik dan menduduki jabatan publik.
Syarat utamanya adalah memiliki kapasitas, kompetensi, prestasi, serta integritas yang kuat.
Di era meritokrasi saat ini, latar belakang keluarga, kekayaan, maupun status sosial seharusnya tidak lagi menjadi penghalang bagi anak muda untuk mengambil peran strategis dalam membangun demokrasi.
Pesan tersebut disampaikan Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr Lia Istifhama MEI, saat menjadi narasumber dalam acara Sekolah Legislator.
Kegiatan bertajuk Legislatif Muda: Membangun Generasi Kritis, Aspiratif, Berintegritas ini diikuti dengan antusias oleh kalangan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor III Untag Surabaya Dr Sumiati, Wakil Dekan FISIP Untag Surabaya Insan Romadhon, serta dosen Wahyu Kuncoro.
Hadir pula Samsol Arif Marla dari unsur advokasi DPRD Bangkalan, dan anggota DPRD Surabaya Muhammad Syaifuddin.
Di hadapan para mahasiswa, Ning Lia menekankan bahwa generasi muda, termasuk Gen Z dan Gen Alpha, harus proaktif mempersiapkan diri menghadapi tantangan kepemimpinan masa depan.
Tidak cukup hanya menguasai pengetahuan atau mahir menyampaikan gagasan, seorang pemimpin muda juga wajib mampu membaca persoalan, menawarkan solusi nyata, serta memiliki kepekaan sosial.
Menurutnya, sistem meritokrasi memberikan ruang yang adil bagi setiap individu untuk berkembang berdasarkan kemampuan dan kualitas diri.
Oleh karena itu, anak muda perlu membekali diri dengan keterampilan yang relevan, memperluas wawasan kebijakan publik, dan berani mengambil tanggung jawab di ruang demokrasi.
“Gagasan meritokrasi yang menempatkan kemampuan, kompetensi, prestasi, dan integritas sebagai dasar seseorang memperoleh posisi atau kepercayaan. Dengan prinsip ini, kesempatan berkiprah di dunia legislatif tidak semestinya hanya terbuka bagi mereka yang memiliki kekayaan, kedekatan politik, atau latar belakang tertentu,” tegas Ning Lia, Minggu (1/11/2026).
Putri KH Masykur Hasyim ini memandang politik sebagai ruang pengabdian yang mulia.
Ia merumuskan esensi politik ke dalam akronim SENI. Yakni, Strategy, Equity, Nation, dan Integrity.
Keempat unsur tersebut menjadi fondasi penting bagi seorang politisi.
Strategy untuk membaca persoalan dan merumuskan langkah taktis.
Equity demi memastikan keadilan dalam setiap kebijakan.
Nation yang menempatkan kepentingan bangsa sebagai orientasi perjuangan.
Integrity sebagai pagar moral dalam mengemban amanah.
“Politik tidak cukup dipahami sebagai perebutan jabatan atau kekuasaan. Politik harus menjadi sarana untuk merumuskan kebijakan yang adil, memperjuangkan kepentingan masyarakat, dan menjaga keberlanjutan bangsa,” tambahnya.
Perempuan yang dikenal ramah ini juga mengingatkan bahwa mahasiswa yang berminat terjun ke dunia legislatif harus membuktikan kapasitas lewat kerja nyata.
Integritas menjadi harga mati karena jabatan publik berkaitan langsung dengan hajat hidup orang banyak dan pengelolaan kekayaan negara.
Kekuasaan, kata dia, harus menjadi instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan sarana mencari keuntungan pribadi.
Lebih lanjut, keponakan Gubernur Jatim Khofifah ini mengajak generasi muda untuk menumbuhkan karakter statesman atau negarawan.
Seorang negarawan sejati tidak sekadar memikirkan syahwat politik jangka pendek, melainkan masa depan bangsa secara jangka panjang.
“Prinsip think about our country and think about next generation menjadi pengingat bahwa kebijakan publik harus memperhitungkan dampak jangka panjang. Pemimpin perlu melihat lebih jauh daripada kepentingan sesaat dan memastikan keputusan yang diambil mendukung keberlanjutan pembangunan, tanpa terkotak-kotak atau menghilangkan semangat bekerja bersama demi kepentingan bangsa,” paparnya.
Sementara itu, Wakil Rektor III Untag Surabaya Sumiati menyambut baik kehadiran para legislator yang hadir membagikan ilmu secara langsung kepada mahasiswa.
Menurutnya, pengalaman empiris para wakil rakyat sangat berharga untuk membuka mata mahasiswa terhadap dinamika politik di lapangan.
Ia lantas mengapresiasi perjalanan karier Lia Istifhama yang sukses melenggang sebagai senator DPD RI dari Jatim pada Pemilu 2024.
Konsistensi Ning Lia dalam turun langsung menyapa konstituen usai terpilih dinilai sebagai teladan nyata bahwa mandat rakyat harus dijaga dengan kedekatan dan kerja nyata.
“Seperti Ning Lia, bagaimana bisa menjadi salah satu dari empat senator terpilih dari 14 calon yang bertarung pada Pemilu 2024. Setelah terpilih, Ning Lia berkeliling menyapa konstituennya. Itu tentu memiliki tantangan tersendiri. Karena itu, kesempatan ini sangat berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari para legislator hebat seperti Ning Lia,” puji Sumiati.












