Palu, Jatim Mandiri – Pemerintah Kota Palu meningkatkan kapasitas 160 pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) pemula melalui pelatihan kewirausahaan. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan UMKM itu berlangsung di Palu, Ibu Kota Sulawesi Tengah, pada Rabu (28/10). Pelatihan ditujukan agar para peserta dapat mengembangkan usaha dan naik kelas.
Asisten bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Palu Rahmad Mustafa mengatakan, perencanaan menjadi bagian penting sebelum seseorang menjalankan bisnis. Pelaku usaha, menurutnya, perlu mengenali kebutuhan pasar, menilai kemampuan modal, serta memperhatikan manajemen agar kegiatan usaha lebih siap menghadapi tantangan.
“Menjalankan kegiatan bisnis skala kecil maupun besar harus didahului dengan survei, kebutuhan pasar dan kemampuan modal serta manajemen. Langkah itu perlu, supaya ketika kegiatan usaha berjalan, dapat lebih kuat menghadapi tantangan,” kata Rahmad saat menghadiri pelatihan kewirausahaan.
Rahmad juga menilai keterlibatan masyarakat melalui aktivitas bisnis menjadi salah satu kunci untuk menunjang pembangunan ekonomi daerah. UMKM tidak hanya berperan dalam menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat, tetapi turut menjadi kekuatan yang membantu Kota Palu bangkit setelah mengalami bencana alam pada 2018.
Ia menyampaikan bahwa pengembangan kewirausahaan perlu dirancang secara terencana. Kemampuan pelaku usaha dalam mengelola bisnis perlu menjadi perhatian, sehingga pembinaan dapat mendukung kebutuhan mereka. “Pengembangan kewirausahaan perlu dilakukan secara terencana dengan memperhatikan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola bisnis,” ujar Rahmad.
Data Pemkot Palu mencatat jumlah UMKM di kota tersebut sekitar 44.158 unit. Sektor kuliner mendominasi dengan sekitar 13.039 unit. Hingga September 2026, sekitar 5.151 UMKM telah memiliki sertifikat halal. Data tersebut menunjukkan masih ada ruang bagi pelaku usaha untuk memperoleh penguatan, termasuk terkait legalitas produk dan usaha.
Karena itu, kegiatan pelatihan perlu dilanjutkan dengan pembinaan pengolahan produk. Pendampingan juga diperlukan dalam pengurusan legalitas usaha maupun permodalan. Menurut Rahmad, rangkaian dukungan setelah pelatihan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat dan daerah secara berkelanjutan.
Pengembangan produk juga menjadi perhatian bagi peserta. Rahmad mengingatkan bahwa kebutuhan pasar dapat berubah, sehingga pelaku UMKM perlu mengembangkan inovasi. “Pelaku UMKM dituntut harus mampu berinovasi dalam konteks pengembangan produk, karena pasar sangat dinamis,” ujarnya.
Selain inovasi, pelaku usaha pemula dapat membangun jaringan bisnis. Hubungan dan komunikasi yang baik antarpengusaha bisa membantu pertukaran informasi, berbagi pengalaman, serta penjajakan peluang kerja sama untuk menunjang pertumbuhan usaha. Langkah tersebut menjadi salah satu bagian yang disebut Rahmad penting bagi pelaku UMKM.
“Sangat penting, agar UMKM pemula mampu menghadapi persaingan, membaca peluang pasar, dan menghasilkan produk maupun layanan yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat,” kata Rahmad. Pelatihan kewirausahaan, pembinaan produk, pendampingan legalitas dan permodalan, serta pengembangan jaringan diarahkan untuk mendukung UMKM pemula menghadapi persaingan dan mengembangkan kegiatan bisnisnya.












