Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Ketidakpastian nasib terus membayangi ratusan pelaku usaha pascakebakaran hebat yang melumpuhkan Pasar Induk Krian.
Hingga Kamis (1/10/2026), lebih dari 100 pedagang masih telantar dan terpaksa menggelar lapak seadanya di pinggir jalan akibat proyek rehabilitasi fisik bangunan pasar yang tak kunjung terealisasi.
Kondisi memprihatinkan ini memantik sorotan tajam dari DPRD Sidoarjo.
Legislatif menyesalkan mandeknya penyerapan anggaran daerah senilai Rp5 miliar pada pos anggaran sebelumnya.
Tersendatnya serapan dana tersebut ditengarai akibat simpang siur dan ketidakjelasan sinkronisasi rencana bantuan rekonstruksi antara pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo. Alhasil mengorbankan mata pencaharian pedagang kecil.
Wakil Ketua DPRD Sidoarjo, Suyarno, mendesak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk bergerak taktis tanpa terjebak aksi saling lempar tanggung jawab anggaran dengan pemerintah pusat.
“Kami di dewan sangat menyayangkan mengapa anggaran daerah senilai Rp5 miliar pada pos sebelumnya justru mandek dan tidak terserap maksimal. Alasan klasiknya selalu karena menunggu kejelasan dana pendampingan dari pusat. Ini keliru, hajat hidup lebih dari 100 pedagang yang sekarang telantar di pinggir jalan itu tidak bisa ditunda-tunda. Pemkab Sidoarjo harus berani mengambil diskresi menggunakan APBD murni secara mandiri terlebih dahulu agar rehabilitasi fisik Pasar Krian segera dikerjakan sebelum musim hujan tiba,” tegas Suyarno dihubungi.
Lambatnya penanganan pascabencana ini menjadi pukulan ekonomi yang amat berat bagi para korban.
H Mudzakir (52), perwakilan pedagang yang kini terpaksa berjualan di trotoar luar pasar, mengaku omzetnya merosot tajam akibat ketiadaan fasilitas yang layak.
“Sejak kebakaran itu, nasib kami seperti digantung tanpa kepastian. Kami terpaksa berjualan di pinggir jalan, kepanasan kalau siang dan kalau hujan dagangan kami basah semua. Pembeli juga malas datang karena semrawut,” keluh Mudzakir.
Lambannya pemulihan pusat ekonomi mikro Pasar Induk Krian kini menjadi ujian krusial bagi komitmen Pemkab Sidoarjo dalam memberikan perlindungan fasilitas publik serta memulihkan perekonomian masyarakat secara berkeadilan.
Warga berharap, Pemkab segera melakukan revitalisasi dalam waktu dekat.
“Kami mendengar kabar anggaran Rp5 miliar itu ada tapi tidak dipakai karena masalah administrasi dengan pusat. Kami rakyat kecil tidak paham urusan birokrasi itu, yang kami butuhkan hanya satu, tolong pasar kami segera dibangun kembali agar kami bisa berdagang dengan layak dan tidak terus-terusan merugi di jalanan,” tuntasnya.












