Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Paparan cuaca panas ekstrem yang melanda Kabupaten Sidoarjo dalam beberapa pekan terakhir mulai memukul sektor pertanian lokal.
Suhu udara menyengat yang menembus angka 36 derajat celsius memaksa Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Sidoarjo menyiagakan alarm kewaspadaan tinggi, terutama bagi para petani di kawasan persawahan tambak wilayah Kecamatan Jabon dan Kecamatan Sedati.
Kondisi tanah yang mengering akibat laju penguapan tinggi menempatkan tanaman padi pada fase kritis yang rentan mengalami puso atau gagal panen.
Merespons situasi darurat ini, pemerintah daerah bergerak cepat melakukan intervensi dengan mengoptimalkan pasokan serta pembagian debit air melalui jaringan saluran irigasi sekunder.
Koordinator Data dan Informasi BMKG Juanda, Teguh Tri Susanto, menjelaskan bahwa lonjakan suhu udara menyengat ini dipicu oleh minimnya tutupan awan pada fase puncak peralihan musim.
“Analisis dinamika atmosfer terkini menunjukkan bahwa pergerakan semu matahari berada tepat di atas garis katulistiwa, ditambah dengan embusan angin monsun tenggara yang kering dari benua Australia. Hal ini menyebabkan intensitas radiasi matahari langsung ke bumi menjadi sangat maksimal, sehingga suhu udara di Sidoarjo konsisten menyentuh 36 derajat celsius pada siang hari. Kami memprediksi kondisi terik tanpa hujan ini masih akan bertahan hingga beberapa pekan ke depan, dan kami mengimbau sektor pertanian untuk mengatur pola sirkulasi air secara cermat,” urai Teguh, Kamis (1/10/2026).
Ancaman kekeringan ini memicu kecemasan mendalam di tingkat petani arus bawah.
Sukarno (54), seorang Ketua Kelompok Tani di Sidoarjo, mengungkapkan bahwa minimnya pasokan air saat ini berkejaran langsung dengan waktu pematangan usia padi yang sangat krusial.
“Kami para petani di wilayah Jabon dan Sedati sangat cemas karena debit air irigasi terus menyusut drastis, padahal tanaman padi saat ini sedang masuk fase pengisian bulir. Jika dalam satu minggu ke depan sawah tambak kami tidak mendapatkan pasokan air tawar yang cukup dari saluran sekunder, bulir padi akan kopong dan kami dipastikan menghadapi risiko gagal panen total atau puso,” keluh Sukarno penuh rasa khawatir.
Kini, keberlangsungan ketahanan pangan di kawasan pesisir Kota Delta bergantung penuh pada efektivitas distribusi air irigasi buatan untuk menekan dampak buruk fenomena cuaca ekstrem tersebut.
“Kami sangat berharap bantuan penggelontoran air dari dinas terkait bisa dialirkan secara adil dan merata setiap malam agar modal tanam kami tidak hangus begitu saja,” harapnya.












