Jatim

Harlah ke-80 Muslimat NU di Kaltara: Khofifah Dorong Peran Perempuan Jadi Madrasah Bangsa dan Penggerak Perdamaian Dunia

Penulis: Hari AgungEditor: Alif Bintang
×

Harlah ke-80 Muslimat NU di Kaltara: Khofifah Dorong Peran Perempuan Jadi Madrasah Bangsa dan Penggerak Perdamaian Dunia

Sebarkan artikel ini
Muslimat NU
Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa hadiri Harlah ke-80 Muslimat NU di Kaltara
Example 468x60

Intisari Berita:

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id
    • Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengajak perempuan menjadi pilar pendidikan karakter keluarga sekaligus garda perdamaian global.
    • Muslimat NU kini diperkuat oleh lebih dari 2.600 paralegal bersertifikat internasional serta asosiasi beranggotakan 206 profesor perempuan.
    • Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang mengapresiasi delapan dekade pengabdian Muslimat NU dalam mendidik generasi muda di wilayah perbatasan.

Tarakan, Jatimmandiri.id — Suasana khidmat menyelimuti peringatan Maulidurrasul sekaligus Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat Nahdlatul Ulama yang digelar Pengurus Wilayah Kalimantan Utara di Kantor Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Utara, Selasa (8/9). Ratusan kader Muslimat NU se-Kaltara berbaur melantunkan shalawat nabi, meneguhkan kembali komitmen keumatan dan kebangsaan dari beranda utara Indonesia.

Hadir langsung dalam agenda tersebut, Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU yang juga Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bersama Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang. Kehadiran dua pimpinan daerah ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas wilayah serta peran krusial organisasi perempuan dalam membina moral generasi penerus di tengah dinamika peradaban global.

Dalam arahannya, Khofifah mengajak seluruh kader menjadikan momentum dwi-peringatan ini sebagai titik tolak untuk memperkuat kapasitas diri. Perempuan, tegasnya, tidak hanya berfungsi sebagai madrasah utama di ruang domestik, melainkan memiliki posisi tawar strategis untuk mengintervensi perdamaian dunia.

“Hari ini kita peringati Maulid Nabi Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua mendapat syafaat Rasulullah SAW. Saya ingin mengajak panjenengan semua, kita hadir di sini selain memperingati Harlah Muslimat tapi juga Maulid Nabi Muhammad SAW,” ujar Khofifah membuka sambutannya.

Membumikan Teladan Nabi: Ibu sebagai Madrasah Ula dan Fondasi Karakter

Bagi Khofifah, peringatan maulid harus melampaui seremoni formal. Refleksi keteladanan Nabi Muhammad SAW menuntut implementasi konkret, terutama dalam penguatan akhlak di tingkat keluarga. Di ranah inilah sosok ibu memegang peranan mutlak sebagai madrasah ula (sekolah pertama) yang menyemai cinta, toleransi, dan keimanan.

Baca Juga  Disperta Kab. Probolinggo Berbenah untuk Perpanjang Sertifikat NKV

“Setiap pengajian, saya yakin semua orang tua berdoa mendoakan anaknya mempunyai akhlakul karimah, menjadi anak yang solih, solihah. Saya berharap yang Ibu lantunkan, Mars Muslimat NU, kita semua bisa mendidik dan membina putra-putri bangsa,” imbuh Khofifah di hadapan ratusan jamaah.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak melupakan wasilah spiritual dalam merawat keturunan, mengutip firman Allah SWT dalam doa Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama.

“Tidak lupa ya Bu. Mohon kepada Allah, supaya kita ketemu keluarga, ketemu anak kita qurrata a’yun (penyejuk mata). Mohon kepada Allah setelah shalat, bersama tambahkan doa tersebut,” pesannya.

Menurut Khofifah, kesalehan spiritual masyarakat Indonesia terbukti menjadi modal sosial yang kokoh dalam menopang kesuksesan hidup.

“Dari berbagai survey warga negara yang paling rajin berdoa itu adalah warga Indonesia. Kita menyadari bahwa sukses itu bukan keberhasilan pribadi, tapi berkat adanya wasilah doa,” jelasnya.

Kiprah Global dan Intelektual: 206 Profesor dan 2.600 Paralegal

Eksistensi Muslimat NU selama delapan dasawarsa kini telah bertransformasi menjadi kekuatan advokasi dan intelektual yang terstruktur. Untuk membentengi hak-hak perempuan dan anak di tingkat akar rumput, organisasi telah melahirkan ribuan tenaga advokasi lapangan terlatih.

“Oleh karenanya Muslimat NU memiliki paralegal. Jadi ada lebih 2.600 yang sudah diwisuda. Mereka melalui proses dan sertifikat sudah internasional,” beber Khofifah mengenai terobosan hukum yang telah digulirkan.

Tak hanya di ranah pendampingan hukum dasar, basis keilmuan akademis Muslimat NU juga mencatatkan rekor signifikan dalam kepemimpinan intelektual perempuan.

“Muslimat ini memiliki 206 profesor Muslimat NU dan Insya Allah terus berkembang. Satu-satunya asosiasi pergerakan wanita terbesar yang punya asosiasi profesor perempuan,” ungkap Khofifah.

Baca Juga  Khofifah Hadiri Harlah ke-80 di Pekanbaru: Muslimat NU Riau Deklarasikan 9 Poin Perdamaian Dunia untuk PBB

Kehadiran para pakar dan akademisi tingkat tinggi ini menjadi bukti sahih di mata internasional bahwa perempuan Indonesia memiliki kapasitas keilmuan mutakhir dalam menentukan arah pembangunan.

“Kita sampaikan pada dunia, Indonesia punya banyak ulama perempuan, ilmunya luar biasa, berperan membangun peradaban. Pola inilah yang kita kembangkan di Muslimat NU,” tegasnya.

Mandat Kemanusiaan: Dari Tarakan Mengetuk Pintu PBB

Membawa misi peradaban, Khofifah menekankan bahwa tanggung jawab perdamaian dunia tidak boleh dimonopoli oleh elite diplomatik atau aparatur kenegaraan semata. Komunitas perempuan dan masyarakat sipil dituntut aktif menabur nilai-nilai moderasi dan persaudaraan lintas bangsa.

“Yang kita harapkan ada perdamaian di dunia, diwujudkan bersama oleh warga dunia. Maka selalu ada seruan Muslimat NU kepada PBB supaya negara di dunia membangun suasana sejuk dan damai,” lugasnya.

Ia menegaskan seluruh daya intelektual dan struktural organisasi pada akhirnya harus bermuara pada asas kebermanfaatan nyata.

“Kita ikhtiarkan supaya Muslimat ini insya Allah anfa’, dalam artian anfauhum linnas, bermanfaat bagi seluruh masyarakat,” pungkas Khofifah.

Apresiasi Gubernur Zainal Arifin Paliwang: Garda Pendidikan Kalimantan Utara

Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara turut memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi dan konsistensi Muslimat NU selama delapan puluh tahun menjaga kohesi sosial bangsa. Gubernur Kaltara, Zainal Arifin Paliwang, menegaskan bahwa usia panjang organisasi ini merupakan manifestasi dari pengabdian tulus tiada henti.

“Delapan Dekade bukanlah perjalanan yang singkat, ini adalah perjalanan panjang dan pengabdian yang harus terus diapresiasi,” tutur Zainal.

Bagi Zainal, peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU di wilayahnya menjadi pelecut semangat pembinaan sumber daya manusia lokal, di mana peran ibu menjadi penentu utama arah moral daerah.

“Hari ini menjadi momentum penguat iman, akhlak dan semangat pengabdian serta mengikuti keteladanan Rasulullah. Harlah Muslimat menjadi pengingat bagaimana perempuan sebagai madrasah ula bagi anak-anak, menjadi garda terdepan dalam mendidik generasi muda di Kalimantan Utara,” tandasnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jatim

Jember, Jatimmandiri.id –  Pemerintah Kabupaten Jember menyiapkan kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) dan pembelajaran daring jika antrean kendaraan…