Beritaꦧꦸꦢꦪ

Pedang Garuda Menembus Dunia Game

Editor: ibn
×

Pedang Garuda Menembus Dunia Game

Sebarkan artikel ini
Direktur AI META Group Iwan Setiady sedang memeluk Pedang Garuda. Iwan mengakui pedang itu turut menginspirasi pembangunan game Atlantis: Rise of the Java Sea.
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

AI META Group menghadirkan Pedang Garuda dalam Atlantis: Rise of the Java Sea untuk membawa identitas Nusantara ke pasar game global melalui rekonstruksi digital. Langkah ini mempertemukan simbol Garuda dengan hipotesis Dhani Irwanto yang menempatkan Atlantis di kawasan Laut Jawa.

—-

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Pedang Garuda dipilih bukan sekadar sebagai senjata bagi karakter permainan. Benda tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi pemain mancanegara untuk mengenal simbol, cerita, dan kekayaan budaya Indonesia.

Direktur AI META Group Iwan Setiady mengatakan, keputusan menghadirkan Pedang Garuda berangkat dari keinginan membangun game Indonesia dengan identitas yang kuat. “Ketertarikan menghadirkan Pedang Garuda berangkat dari keinginan agar Atlantis: Rise of the Java Sea tidak hanya menjadi sebuah game yang lahir di Indonesia, tetapi juga memiliki identitas yang kuat dan mampu membawa imajinasi tentang kekayaan Nusantara ke panggung yang lebih luas,” kata Iwan.

Dalam pengembangan cerita, Pedang Garuda ditempatkan sebagai bagian dari dunia Atlantis. Figur Garuda dipilih karena memiliki hubungan kuat dengan identitas Indonesia dan relatif mudah dikenali oleh masyarakat internasional.

Bagi AI META, industri game mempunyai potensi lebih luas daripada sekadar menghasilkan hiburan. Game dapat memperkenalkan cerita, simbol, filosofi, sejarah, kekayaan alam, seni, arsitektur, dan mitologi suatu bangsa kepada pemain lintas negara. “Game menjadi pintu masuk bagi dunia untuk mengenal Indonesia,” ujar Iwan.

Pengenalan itu tidak harus berlangsung melalui penjelasan panjang. Ketertarikan dapat dimulai ketika pemain melihat bentuk Pedang Garuda, menjumpai nama tempat, menyusuri bentang alam, atau mengikuti cerita yang mengambil inspirasi dari Nusantara.

Dari pengalaman bermain, pemain diharapkan terdorong mencari tahu hubungan simbol dan objek dalam game dengan Indonesia. Pola tersebut membuka peluang bagi game untuk berfungsi sebagai instrumen diplomasi budaya dalam ruang digital.

Baca Juga  Teka-Teki Sundaland dan Atlantis di Laut Jawa

Pendekatan itu dipadukan dengan hipotesis Atlantis di Laut Jawa yang dikembangkan ahli teknik hidrologi Dhani Irwanto. Sejak 2010, Dhani meneliti dialog Timaeus dan Critias karya Plato dengan menghubungkan uraian geografisnya dengan kawasan Paparan Sunda.

Dhani menggunakan pendekatan lintas disiplin untuk membaca petunjuk mengenai iklim, sungai, saluran air, dataran, pelabuhan, hasil bumi, dan bencana. Ia memperkirakan latar peristiwa yang dikisahkan Plato berada sekitar 11.600 tahun lalu, ketika Jawa, Sumatera, dan Kalimantan masih terhubung dalam daratan luas Sundalandia.

Pada 2021, Mongabay Indonesia melaporkan pendekatan dan hasil kajian tersebut. “Plato menyebut Atlantis terletak dalam sebuah selat yang mempunyai pelabuhan. Itu berada di Laut Jawa,” kata Dhani, sebagaimana diberitakan ANTARA saat peluncuran bukunya, Atlantis: The Lost City Is in Java Sea, pada 2015.

Hipotesis Dhani memberi ruang imajinatif bagi AI META untuk membangun dunia permainan yang dekat dengan bentang alam dan kebudayaan Indonesia. Namun, game tersebut tidak diposisikan sebagai bukti arkeologis mengenai keberadaan Atlantis maupun asal-usul Pedang Garuda.

Dalam game tersebut, Pedang Garuda menjadi unsur kreatif yang menghubungkan simbol Nusantara dengan cerita dunia yang hilang.

Dhani juga mengakui bahwa hipotesis Atlantis di Laut Jawa belum ditopang bukti autentik yang dapat menutup perdebatan. Karena itu, ia mendorong penelitian lapangan untuk menguji berbagai kecocokan yang telah disusunnya. “Perlu ada eksplorasi mendalam untuk mengetahui keberadaan Atlantis,” ujarnya.

Batas antara hipotesis, inspirasi kreatif, dan fakta ilmiah itu penting dipertahankan. Dengan cara tersebut, Atlantis: Rise of the Java Sea dapat mengembangkan kebebasan bercerita tanpa mengubah dugaan sejarah menjadi kepastian.

Kehadiran Pedang Garuda akhirnya menawarkan peluang yang lebih besar daripada sekadar menambah perlengkapan permainan. Ia dapat menjadi penanda bahwa karya digital Indonesia mampu mengambil inspirasi dari lingkungan budayanya sendiri, kemudian membawanya ke hadapan pemain dunia.

Baca Juga  PGRI Grati Gelar Konkercab

Jika rasa ingin tahu pemain tumbuh setelah menjelajahi dunia Atlantis versi AI META, Pedang Garuda telah menjalankan peran pertamanya: membuat Indonesia dikenal melalui pengalaman bermain. (*/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Imbas Erupsi Anak Krakatau Sidoarjo, Jatim Mandiri Erupsi Anak Krakatau berdampak pada 42 penerbangan di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, hingga…

Berita

Jakarta, Jatim Mandiri Kejaksaan Agung memeriksa pihak perbankan dan sejumlah saksi untuk menelusuri transaksi dalam penyidikan dugaan TPPU dengan tersangka…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri DPRD dan Pemprov Jatim menyepakati Raperda Perubahan APBD 2026 dengan belanja Rp29,9 triliun melalui rapat paripurna di…