Jogja

1.000 Difabel Baca Proklamasi dengan Bahasa Isyarat, Pecahkan Rekor MURI

×

1.000 Difabel Baca Proklamasi dengan Bahasa Isyarat, Pecahkan Rekor MURI

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

YOGYAKARTA, Jatim Mandiri – Sebanyak 1.000 penyandang disabilitas mengikuti pembacaan teks Proklamasi menggunakan bahasa isyarat di kawasan Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta, Rabu (12/8). Kegiatan tersebut sekaligus memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).

Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) KGPAA Paku Alam X mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar upaya mengejar pencatatan rekor. Menurutnya, pesan utama yang dibawa adalah memastikan semangat kemerdekaan dapat dirasakan dan diikuti seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“Hari ini kita menyaksikan pembacaan teks proklamasi menggunakan bahasa isyarat oleh seribu penyandang disabilitas. Tentu ini adalah inisiatif yang sangat layak kita apresiasi bersama,” kata Paku Alam X di Yogyakarta, Rabu sore.

Ia menilai pembacaan Proklamasi melalui bahasa isyarat menunjukkan bahwa nilai-nilai kebangsaan, semangat kemerdekaan, serta ruang partisipasi dalam kehidupan bersama harus dapat dijangkau seluruh warga negara.

“Namun ditegaskan adalah nilai-nilai kebangsaan, semangat kemerdekaan, dan ruang partisipasi dalam kehidupan bersama harus dapat dijangkau oleh seluruh warga negara tanpa terkecuali,” ujarnya.

Menurut Paku Alam X, kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan yang berhasil dilakukan. Hal yang tidak kalah penting adalah kesempatan setiap warga untuk hadir, berpartisipasi, dan memperoleh pengakuan sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi mengatakan kegiatan tersebut membawa pesan kemanusiaan yang kuat. Ia menilai Yogyakarta menjadi tempat yang tepat untuk menyuarakan kesetaraan dan penghormatan terhadap sesama.

“Sejak dahulu Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan dan kota budaya yang mengajarkan nilai-nilai luhur tentang penghormatan kepada sesama, gotong royong serta semangat tepo seliro,” kata Siti Hediati.

Ia menegaskan setiap warga negara, apa pun kondisi dan latar belakangnya, memiliki martabat dan kesempatan yang sama.

Baca Juga  Polri Perkuat Rekrutmen Inklusif bagi Penyandang Disabilitas, Seleksi Disesuaikan dengan Kompetensi

“Setiap anak bangsa berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Siti Hediati berharap pesan yang disampaikan dari Yogyakarta tersebut dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia untuk semakin membuka ruang partisipasi bagi penyandang disabilitas.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *