Kota Besar

Wali Kota Eri Cahyadi Cek Lagi RSUD Soewandhie, Layanan IGD dan Farmasi Mulai Berbenah

×

Wali Kota Eri Cahyadi Cek Lagi RSUD Soewandhie, Layanan IGD dan Farmasi Mulai Berbenah

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Eri Cahyadi kembali mengecek RSUD Soewandhie. Layanan farmasi, IGD, dan antrean pasien dibenahi untuk mempercepat pelayanan.
Example 468x60

JatimMandiri.id – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi kembali meninjau pelayanan di RSUD Dr. Mohamad Soewandhie, Sabtu (8/8/2026). Pengecekan ini dilakukan untuk memastikan berbagai evaluasi dari inspeksi mendadak (sidak) sebelumnya telah ditindaklanjuti oleh manajemen rumah sakit.

Dalam kunjungan tersebut, Eri mengecek langsung sejumlah titik pelayanan, mulai dari Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang tunggu pasien, hingga layanan farmasi.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Ia menyampaikan, sejumlah persoalan yang ditemukan dalam sidak sebelumnya mulai menunjukkan perbaikan. Salah satunya terlihat pada pelayanan farmasi yang kini dinilai lebih cepat dan tertib.

“Saya sudah mengecek lagi pelayanan di RS Soewandhie. Alhamdulillah, beberapa evaluasi yang dulu saya temukan saat sidak, sekarang sudah dijalankan manajemen,” kata Eri.

Petugas Farmasi Ditambah, Antrean Obat Lebih Terkendali

Perubahan cukup signifikan terlihat di bagian farmasi. Jumlah petugas yang sebelumnya hanya sembilan orang kini ditambah menjadi 18 orang.

Penambahan personel tersebut berdampak pada pengurangan antrean pasien saat mengambil obat. Eri menegaskan, pelayanan publik tidak boleh hanya mempertimbangkan aspek keuntungan dan kerugian.

“Untuk pelayanan publik, pemerintah harus hadir. Tidak bisa dihitung untung-rugi. Farmasi yang dulu petugasnya sembilan, sekarang menjadi 18 petugas. Sehingga sekarang tidak ada pasien yang mengantre,” tegasnya.

Menurut Eri, peningkatan jumlah petugas merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan secara cepat dan maksimal.

Eri Minta Kapasitas IGD Dipantau Secara Real Time

Selain farmasi, perhatian Eri tertuju pada pelayanan di IGD. Ia meminta manajemen rumah sakit memastikan ketersediaan tempat tidur dapat diketahui dengan cepat.

Menurutnya, informasi mengenai tempat tidur yang masih tersedia maupun yang telah terisi harus terpantau dengan jelas. Apabila kapasitas IGD sudah penuh, pasien harus segera mendapatkan rujukan ke fasilitas kesehatan lain.

Baca Juga  Dugaan Mafia Tanah di Bulak, DPRD Surabaya Siap Bedah Warkah hingga ke Kementerian

“Di ruang IGD harus ada monitor, kamar mana yang kosong, kamar yang penuh mana. Kalau kamar penuh, ya harus dirujuk. Tidak boleh pasien menumpuk di IGD. Pelayanan harus maksimal,” ujarnya.

Sistem tersebut dinilai penting untuk mencegah penumpukan pasien di IGD sekaligus mempercepat pengambilan keputusan ketika kapasitas pelayanan rumah sakit telah mencapai batas.

Antrean Pasien Ditata Berdasarkan Jadwal

Eri juga mengevaluasi sistem antrean di ruang tunggu RSUD Soewandhie. Pasien yang telah mendaftar melalui layanan e-health diarahkan datang sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Sementara itu, masyarakat yang datang langsung tanpa melakukan pendaftaran melalui e-health akan mengikuti mekanisme pelayanan tersendiri. Mereka akan dilayani setelah antrean pasien yang telah memiliki jadwal selesai.

Eri menjelaskan, pengaturan tersebut bukan untuk membatasi masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan. Penataan dilakukan agar antrean lebih tertib dan pasien yang telah memiliki jadwal tidak kehilangan haknya karena adanya pasien yang datang tanpa pendaftaran sebelumnya.

Penataan sistem antrean ini juga menjadi bagian dari upaya Pemkot Surabaya mengurangi kepadatan di ruang tunggu RSUD Soewandhie.

Keluhan Warga Jadi Bahan Evaluasi

Eri menegaskan, pengecekan langsung ke rumah sakit bukan dilakukan untuk mencari kesalahan. Sebaliknya, berbagai keluhan masyarakat yang diterima melalui kanal pengaduan dijadikan bahan untuk mencari solusi dan meningkatkan kualitas pelayanan.

“Saya selalu percaya kalau nakes (tenaga kesehatan) Soewandhie terus berusaha maksimal memberi pelayanan yang terbaik. Saya juga berusaha mendengarkan keluhan pasien yang masuk lewat hotline,” ungkapnya.

Ia pun mengapresiasi manajemen RSUD Soewandhie beserta seluruh tenaga kesehatan yang telah merespons evaluasi dan melakukan sejumlah perbaikan.

Menurut Eri, kritik dan masukan yang muncul saat sidak merupakan bagian dari proses bersama untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Baca Juga  HUT Ke-81 RI, 1.103 Warga Binaan Lapas Kelas I Surabaya Diusulkan Raih Remisi Umum

Jumlah Tenaga Kesehatan Harus Mengikuti Jumlah Pasien

Eri meminta manajemen RSUD Soewandhie terus menyesuaikan jumlah tenaga kesehatan dengan perkembangan jumlah pasien. Ketika jumlah kunjungan meningkat, kapasitas tenaga medis dan perawat juga harus diperkuat.

“Mulai sekarang, kalau jumlah pasien bertambah, nakesnya juga ditambah. Sehingga bisa mempercepat pelayanan kepada warga Surabaya yang sakit,” tegasnya.

Ia berharap hubungan antara tenaga kesehatan dan masyarakat juga terus dibangun secara positif. Menurutnya, kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh sistem dan fasilitas, tetapi juga oleh komunikasi serta interaksi antara pasien dan tenaga kesehatan.

“Alhamdulillah sekarang sudah ada solusinya, pelayanan menjadi cepat. Sekarang nakes dan warga Surabaya harus bergandengan agar pelayanannya bagus,” imbuhnya.

Eri menambahkan, pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus mengutamakan kecepatan dan ketertiban. Termasuk bagi masyarakat yang mendapatkan layanan kesehatan melalui BPJS.

“Layanan kesehatan melalui BPJS harus tetap cepat dan rapi. Kemudahan yang diberikan kepada masyarakat harus diiringi dengan pelayanan yang berkualitas,” pungkasnya. (*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *