YOGYAKARTA, JATIM MANDIRI – Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan tidak menjadi alasan untuk berhenti bercocok tanam. Konsep urban farming dengan memanfaatkan barang bekas seperti galon justru dinilai bisa menjadi salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat Kota Yogyakarta.
Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengatakan pemanfaatan ruang sempit di sekitar rumah untuk menanam berbagai jenis sayuran dan tanaman pangan dapat diterapkan masyarakat meskipun tidak memiliki lahan yang luas.
“Konsepnya urban farming, menanam di galon-galon bekas, hasilnya juga tidak kalah. Metode ini dapat menjadi salah satu solusi untuk mendukung ketahanan pangan di kawasan perkotaan,” kata Wawan di Yogyakarta, Selasa (25/8/2026).
Salah satu contoh penerapan konsep tersebut dilakukan warga Gemblakan, Danurejan. Warga memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam untuk berbagai tanaman, termasuk bawang merah.
Bahkan, tanaman bawang merah yang dibudidayakan warga telah berhasil dipanen. Menurut Wawan, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa bercocok tanam tetap dapat dilakukan di tengah keterbatasan lahan perkotaan.
Tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, hasil dari urban farming juga berpotensi memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat apabila dikembangkan secara lebih serius.
“Ini bisa menjadi percontohan bagi warga setempat untuk menanam bawang merah di tempat-tempat lain,” ujarnya.
Wawan mengatakan media tanam sederhana seperti galon bekas juga dapat digunakan untuk membudidayakan berbagai tanaman lainnya. Masyarakat bisa menanam cabai, tomat, sawi, terong hingga tanaman pangan lainnya sesuai kondisi ruang yang tersedia.
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus dapat menginspirasi masyarakat untuk mulai memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri.
“Ini menginspirasi warga untuk ketahanan pangan. Cabai ditanam sendiri, bawang merah tanam sendiri. Bisa jadi solusi untuk perkotaan yang sempit. Urban farming di kota bisa berjalan walaupun tidak memiliki lahan yang besar,” katanya.
Ia menilai keterbatasan lahan bukan hambatan utama dalam mewujudkan ketahanan pangan di kawasan perkotaan. Kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan ruang dan barang bekas dapat mengubah area kecil di sekitar rumah menjadi lahan produktif.
“Yang penting niat dan mendapatkan cahaya matahari yang cukup. Lahan sempit sekalipun bisa menjadi tempat bercocok tanam,” ujar Wawan.
Sementara itu, warga Gemblakan Daliman membagikan pengalaman dalam membudidayakan bawang merah menggunakan media sederhana. Menurutnya, bawang merah membutuhkan media tanam yang gembur agar pertumbuhan umbi dapat berlangsung optimal.
Media tanam dapat menggunakan campuran tanah dan sekam. Tanaman kemudian disiram secara rutin sekitar satu kali sehari.
“Bawang merah membutuhkan tanah yang gembur, tidak keras, supaya umbinya cepat tumbuh. Penyiraman tanaman rutin, intinya sehari satu kali. Untuk bawang merah ini memiliki masa panen sekitar dua bulan,” kata Daliman.
Menariknya, Daliman juga menerapkan pola tanam bertahap. Ketika bawang merah memasuki usia satu bulan, ia mulai menyusulkan tanaman cabai.
Dengan pola tersebut, saat bawang merah dipanen pada usia sekitar dua bulan, tanaman cabai sudah mulai tumbuh dan nantinya dapat dipanen berikutnya.
Pola sederhana tersebut menunjukkan bahwa urban farming tidak harus dilakukan dengan teknologi mahal. Dengan memanfaatkan ruang yang tersedia, barang bekas, serta pemilihan tanaman yang tepat, masyarakat perkotaan dapat ikut berkontribusi memperkuat ketahanan pangan dari lingkungan rumah masing-masing.












