Malang, Jatimmandiri.id – Limbah peternakan ayam yang selama ini berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan mulai dikembangkan menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat. Universitas Brawijaya (UB) melalui Tim Bestari Saintek 2026 mengolah kotoran ayam menjadi pupuk organik sekaligus merintis ekosistem ekonomi sirkular yang menghubungkan peternak dengan kelompok tani di Desa Bluri, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan.
Inovasi yang dipimpin Prof Dr Setyono Yudo Tyasmoro tersebut diperkenalkan kepada Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan dalam pameran Living Lab UB di Auditorium UB. Program ini menjadi contoh penerapan hasil penelitian perguruan tinggi untuk menjawab persoalan lingkungan sekaligus menciptakan produk bernilai guna.
Prof Yudo menjelaskan, limbah kandang ayam petelur maupun pedaging memiliki potensi sebagai bahan baku pupuk organik apabila melalui proses pengolahan yang tepat. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengubah hasil samping peternakan menjadi sumber daya produktif bagi sektor pertanian.
“Selama ini, limbah kandang ayam dipandang sebagai hasil samping kegiatan peternakan yang membutuhkan penanganan. Padahal, apabila diolah melalui proses yang tepat, bahan tersebut berpotensi menjadi sumber bahan baku pupuk organik,” katanya.
Pengembangan inovasi menggunakan pendekatan Living Laboratory dengan melibatkan berbagai pihak. UB bertanggung jawab terhadap pengembangan teknologi, pendampingan, dan pengujian mutu. PT Bless Coco Indonesia menjadi mitra pengolahan produk, sedangkan paguyuban peternak ayam menyediakan bahan baku. Kelompok Tani Loh Jinawi Bluri berperan dalam pemanfaatan pupuk, dengan dukungan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan.
Menurut Yudo, kolaborasi tersebut menerapkan prinsip co-creation, yakni menciptakan inovasi bersama. Masyarakat dilibatkan sejak pengembangan, pengamatan, pengujian hingga pemanfaatan produk, bukan sekadar menjadi penerima hasil penelitian.
Proses produksi dilakukan menggunakan dekomposer untuk membantu penguraian bahan organik. Tim memantau suhu, pH, dan kondisi bahan secara berkala guna memastikan tahapan pengolahan berjalan sesuai rencana.
Produk yang dihasilkan kemudian diuji di laboratorium kimia tanah Fakultas Pertanian UB. Pengujian mencakup karakteristik dan kandungan pupuk berdasarkan parameter standar mutu pupuk organik padat.
Tahap berikutnya diarahkan pada penyempurnaan formulasi dengan penambahan biochar serta mikroorganisme pendukung, antara lain Azospirillum sp. dan Azotobacter sp.. Tim akan menguji potensi efektivitas formulasi tersebut terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.
“Tujuan program tidak hanya menghasilkan produk pupuk organik, tetapi juga membangun sistem kerja sama yang berkelanjutan,” ujarnya.(












