Nganjuk, Jatimmandiri.id — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk melalui Dinas Pendidikan terus memperkuat langkah strategis dalam menanggulangi persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS).
Fokus penanganan kini tidak sekadar memfasilitasi kesempatan belajar kembali, tetapi juga diarahkan untuk membangun karakter, kedisiplinan, serta motivasi agar peserta didik mampu merajut masa depan hingga jenjang yang lebih tinggi.
Komitmen tersebut diwujudkan secara nyata melalui kegiatan bertajuk Optimalisasi Penanganan Anak Tidak Sekolah melalui Penguatan Pendidikan Karakter pada Warga Belajar Kesetaraan Program Paket A, Paket B, dan Paket C.
Acara ini dipusatkan di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kecamatan Nganjuk, Kamis (5/11/2026).
Kegiatan penting ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro, Kepala Dinas Pendidikan Puguh Harnoto, Camat Nganjuk, para kepala desa dan lurah se-Kecamatan Nganjuk, jajaran kepala SKB dan PKBM se-Kabupaten Nganjuk, serta para calon warga belajar dari kalangan ATS.
Dalam laporan pembukanya, Kepala Dinas Pendidikan Nganjuk, Puguh Harnoto, menegaskan bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara yang wajib dipenuhi tanpa diskriminasi latar belakang sosial maupun ekonomi.
Pemerintah, kata dia, berkewajiban memastikan seluruh anak mendapatkan akses layanan pendidikan yang bermutu dan inklusif.
Puguh menilai, jalur pendidikan kesetaraan, baik melalui Paket A, Paket B, maupun Paket C, menjadi solusi strategis sebagai second chance bagi anak-anak yang terkendala mengikuti pendidikan formal.
Fleksibilitas program ini dirancang agar dapat menyesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan riil peserta didik.
“Namun, penanganan anak tidak sekolah tidak cukup hanya dengan mengembalikan anak ke satuan pendidikan. Kita juga perlu memastikan mereka aktif mengikuti pembelajaran, memiliki motivasi belajar, serta mampu mengembangkan potensi dirinya,” jelas Puguh.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro turut memberikan pengarahan sekaligus suntikan motivasi bagi para calon warga belajar.
Ia menekankan pentingnya pendekatan pendampingan yang personal dan solutif berdasarkan akar masalah masing-masing individu.
“Mulai dari faktor keterbatasan ekonomi, kesehatan, hingga persoalan administrasi pendidikan di masa lalu yang belum tuntas, maka harus dicarikan solusinya,” tandas Wabup.












