Jember, Jatimmandiri.id – Perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan penelitian dan publikasi ilmiah, tetapi juga memastikan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan perubahan nyata bagi masyarakat. Prinsip tersebut menjadi landasan Universitas Jember (Unej) dalam memperluas kolaborasi dengan desa melalui program pemberdayaan, pendampingan, dan pengembangan potensi lokal.
Komitmen itu diwujudkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Unej melalui Sarasehan, Expo, dan Temu Desa Binaan bertema “Kampus Berdampak, Desa Berdaya: Kolaborasi Multipihak untuk Membangun Peradaban dan Kesejahteraan Desa” di Gedung Auditorium Unej, Selasa(3/11). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-62 Unej.
Rektor Unej Iwan Taruna menegaskan, pembangunan desa harus menempatkan masyarakat sebagai mitra strategis perguruan tinggi. Desa memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kearifan lokal yang dapat menjadi modal penting dalam merumuskan solusi atas persoalan pembangunan.
“Desa tidak boleh dipandang sekadar sebagai objek penelitian atau objek pengabdian. Desa adalah ruang kehidupan masyarakat tempat berkembangnya ekonomi lokal, budaya, dan berbagai persoalan pembangunan yang harus kita selesaikan bersama,” kata Iwan.
Menurut dia, keberhasilan program pengabdian tidak semestinya hanya dinilai berdasarkan jumlah kegiatan, pelatihan, publikasi ilmiah, maupun peserta yang terlibat. Ukuran utamanya adalah perubahan yang dirasakan masyarakat, mulai dari peningkatan kualitas produk pertanian dan UMKM, penerapan teknologi, hingga penguatan kelembagaan desa.
Iwan menambahkan, reputasi perguruan tinggi tidak cukup ditentukan peringkat, publikasi, dan fasilitas. Kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat juga menjadi ukuran penting. Ketika produktivitas petani meningkat, UMKM berkembang, dan masyarakat semakin sejahtera melalui pemanfaatan teknologi, kampus telah menjalankan fungsi sosialnya.
Sementara itu, Kepala LP2M Unej Prof. Yuli Witono mengungkapkan, program pengabdian kepada masyarakat pada 2026 diikuti 183 pendaftar. Setelah melalui proses kurasi, terpilih 62 desa mitra. Jumlah tersebut diselaraskan dengan Dies Natalis ke-62 Unej. Dari keseluruhan desa mitra, lima desa binaan terbaik dipilih untuk mempresentasikan praktik pendampingan dan hasil pemberdayaan.
Yuli berharap kegiatan tersebut menjadi penghubung antara hasil penelitian perguruan tinggi dan kebutuhan masyarakat. Inovasi yang dihasilkan akademisi diharapkan terus dimanfaatkan meskipun masa pendampingan program telah berakhir.
“Melalui kegiatan itu, kami ingin menjadikan pengabdian masyarakat sebagai jendela untuk mengalirkan hasil penelitian agar menjadi riset yang berdampak nyata. Pembangunan desa tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan memerlukan kolaborasi perguruan tinggi melalui pendampingan ilmu dan inovasi,” katanya.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek Prof. I Ketut Adnyana yang hadir secara daring menilai pendidikan, penelitian, dan pengabdian harus berjalan terintegrasi. Sinergi tersebut diperlukan agar ilmu pengetahuan dan teknologi mampu menjawab persoalan kemiskinan, kesehatan, serta ketimpangan pembangunan daerah.
“Paradigma perguruan tinggi kini bertransformasi dari tower of knowledge menjadi transformative university atau motor perubahan bangsa,” katanya.
Melalui kolaborasi berkelanjutan ini, Unej berharap hasil riset dan inovasi tidak berhenti sebagai produk akademik, tetapi berkembang menjadi solusi yang memperkuat kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat desa.












