Intisari Berita:
NTE KTH Jatim pada Semester I 2026 capai Rp644,03 miliar (45,63% nasional), kembali menempati urutan tertinggi di Indonesia.
Gubernur Khofifah sebut keberhasilan ini sebagai bukti pelestarian lingkungan dan kesejahteraan warga sekitar kawasan hutan dapat berjalan beriringan.
Surabaya, Jatimmandiri.id— Sektor perhutanan sosial di Jawa Timur terus menunjukkan kinerja positif sebagai penopang ekonomi kerakyatan. Pada Semester I 2026, Nilai Transaksi Ekonomi (NTE) Kelompok Tani Hutan (KTH) Jawa Timur menyentuh angka Rp644,03 miliar. Capaian ini kembali menempatkan Jawa Timur di peringkat teratas secara nasional.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan per 30 Juni 2026, capaian NTE KTH Jawa Timur tersebut menyumbang hingga 45,63 persen terhadap total NTE KTH secara nasional. Angka tersebut juga mengalami peningakatan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 yang berada di angka Rp612,63 miliar.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa torehan ini membuktikan pengelolaan hutan berbasis masyarakat efektif mendorong ekonomi warga tanpa mengesampingkan kelestarian alam.
Kolaborasi dan Penggerak Ekonomi Desa
Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa keberhasilan mempertahankan posisi puncak secara nasional merupakan buah dari kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, penyuluh kehutanan, hingga ribuan anggota KTH di lapangan.
“Alhamdulillah, Jatim kembali menjadi kontributor tertinggi nasional untuk Nilai Transaksi Ekonomi Kelompok Tani Hutan. Ini membuktikan bahwa pelestarian hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan melalui penguatan ekonomi berbasis perhutanan sosial,” ujar Khofifah pada Sabtu (25/7/2026).
Berbagai sektor usaha produktif berbasis potensi kawasan hutan terus dikembangkan, meliputi komoditas hasil hutan bukan kayu, agroforestri, tanaman multipurpose, jasa lingkungan, hingga pengelolaan tempat ekowisata.
“Kelompok Tani Hutan hari ini bukan hanya menjadi penjaga kelestarian hutan, tetapi juga motor penggerak ekonomi desa. Inilah wujud nyata bahwa keberlanjutan lingkungan mampu berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” lanjutnya.
5 Daerah Penyumbang NTE KTH Terbesar di Jatim
Pertumbuhan transaksi ekonomi KTH didorong oleh penguatan kapasitas kelembagaan kelompok tani, pendampingan intensif dari penyuluh, serta terbukanya akses pasar.
Hingga akhir Semester I 2026, Kabupaten Trenggalek tercatat menjadi kontributor terbesar bagi NTE KTH di Jawa Timur.
Berikut adalah lima daerah penyumbang NTE KTH tertinggi di Jawa Timur:
-
Kabupaten Trenggalek: Rp211,68 miliar
-
Kabupaten Probolinggo: Rp77,37 miliar
-
Kabupaten Tulungagung: Rp48,73 miliar
-
Kabupaten Blitar: Rp33,97 miliar
-
Kabupaten Tuban: Rp32,61 miliar
Gubernur Khofifah menambahkan, Pemprov Jatim akan terus memperkuat ekosistem ekonomi kehutanan melalui penguatan SDM, hilirisasi produk, digitalisasi pemasaran, hingga perluasan kemitraan usaha.
“Kita ingin nilai tambah produk hasil hutan terus meningkat sehingga manfaat ekonominya semakin besar dirasakan masyarakat. Dengan demikian, menjaga hutan bukan lagi dianggap sebagai beban, tetapi menjadi sumber kesejahteraan bersama,” tegas Khofifah.
Komitmen Pembinaan Berkelanjutan Dinas Kehutanan
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Jumadi, menjelaskan bahwa capaian ini tidak lepas dari optimalisasi pendampingan penyuluh kehutanan serta penguatan kapasitas kelembagaan KTH di tingkat tapak.
“Dinas Kehutanan Jatim akan terus memperkuat kapasitas kelembagaan dan usaha KTH, meningkatkan kualitas pendampingan penyuluh kehutanan, serta memperluas akses pasar produk hasil hutan agar tren pertumbuhan NTE terus terjaga sekaligus memperkuat kontribusi sektor kehutanan terhadap pembangunan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Jumadi.












