Ekbis

Tilapia dan Rumput Laut Indonesia Buka Peluang Investasi Eropa

Penulis: AyundaEditor: Ayn
×

Tilapia dan Rumput Laut Indonesia Buka Peluang Investasi Eropa

Sebarkan artikel ini
Budidaya rumput laut menggunakan tali rentang yang dilakukan petani rumput laut.
Example 468x60

Jakarta, Jatimmandiri — Industri ikan nila atau tilapia dan rumput laut Indonesia berpeluang naik kelas melalui kemitraan dengan investor Eropa. Pemerintah membuka kerja sama dari sektor budi daya hingga pengolahan untuk meningkatkan kualitas bahan baku, memperluas pasar ekspor, dan menghasilkan produk bernilai tambah.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) TB Haeru Rahayu mengatakan, budi daya tilapia telah dikembangkan di Pulau Jawa untuk memenuhi konsumsi dalam negeri sekaligus memasok kebutuhan industri pengolahan.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“Peluang kemitraan yang dapat dibangun mencakup peningkatan mutu benih, efisiensi pakan, kesehatan ikan, serta ketertelusuran produk,” katanya.

Peluang tersebut disampaikan dalam Indonesia–Europe Business Forum (IEBF) 2026 di Tangerang, Banten, Kamis (15/10). Untuk rumput laut, kerja sama diarahkan pada penyediaan bibit berkualitas, mekanisasi budi daya, serta perbaikan pengeringan dan penyimpanan agar mutu bahan baku lebih konsisten.

Potensi ekonomi tilapia terlihat dari kinerja ekspornya. Perwakilan Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI), Andhi Trapsilo, memaparkan nilai ekspor ikan tersebut pada Januari–November 2025 mencapai 87,57 juta dolar AS atau sekitar Rp1,58 triliun.

Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan pangsa 51,7 persen, disusul Kanada 24,7 persen. Sementara itu, ekspor ke Uni Eropa tercatat 7,13 juta dolar AS atau 8,1 persen dari total nilai ekspor yang dipaparkan.

Andhi menyebut harga ekspor tilapia Indonesia mencapai 6,98 dolar AS per kilogram, tertinggi di antara eksportir utama dunia, seperti China, Kolombia, Vietnam, dan Taiwan.

Peningkatan nilai tambah juga dapat dilakukan dengan mengolah hasil samping. Kulit dan sisik ikan berpotensi menjadi bahan baku kolagen dan gelatin, sedangkan bagian lainnya dapat diolah menjadi tepung dan minyak ikan.

Di sektor rumput laut, perwakilan Indonesian Tropical Seaweed Association (INTROSEA), Artati Widarti, menjelaskan pemanfaatannya tidak terbatas pada karaginan dan agar. Komoditas ini juga berpotensi memasok industri pangan, kosmetik, farmasi, bioplastik, serta produk pendukung pertanian dan perikanan.

Baca Juga  BRI KKB Expo 2026 Hadir di Surabaya, Wujudkan Mimpi Punya Kendaraan dengan Bunga Mulai 1,8 Persen

Menurut Artati, kemitraan Indonesia–Eropa dapat mencakup perdagangan produk turunan, penelitian, investasi, dan pengolahan. Pengujian mutu, pemenuhan standar, serta akses pasar menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing rumput laut Indonesia

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

80 Saham HSC Bakal Dikeluarkan dari Indeks Jakarta, Jatim Mandiri Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tidak gentar menghadapi rencana Morgan…