Intisari Berita:
- Gubernur Khofifah meninjau langsung gelaran Pasar Murah ke-118 Pemprov Jatim di Lapangan Brubuh, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.
- Bahan pangan pokok bersubsidi dijual di bawah harga pasar, mulai dari beras SPHP Rp11.000/kg, minyak goreng Rp13.000/liter, hingga daging ayam Rp32.000/kemasan.
- Kebijakan ini dirancang sebagai instrumen pengendalian inflasi, penguatan ketahanan keluarga, dan ruang pemberdayaan bagi pelaku UMKM lokal.
Blitar, Jatimmandiri.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) terus mempertebal bantalan daya beli masyarakat melalui intervensi harga bahan pangan yang berkelanjutan. Konsistensi tersebut ditandai dengan pelaksanaan Pasar Murah yang kini resmi menyentuh angka 118 kali di seluruh penjuru kabupaten dan kota se-Jawa Timur sejak awal tahun 2026.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung meninjau pelaksanaan Pasar Murah ke-118 yang dipusatkan di Lapangan Brubuh, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, pada Sabtu (5/9). Kehadiran pasar pangan bersubsidi ini langsung diserbu ratusan warga setempat yang antusias mendapatkan komoditas pokok berkualitas dengan harga jauh di bawah rata-rata pasar reguler.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa masifnya penyelenggaraan program ini membuktikan komitmen pengendalian stabilitas harga yang tidak bersifat temporer atau sporadis, melainkan sebuah peta jalan sistematis dalam memitigasi gejolak harga pangan.
“Pasar Murah ini bukan sekadar operasi harga. Yang ingin kita jaga adalah daya beli masyarakat. Karena ketika harga kebutuhan pokok dapat dijangkau, maka keluarga memiliki ruang yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan lainnya, seperti pendidikan anak, kesehatan, dan kebutuhan rumah tangga,” kata Khofifah di sela peninjauannya di Lapangan Brubuh.
Menjaga Daya Beli sebagai Fondasi Ketahanan Sosial Ekonomi Keluarga
Menurut Khofifah, intervensi komoditas pangan memiliki dampak berantai yang sangat luas terhadap ketahanan masyarakat. Apabila pengeluaran untuk kebutuhan dasar berhasil ditekan, stabilitas ekonomi rumah tangga tidak akan rentan goyah akibat tekanan inflasi musiman.
“Karena itu, menjaga daya beli sesungguhnya adalah bagian dari menjaga ketahanan keluarga. Jangan sampai kenaikan harga kebutuhan pokok membuat ruang keluarga untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, maupun kebutuhan produktif menjadi semakin sempit,” ujarnya.
Mantan Menteri Sosial tersebut memaparkan bahwa negara harus hadir melalui langkah antisipatif yang kokoh. Proteksi kepada masyarakat dibangun melalui sinergi jaminan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi logistik, dan transparansi harga.
“Pemerintah harus hadir untuk memastikan pasokan tersedia, distribusi berjalan dan harga tetap terjangkau. Jadi yang kita bangun bukan hanya respons ketika harga naik, tetapi sistem yang membuat masyarakat lebih terlindungi dari gejolak harga,” imbuh Khofifah.
Daftar Harga Komoditas Bersubsidi di Lapangan Brubuh Sutojayan
Dalam pasar murah kali ini, seluruh komoditas primer dihadirkan dengan harga khusus berkat skema subsidi logistik yang dikucurkan langsung oleh Pemprov Jatim.
“Upaya kita melakukan penjangkauan terhadap supply logistik di berbagai daerah. Hari ini sudah ke-118. Harapan kita, semua penjangkauan ini bisa membantu memfasilitasi pemenuhan kebutuhan logistik masyarakat. Di Pasar Murah ini yang dijual adalah sembako yang harganya di bawah standar harga pasar, karena memang ada subsidi dari Pemprov yang diharapkan bisa menguatkan penjangkauan masyarakat, lalu stabilisasi harga dan stabilisasi inflasi di berbagai daerah,” bebernya.
Daftar Rincian Harga Sembako:
- Beras Medium SPHP: Rp11.000 per kilogram
- Beras Premium: Rp14.000 per kilogram
- Minyak Goreng: Rp13.000 per liter
- Gula Pasir: Rp14.000 per kilogram
- Tepung Terigu: Rp10.000 per kilogram
- Telur Ayam Ras: Rp20.000 per kemasan
- Daging Ayam Ras: Rp32.000 per kemasan
- Bawang Putih: Rp6.000 per 250 gram
- Bawang Merah: Rp6.000 per 250 gram
- Paket Cabai: Rp5.000 per 200 gram
“Yang kita hadirkan adalah komoditas yang memang dibutuhkan masyarakat sehari-hari. Harapannya, masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih ringan sehingga pengeluaran rumah tangga dapat lebih terjaga,” papar Khofifah.
Sinergi Komplementer Provinsi-Kabupaten dan Efektivitas Pengendalian Inflasi
Khofifah menggarisbawahi bahwa strategi Pemprov Jatim dirancang bukan untuk menyaingi program lokal, melainkan memperkuat dan mengisi ruang kebutuhan yang belum terjangkau oleh pemerintah kabupaten maupun kota.
“Yang kita lakukan sebenarnya substitusi dari apa yang telah dilakukan oleh bupati dan wali kota, jadi saling komplementaritas. Artinya, apa yang dilakukan provinsi dan kabupaten/kota bisa saling melengkapi dalam menjaga keterjangkauan pangan dan stabilisasi harga,” terang Khofifah.
Capaian titik ke-118 ini menjadi cerminan bahwa kebijakan stabilisasi harga terus digulirkan merata ke wilayah pedesaan dan daerah, tidak terkonsentrasi di kawasan perkotaan saja.
“Titik ke-118 kali ini menunjukkan bahwa ikhtiar menjaga keterjangkauan pangan terus kita lakukan dan kita perluas. Ini adalah bentuk komitmen agar manfaat kebijakan pemerintah dapat dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Jawa Timur,” ungkapnya.
Gandeng UMKM Lokal: Konsumsi Terjaga, Usaha Daerah Berdaya
Di samping mendistribusikan bahan pangan murah, agenda Pasar Murah di Blitar ini juga difungsikan sebagai panggung pemberdayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat. Stan produk lokal dirangkul untuk memperkenalkan olahan dan kerajinan mereka langsung ke tengah kerumunan masyarakat.
“Pasar Murah kita harapkan tidak hanya membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menggerakkan ekonomi masyarakat. Karena itu, UMKM di daerah juga kita beri ruang untuk tumbuh, memperluas pasar, dan semakin dikenal oleh masyarakat,” tutur Khofifah.
Melalui integrasi dua arah ini, mata rantai ekonomi terjalin harmonis: warga memperoleh sembako hemat, sementara omzet dan pangsa pasar pelaku usaha mikro ikut terangkat.
“Jadi ada dua sisi yang kita dorong secara bersamaan, yaitu daya beli masyarakat tetap terjaga dan pelaku UMKM semakin berdaya. Inilah semangat ekonomi yang ingin terus kita bangun di Jawa Timur, ekonomi yang tumbuh dengan melibatkan dan memberdayakan masyarakat,” tutup Khofifah.












