Malang, Jatim Mandiri
Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang yang meluas hingga sekitar 15,5 hektare bisa jadi pertimbangan tersendiri atas kans Kota Malang dalam penilaian Adipura 2026. Memasuki hari kelima pada Senin (26/10), tim gabungan terus memadamkan api dan mendinginkan tumpukan sampah, sementara tim penilai Adipura berencana meninjau kondisi lokasi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran, mengatakan tim penilai sebelumnya telah melakukan asesmen di Kota Malang sebelum melanjutkan kunjungan ke Kota Batu.
“Tim Adipura itu selesai penilaian, lalu ketika posisi di Kota Batu akhirnya terjadi kebakaran di TPA Supit Urang. Jadi kami sangat menyesalkan itu, cuma tim rencananya akan meninjau lokasi. Masalah penilaian kami serahkan ke mereka karena ini di luar batas kemampuan kami,” ujarnya seperti dikutip Ketik.com.
Raymond menjelaskan, bobot penilaian TPA Supit Urang mencapai 15 persen. Namun, pihaknya belum dapat memastikan dampak kebakaran terhadap hasil penilaian karena keputusan berada di tangan tim penilai.
“Poin TPA Supit Urang itu terbesar sampai 15 persen, kalau yang lain dari 20 item penilaian, nilai rata-rata 1 sampai 3 persen. Kami belum tahu dampaknya seperti apa,” tuturnya.
Di sisi lain, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menjelaskan, pemadaman terkendala bara di dalam tumpukan sampah. Petugas harus mengurai sampah agar air menjangkau titik panas, kemudian melakukan penyiraman dan pendinginan berulang.
Helikopter PK-DBM juga dikerahkan untuk water bombing. Hingga Minggu petang, tercatat 21 kali pengeboman air dengan total 21.000 liter. DLH berharap penanganan segera tuntas melalui kolaborasi Damkar, BPBD, relawan, dan instansi terkait. “Mudah-mudahan penanganan kami bisa cepat sehingga masih poin plus dalam penanganan kebakaran. Satu lagi yang kami harapkan, turun hujan,” kata Raymond. (*/ibn)












