Jakarta, Jatim Mandiri
Untuk pertama kalinya, Indonesia mulai mengalirkan sebagian gas alam dari Laut Natuna untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri setelah selama ini seluruh alirannya ditujukan ke Singapura. Perubahan ini terjadi di tengah sorotan atas pengurangan alokasi ekspor gas dan pernyataan sejumlah pihak Singapura mengenai ketergantungan energi serta konektivitas digital.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut pengaliran gas ke Indonesia sebagai momentum bersejarah. “Alhamdulillah, untuk Pertama kalinya sejak Indonesia Merdeka, gas alam dari Laut Natuna yang selama ini 100% mengalir ke Singapura, tadi pagi dini hari akhirnya mengalir kepangkuan Ibu Pertiwi, Jaya Indonesiaku Merdeka!!” ujar Djoko, Rabu (28/10).
Namun, ia belum merinci volume gas yang dialirkan ke dalam negeri. Djoko menyebut upaya tersebut sebelumnya menghadapi berbagai hambatan, seiring pengurangan alokasi ekspor gas ke Singapura.
Pengusaha Singapura Patrick Liew, dalam surat terbuka di Facebook, Selasa (27/10), bahkan mengungkit bantuan Singapura pada Indonesia selama pandemi Covid-19, termasuk dukungan medis, peralatan, vaksin, dan koordinasi keuangan.
Meski mengkritik kebijakan pengurangan ekspor gas alam ke negaranya, Patrick menegaskan Singapura tetap ingin menjaga hubungan bertetangga yang baik dan kerja sama konstruktif dengan Indonesia.
Bukan hanya Patrick, mantan anggota parlemen Singapura Calvin Cheng Ern Lee bahkan membuka kemungkinan pemutusan akses internet Indonesia. Hal ini tak lepas dari klaim besarnya ketergantungan internet Indonesia terhadap Singapura yang diunggahnya dalam infografis di akun media sosial X @calvinelcheng milik Calvin Cheng pada Minggu (25/10).
Infografis berjudul “Indonesia’s Internet Dependence on Singapore” (Internet Indonesia Bergantung Singapura) itu mengklaim sekitar 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia terhubung melalui Singapura. Ini termasuk pusat data, layanan komputasi awan (cloud), hingga kabel bawah laut menjadikan Singapura sebagai gerbang utama konektivitas global bagi Indonesia.
Menyertai infografis itu, Calvin juga melontarkan pertanyaan singkat berbunyi, “Cut?” atau “Potong?”. Meski demikian, ia kemudian mengklarifikasi bahwa negaranya tidak akan mengambil langkah pemutusan jaringan tersebut. “Kami adalah orang-orang beradab yang taat hukum. Tentu saja kami tidak akan melakukan hal ini,” tulis Calvin dalam unggahannya.
Atas hal itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan sebagian besar jalur Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang mendarat di Singapura melewati perairan Indonesia. Artinya, jika terjadi gangguan pada jalur itu juga berpotensi berdampak besar terhadap konektivitas Singapura.
“Penduduk Indonesia jumlahnya 47 kali lipat dari Singapura. 267 juta masyarakat terhubung ke internet. Tanpa angka ini, investor perusahaan teknologi global berpotensi angkat kaki dari Singapura,” katanya. Meutya juga menegaskan infrastruktur digital perlu dijaga bersama demi konektivitas global. (*/ibn)












