Kota Besar

Siswa SDN Tenggilis Mejoyo I Surabaya Ciptakan Aplikasi Penerjemah Bahasa Isyarat Berbasis AI, Juara Impact Fest 2026

×

Siswa SDN Tenggilis Mejoyo I Surabaya Ciptakan Aplikasi Penerjemah Bahasa Isyarat Berbasis AI, Juara Impact Fest 2026

Sebarkan artikel ini
Lima siswa SDN Tenggilis Mejoyo I Surabaya menciptakan aplikasi penerjemah bahasa isyarat berbasis AI bernama Sign Language Translator dan meraih Juara 1 Young Innovators di Impact Fest 2026.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id – Kreativitas pelajar Kota Surabaya kembali menorehkan prestasi membanggakan. Lima siswa SDN Tenggilis Mejoyo I yang tergabung dalam Tim Nebula One berhasil mengembangkan aplikasi pembelajaran bahasa isyarat berbasis Artificial Intelligence (AI) bernama Sign Language Translator.

Inovasi tersebut mengantarkan mereka meraih Juara 1 Kategori Young Innovators pada ajang Impact Fest 2026.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Tim Nebula One beranggotakan siswa kelas V dan VI, yakni Arjun, Shaka, Aghna, Siraj, dan Shauqi.

Di bawah pendampingan guru, mereka memanfaatkan platform Pictoblocks dan teknologi machine learning untuk menciptakan aplikasi yang bertujuan mempermudah masyarakat mempelajari bahasa isyarat.

Salah satu anggota tim, Shauqi, menjelaskan bahwa ide pembuatan aplikasi muncul setelah mereka melihat masih banyak masyarakat yang mengalami kesulitan berkomunikasi dengan penyandang disabilitas sensorik, khususnya tunarungu dan tunawicara.

“Aplikasi ini memuat materi pembelajaran Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) dan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia). Harapan kami, masyarakat dapat lebih mudah memahami dan mempelajari bahasa isyarat,” ujar Shauqi, Jumat (31/7/2026).

Pengembangan aplikasi berbasis teknologi hand pose detection tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima bulan. Selama proses tersebut, para siswa melakukan riset sederhana, mempelajari dasar-dasar pemrograman, hingga menyempurnakan sistem melalui proses debugging ketika muncul kendala penerjemahan gerakan atau translation error.

Saat ini, Sign Language Translator masih berada pada tahap prototipe. Tim Nebula One berencana mengembangkan berbagai fitur baru agar aplikasi semakin bermanfaat bagi masyarakat.

Beberapa fitur yang tengah disiapkan antara lain Sign to Text (isyarat ke teks), Text to Sign (teks ke isyarat), serta Voice to Sign (suara ke isyarat).

“Kami berharap aplikasi ini nantinya dapat diakses masyarakat luas sehingga mampu mengurangi hambatan komunikasi dengan teman-teman penyandang disabilitas,” ungkap para siswa.

Baca Juga  Aksi Ugal-ugalan Suroboyo Bus di Jalan Prapen Viral, Warga Sebut Nyaris Tersenggol

Tak hanya berinovasi, mereka juga mengajak pelajar lain untuk berani menuangkan ide kreatif di bidang teknologi.

“Jangan takut salah. Kalau punya ide, segera wujudkan. Bermain ponsel tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga bisa dimanfaatkan mencari inspirasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” pesan mereka.

Keberhasilan Tim Nebula One tidak terlepas dari dukungan Kepala SDN Tenggilis Mejoyo I, Siti Noor Iffa, bersama dua guru pendamping, yakni Ika Khusniyawati, Guru Kelas V, dan Arizkylia Yoka Putri, Guru Kelas III.

Siti Noor Iffa mengatakan, sekolah selalu memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi melalui berbagai kegiatan pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas.

“Alhamdulillah, selama ini kolaborasi antara sekolah dan orang tua berjalan sangat baik dalam mendukung perkembangan dan prestasi anak-anak,” tuturnya.

Sementara itu, Ika Khusniyawati menjelaskan bahwa pemilihan tema inovasi dilatarbelakangi semangat menghadirkan solusi bagi isu inklusivitas yang kini menjadi perhatian dunia pendidikan.

Menurutnya, para siswa diajak melakukan riset literatur sederhana sebelum menentukan konsep aplikasi penerjemah bahasa isyarat berbasis AI tersebut.

“Kami berdiskusi mengenai isu keberlanjutan dan inklusivitas. Dari proses itu, anak-anak belajar mencari referensi hingga akhirnya memutuskan membuat aplikasi penerjemah bahasa isyarat,” jelas Ika.

Ia mengakui, mendampingi siswa sekolah dasar mempelajari pemrograman memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga fokus dan konsistensi belajar. Namun, rasa ingin tahu yang tinggi serta kemampuan berpikir kritis para siswa menjadi modal penting dalam proses pengembangan aplikasi.

“Semua membutuhkan proses. Tidak ada hasil yang instan. Tugas kami sebagai pendamping adalah terus mendukung dan membimbing. Nilai akademik memang penting, tetapi keberanian anak untuk berkarya, berinovasi, dan mengembangkan bakat merupakan bekal yang sangat berharga bagi masa depan mereka,” pungkasnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *