Jatim

Sanggar Nareswari Latih Anak Berkebutuhan Khusus Membuat Topeng Malangan Bernilai Ekonomi

×

Sanggar Nareswari Latih Anak Berkebutuhan Khusus Membuat Topeng Malangan Bernilai Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Sanggar Budaya Anak Nareswari menggelar pelatihan membuat topeng malangan bagi 15 anak berkebutuhan khusus.
Example 468x60

Malang, Jatimmandiri.id, –  Sabtu, 27 Juni 2026, Sanggar Budaya Anak Nareswari menggelar pelatihan membuat topeng malangan bagi 15 anak berkebutuhan khusus.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini dipusatkan di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, Jalan Kyai Parseh Jaya No. 29, Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Bukan karya yang selesai di hari itu yang menjadi ukurannya. Yang diukur adalah apakah, kelak, anak-anak ini bisa membuat topeng sendiri di rumah—dan menjualnya.

Nilai keberlanjutan inilah yang mendasari setiap langkah dalam program pelatihan kebudayaan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Tujuannya bukan sekadar mengisi pagi yang lengang dengan aktivitas seni biasa.

Lebih dari itu, tujuan besar yang ingin dicapai melalui program padat karya ini adalah kemandirian ekonomi dan sosial bagi para peserta di masa depan.

Lima belas peserta yang hadir terdiri dari sebelas anak anggota Sanggar Nareswari dan empat anak dari Kelurahan Bumiayu.

Semua anak yang memiliki latar belakang Down syndrome dan tunagrahita ini duduk bersama orang tua mereka selama tiga jam, antusias menjadi seniman sehari

Menyesuaikan Tradisi dengan Metode Ramah Motorik

Mereka belajar dengan tekun mengenai cara menuangkan cairan resin ke dalam cetakan topeng malangan. Seluruh proses pembuatan ini dilakukan dengan bimbingan dan arahan langsung dari pelatih berpengalaman, Ndaru Lazarus.

Sebelum cairan resin dituangkan ke dalam cetakan, setiap anak diwajibkan memakaikan sarung plastik ke kedua tangan mereka.

Langkah ini dirancang khusus oleh pelatih sebagai prosedur keamanan utama agar kulit anak-anak tetap terlindungi selama beraktivitas.

Ndaru membangun metode pembelajaran ini benar-benar dari dasar agar ramah bagi kapasitas motorik anak.

Pendekatannya meliputi pengenalan bentuk topeng malangan yang bertahap, prosedur resin yang aman, serta pelibatan aktif orang tua sebagai jembatan komunikasi dan instruksi.

Baca Juga  Polres Probolinggo Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Pererat Silaturahmi dengan Mahasiswa dan Ojol

Setiap langkah dalam pelatihan ini dipikirkan secara matang agar polanya bisa diulang dengan mudah oleh anak-anak.

Dengan begitu, keterampilan ini tidak berhenti di tempat pelatihan, melainkan bisa dipraktikkan kembali di sanggar, di rumah, atau di mana pun mereka berada.

Pelatihan membuat topeng Malangan.

“Kami ingin memberikan keterampilan yang punya nilai jual, sehingga bisa dipraktikkan secara mandiri di rumah,” ujar Brelliane Semesta Pratiwi, panitia kegiatan sekaligus mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

Brelliane juga menambahkan bahwa pendampingan orang tua di rumah akan menjadi kunci utama keberhasilan jangka panjang program ini.

“Kami membekali mereka dengan metode yang ringkas agar orang tua bisa dengan mudah mengarahkan anak-anaknya memproduksi topeng ini sebagai unit usaha rumahan yang menjanjikan,” tuturnya saat diwawancarai di sela-sela acara.

Hasil karya para peserta yang dicetak hari itu nantinya tidak akan disimpan begitu saja.

Karya-karya tersebut dijadwalkan akan dipamerkan di beberapa tempat strategis, seperti Hotel Mercure, Pasar Seni Bareng, dan Taman Krida Budaya Jawa Timur.

Peserta dari Sanggar Nareswari yang mengikuti kegiatan ini adalah Jesika Ramadhani Sakka,

Muhammad Faza Aulia Rahadiyanto, Jordy Arnold Emanuelle Permadi Eoh, Aryasatya Andy Pratama, Agam Baharuddin Syaputra, Dzaky Althaf Wijaya, Aldhi Kurniawan, Dwi Nur Alif Setyawan, Jonathan Heber Bravo, Aline Kirana Salma Asheva, dan Marcel Putra Pamungkas. Sedangkan dari Kelurahan Bumiayu adalah Choirul Rozikin, Intan Ade Reza, Dyan Afriananda Sutopo, dan Pungky Chandra Dwi Fransisca.

Tiga Fase Terstruktur Menuju Panggung Festival

Program pemberdayaan ini sendiri dibangun dalam tiga fase terstruktur yang saling menopang satu sama lain.

Fase pertama, berupa pelatihan batik sampur ramah difabel, telah selesai dilaksanakan pada bulan Mei 2026 yang lalu.

Baca Juga  Polresta Malang Kota Amankan Komplotan Begal Motor Mahasiswa

Fase kedua, yaitu pembuatan topeng menggunakan resin, berlangsung sepanjang bulan Juni ini. Sementara itu, fase ketiga yang berfokus pada proses mewarnai topeng yang telah dicetak, dijadwalkan akan berjalan pada bulan Juli 2026 mendatang.

Semangat untuk berkarya patut diapresiasi.

Ketiga rangkaian program berkelanjutan tersebut nantinya akan bermuara pada gelaran Festival Sendratasik Topeng Malangan, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Festival ini akan dimeriahkan dengan parade tari, pertunjukan seni drama tari musik, serta bazar UMKM sebagai ruang pertama bagi karya mereka untuk bertemu langsung dengan publik luas.

Seluruh program ini dapat terwujud berkat dukungan Dana Abadi Kebudayaan 2025 untuk kategori dukungan institusional lembaga kebudayaan.

Selain itu, program ini juga didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Kementerian Perhubungan, LPDP, dan Dana Indonesiaraya.

Sanggar Budaya Anak Nareswari yang berdiri sejak tahun 2017 kini menaungi 50 anggota aktif dan telah berkolaborasi dengan 27 lembaga pendamping anak berkebutuhan khusus (ABK) se-Malang Raya.

Melalui seni topeng malangan, sanggar ini terus berupaya memperluas ruang inklusivitas agar setiap anak memiliki hak yang sama untuk berekspresi, berkarya, dan berdiri di atas kaki sendiri.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *